Pengetahuan, Ilmu dan Berpikir
2008 Juni 18
“Satu-satunya yang aku tahu–aku tak tahu apa-apa…” (Socrates)
Apa itu tahu & pengetahuan?
Aliran-aliran filsafat bermunculan diakibatkan oleh perbedaan pendapat dalam menjawab pertanyaan diatas. Pertanyaan sederhana mengenai “apa itu pengetahuan?” ternyata mengandung banyak implikasi permasalahan di dalamnya. Tidak hanya mengenai pengetahuan itu saja tapi juga mengenai pandangan tentang realitas, semesta, dunia, manusia, juga tentang nilai-nilai dan hal-hal yang sifatnya normatif.
Apakah artinya bila “saya mengetahui sesuatu”? apabila “a knowing subject” knows “a known object.” Salah satu masalah yang menumbuhkan perbedaan pendapat antar aliran filsafat adalah kesukaran-kesukaran untuk menjelaskan bagaimanakah proses pengetahuan sebagai persatuan antara subjek dan objek, terutama bagaimana proses tersebut terjadi dalam diri subjek. Dengan kata lain, bagaimana proses material-imaterial itu terjadi dalam diri subjek, dalam hal ini manusia dengan karakter rasional-inderawinya.
Yang kita bahas disini tentu saja adalah pengetahuan dalam pola dasarnya, pengetahuan yang sifatnya immediate dimana hubungan subjek-objeknya bersifat “one act of direct knowledge”. Ini perlu ditegaskan karena ada jenis pengetahuan yang lain dan pengetahuan pun sifatnya majemuk. Ada pengetahuan refleksif, a priori, a posteriori, inderawi, intuisi, abstraksi dsb. dan kita tidak akan membicarakan itu.
Pengetahuan, sebagaimana dikatakan A.M.W. Pranarka, melibatkan aktifitas dari pihak subjek maupun dari pihak objek. Proses pengetahuan terjadi karena subjek memiliki daya untuk mengetahui (daya inderawi / intelektual) sementara objek dalam dirinya juga memiliki daya untuk dirasa dan dimengerti (sensibilitas dan intelligibilitas). Pengetahuan adalah suatu kegiatan yang sifatnya mengembangkan, menambah kesempurnaan. Dengan pengetahuan, subjek yang tadinya tidak mengetahui menjadi mengetahui; objek yang tadinya tidak diketahui menjadi diketahui.
Manusia tidak mengetahui secara total segala sesuatu melainkan secara setapak, secara sepotong. Pengetahuan manusia bersifat diskursif, relasional, berjalan melalui pola analisa-sintesa, membedakan-menyatukan, baik dalam pengetahuan yang sifatnya sederhana maupun dalam pengetahuan yang sifatnya kompleks. Pengetahuan manusia itu sifatnya terbatas, tidak sempurna, dan karena itu tumbuh dan berkembang.
Kebenaran
Melalui pengetahuan manusia berusaha mendapatkan kebenaran. Soal ini pun sama rumit dan kompleksnya dengan pengetahuan. Dan aliran-aliran filsafat boleh berbeda-beda pendapat tentangnya.
Yang kita bicarakan disini adalah kebenaran epistemologikal, kebenaran dalam hubungannya dengan pengetahuan manusia. Ini perlu ditegaskan dan dibedakan dari kebenaran ontologikal (kebenaran sebagai sifat dasar yang melekat pada segala sesuatu yang ada atau diadakan), dan kebenaran semantikal (kebenaran yang melekat dalam tutur kata dan bahasa).
Dalam arti apakah dan sejauh manakan pengetahuan itu dapat dikatakan benar?
Pengetahuan adalah kemanunggalan antara subjek dan objek. Maka pengetahuan itu dikatakan benar apabila di dalam kemanunggalan–yang sifatnya intrinsik, intensional, pasif-aktif–itu terdapat kesesuaian antara apa yang ada di dalam pengetahuan subjek dan apa yang dalam kenyataannya ada terdapat dalam objek.
Karena puncak dari proses kognitif manusia itu adalah budi pikirannya (intelek) maka pengetahuan adalah benar apabila apa yang terdapat dalam budi pikiran itu sesuai dengan apa yang ada di dalam objek.
Yang dimaksud puncak proses kognitif intelektual manusia yang purna adalah sebuah pernyataan putusan (ada S, P dsb.), dan yang dimaksud apa yang ada di dalam objek adalah esensi, “the what” dari objek. Baik objek konkret (yang memang punya kenyataan ontologikal), maupun objek abstrak (kenyataan karena konstruksi mental manusia).
Karena itu kebenaran terjadi apabila terdapat kesesuaian yang serasi (conformity) antara “apa yang dinyatakan oleh subjek melalui proses kognitif intelektual” dan “keadaan yang senyatanya dari objek yang memiliki alteritas independen dari subjek.”
Kita sudah mendekati pada persoalan berpikir. Kita akan membahasnya nanti tapi sebelum itu kita mampir sebentar untuk membedakan pengetahuan dengan ilmu.
Ilmu & Metode Ilmiah
Tidak semua pengetahuan dapat disebut ilmu. Ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu pengetahuan dapat disebut ilmu tercantum dalam apa yang dinamakan dengan metode ilmiah.
Metode, menurut Senn, merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu, yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis. Metodologi merupakan suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan dalam metode tersebut. Jadi metodologi ilmiah merupakan pengkajian dari peraturan-peraturan yang terdapat dalam metode ilmiah.
Ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah. Sebaliknya Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Metode ilmiah merupakan ekspresi mengenai cara bekerja pikiran. Dengan cara bekerja ini maka pengetahuan yang dihasilkan diharapkan mempunyai karakteristik-karakteristik tertentu yang diminta oleh pengetahuan ilmiah, yaitu sifat rasional dan teruji yang memungkinkan tubuh pengetahuan yang disusunnya merupakan pengetahuan yang dapat diandalkan.
Berpikir dan asas-asanya
Berpikir sebagaimana dikatakan Jujun Suriasumanti adalah kegiatan mental yang menghasilkan pengetahuan. Setiap proses pemikiran atau penalaran niscaya mentaati hukum-hukum berfikir. Berfikir yang baik adalah berfikir logis dialektis, artinya bukan hanya mengindahkan kebenaran bentuk atau hukum-hukum dan prinsip pikiran, tetapi juga mengindahkan kebenaran materi/isi pemikiran beserta kriterianya. Penalaran yang baik mensyaratkan paling tidak beberapa kondisi berikut ini:
1. Titik pangkal penalaran/pemikiran harus benar/berpangkal dari kenyataan atau kepastian obyektif (fakta demikian)
2. Alasan-alasan harus tepat dan kuat (cukup alasan)
3. Jalan fikiran harus logis / lurus (sah)
Berfikir yang baik tidak hanya menyangkut kebenaran formal akan tetapi juga kebenaran material. Hukum-hukum berfikir dirumuskan dalam Logika (Mantiq). Jadi logika berkaitan dengan validitas penalaran (kebenaran formal/sesuai dengan persyaratan formal proposisi). Sementara masalah kebenaran materi/isi pikiran dan kriterianya atau yang berkaitan dengan kebenaran dan ketidakbenaran faktual dari suatu proposisi/suatu ungkapan atau kesimpulan dicari pada masing-masing bidang serta epistemologinya atau bahkan aspek metafisik moralnya. Oleh karena itu kelurusan pikiran (kebenaran formal) niscaya dibarengi kebenaran materi pikiran (kebenaran material), sehingga proses penalaran tidak hanya Logis, tetapi juga Dialektis.
Selanjutnya untuk menilai validitas pemikiran / menentukan aturan-aturan pemikiran yang tepat, logika menganalisis unsur-unsur pemikiran manusia sebagai berikut:
1. Mengerti kenyataan. Kegiatan ini disebut membentuk pengertian (Tashawwur)
2. Menyatakan hubungan yang ada antara pengertian-pengertian yang telah ditangkap, atau disebut Putusan (Tashdiq)
3. Kesimpulan, kegiatan penyimpulan/penalaran/pemikiran adalah suatu penjelasan yang menunjukan kaitan/hubungan antara dua hal atau lebih yang atas dasar alasan tertentu dan dengan langkah-langkah tertentu sampai pada suatu kesimpulan.
Untuk menganalisa jalan pikiran maka hal-hal yang tidak eksplisit dikemukakan (hanya secara implisit terkandung) atau implikasi di dalam suatu pemikiran/pernyataan/proposisi sering kali perlu dieksplisitkan, artinya dirumuskan secara terurai dan lengkap. Sebagai alat bantu untuk menganalisa atau menguji pemikiran/pernyataan/proposisi tersebut, maka berguna sekali menyusun jalan pikirannya (langkah-langkahnya dan hubungan-hubungannya) dalam bentuk skema, sehingga kelihatan dengan jelas mana yang merupakan kesimpulan, mana yang alasan, serta bagaimana orang dari alasan-alasan tertentu menarik kesimpulan.
Untuk menganalisa dengan lebih teliti perlu dikemukakan pertanyaan: Apakah kesimpulan tersebut benar? Apakah pasti?, Kalau tidak, mengapa?, Apakah titik pangkalnya tepat?, apakah alasannya cukup kuat? Apakah jalan pikirannya logis?
Beberapa Kesalahan Logis:
Untuk berpikir dengan baik, kita perlu mengenali kesalahan-kesalahan yang sering terjadi dalam berpikir untuk kemudian kita hindari:
1. Generalisasi tergesa-gesa, “Penyelesaian kasus-kasus korupsi yang terjadi akhir-akhir ini sarat dengan nuansa politis”.
2. Analogi Palsu, Perbandingan yang mencoba membuat suatu gagasan terlihat benar dengan cara membandingkan dengan gagasan lain yang sesungguhnya tidak mempunyai hubungan dengan gagasan yang pertama. “Membuat istri bahagia adalah seperti membuat kucing kesayangan menjadi bahagia. Belai kepalanya sesering mungkin, dan beri makanan yang ia sukai sebanyak muingkin”.
3. Petitio Principii/Penalaran melingkar, Bilamana si penalar meletakkan kesimpulannya ke dalam premis/alasannya, kemudian memakai premis tersebut untuk membuktikan kesimpulannya, jadi kesimpulan dan premisnya sama (begging the question). “Manusia merdeka karena ia bertanggung jawab, dan ia bertanggung jawab karena ia merdeka”.
4. Deduksi cacat. Manakala si penalar memakai premis yang cacat di dalam menarik kesimpulan deduktif. “Dia berambut gondrong, dia pasti orang jahat”.
5. Pikiran simplisit. Si penalar terlalu menyederhanakan masalah. Masalah yang komplek (berseluk-beluk) disederhanakan menjadi dua kutub yang berlawanan (pikiran polarisasi), atau dirumuskan menjadi hanya dua segi / dua pilihan / baik-buruk/hitam-putih/benar-salah. “Kamu orang fundamental atau liberal?”
6. Argumen ad Hominem. Si penalar tidak memperhatikan masalahnya/alasan penalaran akan tetapi didasarkan pada kepentingan atau keadaan orang yang mengusulkannya atau dalam mengkritik ia menyerang kelemahan orangnya, “Dia itu orangnya sudah jelek homoseks pula, saya tidak setuju pendapatnya.”
7. Argumen ad Populum. Lebih mengutamakan menggugah perasaan, membangkitkan/membakar emosi pendengar untuk menerima konklusi tertentu, contoh: kampanye-kampanye /propaganda politik, Demonstrasi. “Khilafah adalah solusi satu-satunya. Mari tegakkan khilafah!”
8. Kewibawaan Palsu, Argumen didasarkan pada kewibawaan, kedapat dipercayaan, keahlian. “Menurut profesor di Barat, bakwan berpengaruh jelek terhadap fungsi empedu.”
9. Argumen ad ignorantian, Penalaran yang menyimpulkan suatu konklusi berdasarkan bahwa negasinya tidak terbukti salah atau sebaliknya. “Makhluk halus itu tidak ada sebab kita tidak pernah melihatnya”.
10. Kesesatan non Causa pro causa, Kesalahan karena menganggap sesuatu sebagai sebab padahal bukan sebab yang sebenarnya atau bukan sebab yang lengkap. “Setelah SBY terpilih jadi presiden, Indonesia banyak dirundung bencana.”
Suriasumanti, Jujun S, Filsafat Ilmu, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2002.
Pranarka, A.M.W., Epistemologi Dasar: Suatu Pengantar, Jakarta: CSIS, 1987.
Poespoprodjo, Logika
Poespoprodjo, Logika Scientifika
Alex Lanur, Logika
from → Filsafat
2 Responses leave one →
1.
2008 Juni 29
izma permalink
ass…
hamdallah,,akhirnya…
sangat tertarik dgn yg ente tulis ing..
coz sm2 suka filsafat..
dasar berfikir adalah logika
dasar logika adalah berfikir
dialektika atau probabilitas dalam berfikir itu seperti apa?? apalagi dalam mengambil keputusan yg sulit?? bahkan kita sering menemui kejanggalan yang kita tdk tahu…
mudah-mudahan menjadi reference of my mind =)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar