29 Mei 2009
16 Mei 2009
Pengetahuan, Ilmu dan Berpikir
2008 Juni 18
“Satu-satunya yang aku tahu–aku tak tahu apa-apa…” (Socrates)
Apa itu tahu & pengetahuan?
Aliran-aliran filsafat bermunculan diakibatkan oleh perbedaan pendapat dalam menjawab pertanyaan diatas. Pertanyaan sederhana mengenai “apa itu pengetahuan?” ternyata mengandung banyak implikasi permasalahan di dalamnya. Tidak hanya mengenai pengetahuan itu saja tapi juga mengenai pandangan tentang realitas, semesta, dunia, manusia, juga tentang nilai-nilai dan hal-hal yang sifatnya normatif.
Apakah artinya bila “saya mengetahui sesuatu”? apabila “a knowing subject” knows “a known object.” Salah satu masalah yang menumbuhkan perbedaan pendapat antar aliran filsafat adalah kesukaran-kesukaran untuk menjelaskan bagaimanakah proses pengetahuan sebagai persatuan antara subjek dan objek, terutama bagaimana proses tersebut terjadi dalam diri subjek. Dengan kata lain, bagaimana proses material-imaterial itu terjadi dalam diri subjek, dalam hal ini manusia dengan karakter rasional-inderawinya.
Yang kita bahas disini tentu saja adalah pengetahuan dalam pola dasarnya, pengetahuan yang sifatnya immediate dimana hubungan subjek-objeknya bersifat “one act of direct knowledge”. Ini perlu ditegaskan karena ada jenis pengetahuan yang lain dan pengetahuan pun sifatnya majemuk. Ada pengetahuan refleksif, a priori, a posteriori, inderawi, intuisi, abstraksi dsb. dan kita tidak akan membicarakan itu.
Pengetahuan, sebagaimana dikatakan A.M.W. Pranarka, melibatkan aktifitas dari pihak subjek maupun dari pihak objek. Proses pengetahuan terjadi karena subjek memiliki daya untuk mengetahui (daya inderawi / intelektual) sementara objek dalam dirinya juga memiliki daya untuk dirasa dan dimengerti (sensibilitas dan intelligibilitas). Pengetahuan adalah suatu kegiatan yang sifatnya mengembangkan, menambah kesempurnaan. Dengan pengetahuan, subjek yang tadinya tidak mengetahui menjadi mengetahui; objek yang tadinya tidak diketahui menjadi diketahui.
Manusia tidak mengetahui secara total segala sesuatu melainkan secara setapak, secara sepotong. Pengetahuan manusia bersifat diskursif, relasional, berjalan melalui pola analisa-sintesa, membedakan-menyatukan, baik dalam pengetahuan yang sifatnya sederhana maupun dalam pengetahuan yang sifatnya kompleks. Pengetahuan manusia itu sifatnya terbatas, tidak sempurna, dan karena itu tumbuh dan berkembang.
Kebenaran
Melalui pengetahuan manusia berusaha mendapatkan kebenaran. Soal ini pun sama rumit dan kompleksnya dengan pengetahuan. Dan aliran-aliran filsafat boleh berbeda-beda pendapat tentangnya.
Yang kita bicarakan disini adalah kebenaran epistemologikal, kebenaran dalam hubungannya dengan pengetahuan manusia. Ini perlu ditegaskan dan dibedakan dari kebenaran ontologikal (kebenaran sebagai sifat dasar yang melekat pada segala sesuatu yang ada atau diadakan), dan kebenaran semantikal (kebenaran yang melekat dalam tutur kata dan bahasa).
Dalam arti apakah dan sejauh manakan pengetahuan itu dapat dikatakan benar?
Pengetahuan adalah kemanunggalan antara subjek dan objek. Maka pengetahuan itu dikatakan benar apabila di dalam kemanunggalan–yang sifatnya intrinsik, intensional, pasif-aktif–itu terdapat kesesuaian antara apa yang ada di dalam pengetahuan subjek dan apa yang dalam kenyataannya ada terdapat dalam objek.
Karena puncak dari proses kognitif manusia itu adalah budi pikirannya (intelek) maka pengetahuan adalah benar apabila apa yang terdapat dalam budi pikiran itu sesuai dengan apa yang ada di dalam objek.
Yang dimaksud puncak proses kognitif intelektual manusia yang purna adalah sebuah pernyataan putusan (ada S, P dsb.), dan yang dimaksud apa yang ada di dalam objek adalah esensi, “the what” dari objek. Baik objek konkret (yang memang punya kenyataan ontologikal), maupun objek abstrak (kenyataan karena konstruksi mental manusia).
Karena itu kebenaran terjadi apabila terdapat kesesuaian yang serasi (conformity) antara “apa yang dinyatakan oleh subjek melalui proses kognitif intelektual” dan “keadaan yang senyatanya dari objek yang memiliki alteritas independen dari subjek.”
Kita sudah mendekati pada persoalan berpikir. Kita akan membahasnya nanti tapi sebelum itu kita mampir sebentar untuk membedakan pengetahuan dengan ilmu.
Ilmu & Metode Ilmiah
Tidak semua pengetahuan dapat disebut ilmu. Ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu pengetahuan dapat disebut ilmu tercantum dalam apa yang dinamakan dengan metode ilmiah.
Metode, menurut Senn, merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu, yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis. Metodologi merupakan suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan dalam metode tersebut. Jadi metodologi ilmiah merupakan pengkajian dari peraturan-peraturan yang terdapat dalam metode ilmiah.
Ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah. Sebaliknya Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Metode ilmiah merupakan ekspresi mengenai cara bekerja pikiran. Dengan cara bekerja ini maka pengetahuan yang dihasilkan diharapkan mempunyai karakteristik-karakteristik tertentu yang diminta oleh pengetahuan ilmiah, yaitu sifat rasional dan teruji yang memungkinkan tubuh pengetahuan yang disusunnya merupakan pengetahuan yang dapat diandalkan.
Berpikir dan asas-asanya
Berpikir sebagaimana dikatakan Jujun Suriasumanti adalah kegiatan mental yang menghasilkan pengetahuan. Setiap proses pemikiran atau penalaran niscaya mentaati hukum-hukum berfikir. Berfikir yang baik adalah berfikir logis dialektis, artinya bukan hanya mengindahkan kebenaran bentuk atau hukum-hukum dan prinsip pikiran, tetapi juga mengindahkan kebenaran materi/isi pemikiran beserta kriterianya. Penalaran yang baik mensyaratkan paling tidak beberapa kondisi berikut ini:
1. Titik pangkal penalaran/pemikiran harus benar/berpangkal dari kenyataan atau kepastian obyektif (fakta demikian)
2. Alasan-alasan harus tepat dan kuat (cukup alasan)
3. Jalan fikiran harus logis / lurus (sah)
Berfikir yang baik tidak hanya menyangkut kebenaran formal akan tetapi juga kebenaran material. Hukum-hukum berfikir dirumuskan dalam Logika (Mantiq). Jadi logika berkaitan dengan validitas penalaran (kebenaran formal/sesuai dengan persyaratan formal proposisi). Sementara masalah kebenaran materi/isi pikiran dan kriterianya atau yang berkaitan dengan kebenaran dan ketidakbenaran faktual dari suatu proposisi/suatu ungkapan atau kesimpulan dicari pada masing-masing bidang serta epistemologinya atau bahkan aspek metafisik moralnya. Oleh karena itu kelurusan pikiran (kebenaran formal) niscaya dibarengi kebenaran materi pikiran (kebenaran material), sehingga proses penalaran tidak hanya Logis, tetapi juga Dialektis.
Selanjutnya untuk menilai validitas pemikiran / menentukan aturan-aturan pemikiran yang tepat, logika menganalisis unsur-unsur pemikiran manusia sebagai berikut:
1. Mengerti kenyataan. Kegiatan ini disebut membentuk pengertian (Tashawwur)
2. Menyatakan hubungan yang ada antara pengertian-pengertian yang telah ditangkap, atau disebut Putusan (Tashdiq)
3. Kesimpulan, kegiatan penyimpulan/penalaran/pemikiran adalah suatu penjelasan yang menunjukan kaitan/hubungan antara dua hal atau lebih yang atas dasar alasan tertentu dan dengan langkah-langkah tertentu sampai pada suatu kesimpulan.
Untuk menganalisa jalan pikiran maka hal-hal yang tidak eksplisit dikemukakan (hanya secara implisit terkandung) atau implikasi di dalam suatu pemikiran/pernyataan/proposisi sering kali perlu dieksplisitkan, artinya dirumuskan secara terurai dan lengkap. Sebagai alat bantu untuk menganalisa atau menguji pemikiran/pernyataan/proposisi tersebut, maka berguna sekali menyusun jalan pikirannya (langkah-langkahnya dan hubungan-hubungannya) dalam bentuk skema, sehingga kelihatan dengan jelas mana yang merupakan kesimpulan, mana yang alasan, serta bagaimana orang dari alasan-alasan tertentu menarik kesimpulan.
Untuk menganalisa dengan lebih teliti perlu dikemukakan pertanyaan: Apakah kesimpulan tersebut benar? Apakah pasti?, Kalau tidak, mengapa?, Apakah titik pangkalnya tepat?, apakah alasannya cukup kuat? Apakah jalan pikirannya logis?
Beberapa Kesalahan Logis:
Untuk berpikir dengan baik, kita perlu mengenali kesalahan-kesalahan yang sering terjadi dalam berpikir untuk kemudian kita hindari:
1. Generalisasi tergesa-gesa, “Penyelesaian kasus-kasus korupsi yang terjadi akhir-akhir ini sarat dengan nuansa politis”.
2. Analogi Palsu, Perbandingan yang mencoba membuat suatu gagasan terlihat benar dengan cara membandingkan dengan gagasan lain yang sesungguhnya tidak mempunyai hubungan dengan gagasan yang pertama. “Membuat istri bahagia adalah seperti membuat kucing kesayangan menjadi bahagia. Belai kepalanya sesering mungkin, dan beri makanan yang ia sukai sebanyak muingkin”.
3. Petitio Principii/Penalaran melingkar, Bilamana si penalar meletakkan kesimpulannya ke dalam premis/alasannya, kemudian memakai premis tersebut untuk membuktikan kesimpulannya, jadi kesimpulan dan premisnya sama (begging the question). “Manusia merdeka karena ia bertanggung jawab, dan ia bertanggung jawab karena ia merdeka”.
4. Deduksi cacat. Manakala si penalar memakai premis yang cacat di dalam menarik kesimpulan deduktif. “Dia berambut gondrong, dia pasti orang jahat”.
5. Pikiran simplisit. Si penalar terlalu menyederhanakan masalah. Masalah yang komplek (berseluk-beluk) disederhanakan menjadi dua kutub yang berlawanan (pikiran polarisasi), atau dirumuskan menjadi hanya dua segi / dua pilihan / baik-buruk/hitam-putih/benar-salah. “Kamu orang fundamental atau liberal?”
6. Argumen ad Hominem. Si penalar tidak memperhatikan masalahnya/alasan penalaran akan tetapi didasarkan pada kepentingan atau keadaan orang yang mengusulkannya atau dalam mengkritik ia menyerang kelemahan orangnya, “Dia itu orangnya sudah jelek homoseks pula, saya tidak setuju pendapatnya.”
7. Argumen ad Populum. Lebih mengutamakan menggugah perasaan, membangkitkan/membakar emosi pendengar untuk menerima konklusi tertentu, contoh: kampanye-kampanye /propaganda politik, Demonstrasi. “Khilafah adalah solusi satu-satunya. Mari tegakkan khilafah!”
8. Kewibawaan Palsu, Argumen didasarkan pada kewibawaan, kedapat dipercayaan, keahlian. “Menurut profesor di Barat, bakwan berpengaruh jelek terhadap fungsi empedu.”
9. Argumen ad ignorantian, Penalaran yang menyimpulkan suatu konklusi berdasarkan bahwa negasinya tidak terbukti salah atau sebaliknya. “Makhluk halus itu tidak ada sebab kita tidak pernah melihatnya”.
10. Kesesatan non Causa pro causa, Kesalahan karena menganggap sesuatu sebagai sebab padahal bukan sebab yang sebenarnya atau bukan sebab yang lengkap. “Setelah SBY terpilih jadi presiden, Indonesia banyak dirundung bencana.”
Suriasumanti, Jujun S, Filsafat Ilmu, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2002.
Pranarka, A.M.W., Epistemologi Dasar: Suatu Pengantar, Jakarta: CSIS, 1987.
Poespoprodjo, Logika
Poespoprodjo, Logika Scientifika
Alex Lanur, Logika
from → Filsafat
2 Responses leave one →
1.
2008 Juni 29
izma permalink
ass…
hamdallah,,akhirnya…
sangat tertarik dgn yg ente tulis ing..
coz sm2 suka filsafat..
dasar berfikir adalah logika
dasar logika adalah berfikir
dialektika atau probabilitas dalam berfikir itu seperti apa?? apalagi dalam mengambil keputusan yg sulit?? bahkan kita sering menemui kejanggalan yang kita tdk tahu…
mudah-mudahan menjadi reference of my mind =)
13 Mei 2009
MUDUL 1 - Daspro Praktikum
tugas daspro dari B.Roro
soal
1234
123
12
1
buat source codenya!!
___________________________________________________________________
class tgsdaspro1
public static void main(String args[])
{
int a,b;
for(a=4;a>=1;a--)
{
for (b=1;b<=a;b++)
System.out.print (b) ;
System.out.println ( );
}
}
}
dari Marsudi hehehe
Mu'tazilah
A. Definisi dan Sejarah Kemunculan Mu’tazilah
Berbicara tentang perpecahan umat Islam tidak ada habis-habisnya,karena terus menerus terjadi perpecahan dan perbedaan mulai dengan munculnya Khowarij dan Syi’ah kemudian muncullah satu kelompok lain yang berkedok dan berlindung dibawah syi'ar akal dan kebebasan berfikir. satu syi'ar yang menipu dan mengelabuhi orang-orang yang tidak mengerti bagaimana Islam telah menempatkan akal pada porsi yang benar. Sehingga banyak kaum muslimin yang terpuruk dan terjerumus masuk pemikiran kelompok ini. Akhirnya terpecahlah dan berpalinglah kaum muslimin dari agamanya yang telah diajarkan Rasulullah dan para shahabat-shahabatnya. Akibat dari hal itu bermunculanlah kebid’ahan-kebid’ahan yang semakin banyak dikalangan kaum muslimin sehingga melemahkan kekuatan dan kesatuan mereka serta memberikan gambaran yang tidak benar terhadap ajaran Islam, bahkan dalam kelompok ini terdapat hal-hal yang sangat berbahaya bagi Islam yaitu mereka lebih mendahulukan akal dan pemikiran-pemikiran para filosof dari pada ajaran dan wahyu dari Allah Swt sehingga banyak ajaran Islam yang tidak mereka akui karena menyelisihi akal menurut perasangka mereka. Bermunculanlah pada era dewasa ini pemikiran Mu'tazilah dengan nama-nama yang yang cukup menggelitik dan mengelabuhi orang yang membacanya, mereka menamainya dengan Aqlaniyah. Modernisasi pemikiran. Westernasi, Liberalisme dan Sekularisme serta nama-nama lainnya yang mereka buat untuk menarik dan mendukung apa yang mereka anggap benar dari pemkiran itu, dalam rangka usaha mereka menyusupkan dan menyebarkan pemahaman dan pemikiran ini.
a. Secara Etimologi Mu'tazilah atau I'tizaal adalah kata yang dalam bahasa Arab menunjukkan kesendirian, kelemahan dan keterputusan,
b.Secara Terminologi
Para Ulama banyak mendepenisikan kalimat ini, sebagian ulama mendefinisikannya sebagai “satu kelompok dari qadariyah yang menyelisihi pendapat umat Islam dalam permasalahan hukum pelaku dosa besar yang dipimpin oleh Washil bin Atho' dan Amru bin Ubaid pada zaman Al Hasan Al Bashry”. Suatu persi menyebutkan munculnya Mu’tazilah adalah dari kisah Hasan Al-Bashri (21¬¬ – 110 H). yang berbeda pendapat dengan muridnya yang bernama washil bin ‘atha’ (80 – 131) pada masalah pelaku dosa besar. Maka dengan I’tizalnya’ dari majlis Hasan Al- bashri dinamakanlah Wasil dan orang-orang yang sepaham dengannya dengan Mu’tazilah. Mereka begitu hebat melobi dan memutar kata sehingga bisa memegang pemerintahan islam selama kurang lebih dua ratus tahun. Sebagaimana berselisih faham Hasan bashri dengan muridnya berselisih pula Abu Hasan Al-asy'ari (260 – 330) dengan gurunya yang bernama Abu Ali Al-juba’I ( 235 – 303) pada masalah sifat Allah swt yaitu wajibnya Allah swt berbuat baik”
dari sumber yang disebutkan diatas dapat kita simpulkan bahwa Mu’tazilah merupakan suatu jama'ah yang lain dari Ahlussunnah wal jamaah yang lebih mengedepankan pikiran dari nash. Dan pelopor munculnya fikiran seperti ini adalah Washil bin Atha’ yang kemudia mendirikan jama’ah yang disebut dengan Mu’tazilah.
B. Pandangan Mu’tazilah terhadap Al-quran dan Hadits
Kemudian Mu’tazilah memandang Sunnah/Hadis tak jauh beda dengan pandangan mereka terhadap Alqur’an, bahwa bagaimanapun juga fikiran yang di dahulukan. Seperti halnya masalah periwayat dalam ilmu Hadits mereka tidak menerima hadits yang bersumber dari periwayat yang berseberangan pemikirannya dengan mereka demikian pula mayoriytas ulama Hadist tidak menerima perowi Mu’taziliyin. Namun walaupun demikian Para ulama berbeda pendapat tentang mauqif mu'tazilah dalam pembagian hadits kepada mutawatir dan ahad, sebagaimana Ahlussunnah membagi Hadits kepada dua bahagian itu dan menerima keduanya menjadi hujjah. Suatu riwayat yang bersumber dari Hasan Al-Bashri berkata: Abu Ali Al-jubba’I dan satu jama’a dari ulama Mu’tazilah tidak membolehkan beramal dengan hadits ahad. Iman ibnu Hazmin menjelaskan” mayoritas ulama islam menerima Khobar ahad yang tsiqah/terpercaya dari Nabi SAW, sama ada ia dari Ahlussunnah, Syi’ah, Khowarij, dan Qadariyah, namun setelah abad pertama hijriyah Mu’tazilah menyalahi ijma’ ulama Islam tadi.
C. Pandangan jumhur ulama terhadap faham Mu’tazilah
Dari uraian dan kutipan diatas dapat kita pahami bahwa pemikiran Mu’tazilah ini tidak berterima di manyoritas ulama.
D. Kelompok-kelompok dan Ulama-ulama Mu’tazilah
1. Cabang Bashrah, yang terwakili oleh tokoh-tokoh seperti Waashil bin Atha', Amr bin Ubaiid, Utsman Ath Thowil, Abu Al Hudzail Al 'Alaaf, Abu Bakr Al Ashom, Ma’mar bin Ubaad, An Nadzom, Asy Syahaam, Al Jaahidz, Abu Ali Aljubaa'i, Abu Hasyim Al Jubaa'i dan yang lain-lainnya.
2. Cabang Baghdad, yang terwakili oleh tokoh-tokoh seperti Bisyr bin Mu'tamir, Abu Musa Al Mardaar, Ahmad bin Abii Duaad, Tsumamah bin Al Asyras, Ja'far bin Harb, Ja'far bin Mubasyir, Al Iskaafy, Isa bin Al Haitsam Al Khayaath, Abul Qasim Al-Balkhy Al- Ka'by dan yang lain-lainnya.
Ada banyak kelompok-kelompok kecil dalam tubuh Mu’tazilah yag semua berdasar dari perbedaan pemikiran dalam setiap tokohnya. Yaitu:
1. Al -washiliyah.
Mereka adalah pengikut abu hudzaifah washil bin ‘atho’ al- ghazzalah. Dia adalah murid imam Hasan al-bashri dan keduanya hidup dizaman khalifah Abdullah bin marwan dan Hisyam bin Abdul Malik.
2. Al-Hudzailiyah
Mereka adalah kelompok yang di gagas oleh Abu Hadzil Hamdan bin Hadzil Al-‘Allaf, dia termasuk syekhnya mu’tazilah dan orang terkemuka di antara mereka, dia mendapat faham mu’tazilah dari Utsman bin Kholid At-towil dari Washil bin ‘Atha’. Persi lain mengatakan bahwa Abu hadzil belajar Mu'tadzilah itu dari Abu Hasyim Abdullah bin Muhammad bin Hanafiyah, dan persi lain mengatkan dia mengambil faham itu dari Hasan bin Abi hasan Al basyri.
3. An-Nazzomiyah
Mereka adalah aliran yang dipelopori oleh Ibrohim bin Sayyar bin Hani’ An-nazzom. Ia telah banyak membaca kitab-kitab Filosof sehingga kemudia bercampur dengan faham Mu’tazilahnya. Ia berbeda pendapat dengan Mu’tazilah lain pada beberapa masalah, antara lain ia mengatakan bahwa Allah SWT menciptakan makhluk ini serentak yaitu manusia, tumbuhan, hewan diciptakan serentak sebagaiman yang kita lihat sekarang. Pendapat ini di adopsi dari Filosof dan bertentanga dengan apa yang di sepakati ulama salaf dan khalaf.
4. Al-Khobitiyyah dan Al-Hadatsiyyah
Al-Khobitiyah adalah pengikut Ahmad bin Khobit, demikian juga Al-Hadatsiyah adalah pengikut Fadhl Al-Hadtsi. Sebetulnya kedua orang ini adalah Mu’tazilah Nazomiyah namun setelah membaca dan mempelajari banyak buku-buku Filsafat mereka juga punya pikiran yang melenceng dari Mu’tazilah itu sendiri seperti; mereka menyakini bahwa dalam diri Nabi ‘Isa as itu ada unsur ketuhanan seperti apa yang di percayai Nasrani bahwa nanti di akhirat ‘Isa akan ikut menghitung amal manusia.
5. Al-Bisyriyah
Mereka adalah pengikut Bisyri bin Mu’tamir, dia termasuk pembesar Mu’tazilah.
6. Al-Mu’ammariyah
Ini adalah pengikut Mu’ammar bin ‘Abbad As-Salmi, dia termasuk pembesar Qodariyah dan ia banyak menyimpang dari Ahlusunnah bahkan Mu’tazilah sendiri seperti pendapatnya yang menapikan Qadar baik dan buruk dari Allah SWT dan mengingkari bahwa Allah SWT itu Qadim, bahkan menyesatkan dan mengkafirkan orang yang berseberangan dengannya.
7. Al-Mardariyah
Tokoh utamanya adalah ‘Isa bin Sobih Al-Makni yang diberi gelar dengan “Mardar”, ia penah jadi murid Bisyri bin Mu’tamir dan ia di gelar juga dengan Rohibul Mu’tazilah=guru besarnya Mu'tazilah. ia berbeda dengan Mu’tazilah lain pada beberapa masalah seperti; dia berpendapat pada sipat Qudratnya Allah SWT itu termasuk bahwa Allah SWT sanggup berbohong dan berbuat zalim, dan kalau Allah SWT misalnya berdusta atau berlaku zalim maka jadialah Ia Tuhan yang zalim dan Tuhan pendusta. Kemudian sang Mardar inilah yang paling menonjol menggembar-gemborkan bahwa Al-qur’an itu adalah makhluk dan manusia mampu membuat bacaan yang sama dengan Al-quran baik dari segi balagah, fasohah dan I’jaznya.
8. Ats-Tsumamiyah
Ini adalah kelompok Tsumamah bin Asyros An-Namiry, ia termasuk Mu’tazilah yang ekstrim dan banyak berbeda dengan Mu’tazilah lain, seperti pendapatnya yang mengatakan bahwa orang fasiq itu kekal di neraka dan mengatakan bahwa orang kafir dari Yahudi, Nasrani, Majusi, Dahri, Musyrik dan Zanadiqoh nanti di akhirat akan jadi tanah, sama dengan binatang dan anak-anak orang beriman. Suatu riwayat menyebutkan ketika Tsumamah melihat kaum muslimin berlari kemesjid untuk sholat jum’at karna takut terlambat maka dia berkata” lihatlah para kerbau itu, lihatlah himar-himar itu”.
9. Al-Hisyamiyah
Mereka adalah pengikut Hisyam bin Amru Al-futi, ia adalah orang yang sangat ekstrim pada masalah Qudratnya Allah SWT. Ia mengingkari banyak perbuatan Allah yang sudah nyata sekalipun dalam Al-quran seperti; ia mengingkari bahwa Allah SWT yang menyatukan hati orang-orang beriman bahkan mengatakan bahwa yang menyatukan hati orang-orang beriman itu adalah mereka sendiri dengan ikhtiyar mereka. pedahal sudah jelas di ungkapkan dalam Al-Quran:
ما ألفت بين قلوبهم ولكن الله الف بينهم (الأنفال 63)
Ahlussunnah berkomentar tentang “al-futi “ dan pengikutnya bahwa darah dan harta mereka halal bagi kaum muslimin, siapa yang membunuh mereka tidak akan dikenakan diat dan kiparat bahkan membunuh mereka adalah salah satu jalan taqorrub kepada Allah SWT.
10. A-Jahiziyyah
Tokohnya adalah Amru bin Bahr abu Utsman Al-Jahiz, ia merupakan orang yang dimuliakan di Mu’tazilah dan termasuk penyusun kitab-kitab mereka. salah satu pendapatnya yang menyimpang dari Mu’tazilah lain adalah ia berpendapat bahwa orang yang masuk neraka itu tidak selamanya akan mendapat siksa tapi mereka akan menjelma jadi unsur dari api itu sendiri.
11. Al-Khoyyatiyah dan Ka’biyah
Mereka adalah kelompok Abu Husein bin Abu Amru al-Khoyyat dan Ustadz Abu Qasim bin Muhammad Al-Ka’bi. Mereka berdua ini adalah Mu’tazilah dari Bagdad, mereka bisa dibilang satu aliran.
12. Al-Juba'iyyah dan dan Bahsyamiyah
Mereka adalah pengikut Abu Ali Muhammad bin Abdul Wahab Al-Jubbai dan anaknya Abu Hasyim Abdussalam. Mereka berdua ini adalah orang Mu’tazilah dari Bashrah dan beberapa masalah berbeda dengan Mu'tazilah lainnya seperti; keduanya mengingkari bahwa Allah SWT akan dilihat di akhirat, mengatakan bahwa kalam Allah SWT adalah berhuruf, tersusun dan bersuara.
Penutup
Pada tahun 100H/718M telah muncul aliran baru dalam teologi islam yang disebut aliran Mu'tazilah yang dibidani oleh Washil bin Atho' murid Hasan al-Bashri.
Ciri utama yang membedakan aliran ini dari aliran teologi Islam lainnya adalah pandangan-pandangan teologisnya lebih banyak ditunjang oleh dalil-dalil aqliyah dan lebih bersifat filosofis, sehingga sering disebut aliran rasionalis Islam.
Selain nama Mu'tazilah, pengikut aliran ini juga sering disebut kelompok Ahlut-Tauhid, kelompok Ahlul 'adil, dan lain-lain.
Sementara pihak modern yang berseberangan dengan mereka menyebut golongan ini dengan free act, karena mereka menganut prinsip bebas berkehendak dan berbuat.
Aliran ini muncul sebagai reaksi atas pertentangan antara aliran Khawarij dan aliran Murji'ah berkenaan soal orang mukmin yang berdosa besar.
Menurut aliran Khawarij, mereka tidak dapat dikatakan sebagai mukmin lagi, melainkan sudah menjadi kafir.
Sementara itu kaum Murji'ah tetap menganggap orang mukmin yang berdosa besar itu sebagai mukmin, bukan kafir. Menghadapi dua pendapat yang kontroversial ini, Washil bin Atho' yang ketika itu menjadi murid Hasan al Basri, seorang ulama terkenal di Basra, mendahului gurunya mengeluarkan pendapat bahwa orang mukmin yang berdosa besar menempati posisi antara mukmin dan kafir. Tegasnya orang itu bukan mukmin dan bukan pula kafir, tetapi diantara keduanya.
Oleh karena diakhirat nanti tidak ada tempat diantara surga dan neraka, maka orang itu dimasukkan kedalam neraka, tetapi siksaan yang diperolehnya lebih ringan daripada siksaan orang kafir. Demikianlah pendapat Washil bin Atho', yang kemudian menjadi salah satu doktrin Mu'tazilah, yakni Al-manzilah baina al-manzilataini (posisi diatara dua posisi).
Pada awal perkembangannya, aliran ini tidak mendapat simpati umat Islam, khususnya dikalangan mesyarakat awam kerena mereka sulit memahami ajaran-ajaran Mu'tazilah yang bersifat rasional dan filosofis itu. Alasan lain adalah kaum Mu'tazilah dinilai tidak teguh berpegang pada sunah Rasulullah SAW. dan para shahabatnya.
Kelompok ini baru memperoleh dukungan yang luas, terutama dikalangan intelektual, pada masa pemerintahan khlalifah al-Ma'mun, penguasa Abbasiah periode 198-218 H./813-833 M. kedudukan Mu'tazilah menjadi semakin kokoh setelah al- Ma'mun menyatakannya sebagai madzhab resmi negara. Hal ini desebabkan karena al-Ma'mun sejak kecil dididik dalam tradisi Yunani yang gemar akan ilmu pengetahuan dan filsafat.
Dalam fase kejayaannya itu, Mu'tazilah sebagai golongan yang mendapat dukungan penguasa memakasakan ajarannya kepada kelompok lain. Pemaksaan ajaran ini dikenal dalam sejarah dengan peristiwa Mihnah. Mihnah itu timbul sehubungan dengan paham-paham Khalqu al-Qur'an.
Mu'tazilah berpendapat bahwa al-Qur'an adalah kalam Allah SWT yang tersusun dari suara dan huruf-huruf. Al-Qur'an itu makhuk dalam arti diciptakan Tuhan. Karena diciptakan berarti ia sesuatu yang baru, jadi tidak qadim.
Jika al Qur an itu dikatakan qadim maka akan timbul kesimpulan bahwa ada yang qadim selain Allah dan ini hukumnya musyrik.
Khalifah Al-Ma'mun menginstruksikan supaya dilaksanakan pengujian (Fit and and Proper Test) terhadap aparat pemerintahan tentang keyakinan mereka akan paham ini.
Menurut al-Ma'mun orang yang mempunyai keyakinan bahwa al-Qur 'an adalah qadim tidak dapat dipakai untuk menempati posisi penting didalam pemerintahan, terutama dalam jabatan Qadli.
Dalam pelaksanaannya, bukan hanya para aparat pemerintahan yang diperiksa, tetapi juga tokoh-tokoh masyarakat.
Sejarah mencatat banyak tokoh dan pejabat pemeritahan yang disiksa, diantaranya adalah Imam Hambali. Bahkan ada ulama yang dibunuh karena tidak sepaham dengan aliran Mu'tazilah, seperti al-Khuzza'i dan al Buwaythi.
Peristiwa ini sangat menggoncangkan umat Islam dan baru berakhir setelah al-Mutawakkil berkuasa pada masa 232-247 H./846-861 M. menggantikan al-Wasiq, Khalifah pada masa 228-232 H./843-846 M.
Dimasa al-Mutawakkil, dominasi aliran Mu'tazilah menurun dan menjadi semakin tidak simpatik dimata masyarakat. Keadaan ini semakin buruk setelah al-Mutawakil membatalkan mazhab Mu'tazilah sebagi mazhab resmi negara dan menggantinya dengan aliran Asy'ariyah.
Selama berabad-abad kemudian Mu'tazilah tersisih dari panggung sejarah, tergeser oleh aliran Ahlussunnah wal Jama'ah. Diantara yang mempercepat hilangnya aliran ini adalah buku-buku mereka tidak lagi dibaca dan dipelajari di perguruan-perguruan Islam.
Sebaliknya, pengetahuan tentang paham-paham mereka hanya didapati pada buku-buku lawannya, seperti buku-buku yang ditulis oleh pemuka asy'ariyah. Namun sejak awal abad ke-20 berbagai karya Mu'tazilah ditemukan kembali dan dipelajari diberbagai perguruan Islam, seperti di Al-Azhar.
Neo mu'tazilah
Seiring dengan semakin gencarnya para pemikir Barat (orientalisme) mempelajari Islam dan kemudian menyuguhkannya pada para pemikir-pemikir Islam modern seperti Hasan Hanafi, Nasr Hamid Abu Zayd, Mohammad Arkoun, faham Mu'tazilah kini muncul dengan wajah barunya, bahkan kini sudah merambah ke tokoh-tokoh Muslim Indonesia.
Mereka, kemudian melempar isu-isu yang nakal yang dapat merusak keimanan setiap muslim, betapa tidak, beberapa dari mereka bahkan secara terang-terangan sudah mempertanyakan ke-otentikan al-Qur'an dan menganggap semua agama benar (pluralisme agama).
Masih segar dalam ingatan kita beberapa waktu yang lalu salah satu tokoh Islam Liberal Ulil Abshar secara tegas menyatakan bahwa kaum liberalis adalah penerus aliran Mu'tazilah, bahkan kalau melihat pemikiran-pemikirannya mereka justru melebihi aliran Mu'tazilah, banyak pemikir liberal mencoba merelatifkan nilai-nilai ajaran Islam dengan menyamakannya seperti budaya lain.
Hal ini dilakukan dangan merelatifkan nilai kenabian Muhammad SAW., dengan memandang beliau sama saja dengan reformis-reformis lainnya, Muhammad SAW itu adalah manusia biasa tak lebih dan tak kurang, kata Hamid Basya'ib, aktifis Islam Liberal.
Demikian juga dengan al-Qur'an, mereka mengatakan al-Qur'an adalah produk budaya, karena ia terbentuk dalam sebuah realitas budaya dan mnggunakan bahasa budaya ketika itu . Al-Qur'an itu, kata Arkoun, persis seperti Bible, ia merupakan kumpulan kata-kata Tuhan yang diberikan kepada Nabi Muhammad dalam bahasa manusia (bandingkan dengan ide al-Qur'an adalah makhluq yang diusung oleh Mu'tazilah).
Teologi inklusif
Dalam buku 'Teologi inklusif Cak Nur' ditulis, "Bangunan epistemologis teologi inklusif Cak Nur diawali dengan tafsiran al-Islam sebagai sikap pasrah kehadirat tuhan. Kepasrahan ini, kata Cak Nur, menjadi karakteristik pokok semua agama yang benar. Inilah World view Al qur'an, bahwa semua agama yang benar adalah al-Islam, yakni sikap pasrah diri kehadirat tuhan. (QS 29:46).
Selanjutnya dikatakan : "Dalam konteks inilah sikap pasrah menjadi kualifikasi signifikan pemikiran teologi inklusif Cak Nur".
Bukan saja kualifikasi seorang yang beragama Islam, tetapi "muslim" itu sendiri (secara generik) juga dapat menjadi kualifikasi bagi penganut agama lain, khususnya bagi penganut kitab suci baik Yahudi maupun Kristen.
Maka konsekuensi secara teologis bahwa siapapun diantara kita, baik sebagai orang Islam, Kristen, Yahudi, yang benar-benar beriman kepada Tuhan dan hari kemudian serta berbuat kebaikan, maka akan mendapat pahala di sisi Tuhan (QS.2:62, 5:69).
"Dengan kata lain, sesuai firman Tuhan ini, terdapat jaminan teologi bagi umat beragama, apapun "agama"-nya, untuk menerima pahala (surga) dari tuhan. "Bayangkan betapa inklusifnya pemikiran teologi Cak Nur ini", kutip Sukidi, anak Muhammadiyah yang juga penganut Islam Liberal.
Seorang aktivis Muhammadiyah menulis untuk sebuah media massa Indonesia:
"Dan konsekuensinya, ada banyak kebenaran dalam tradisi dan agama-agama. Nietzsche menegaskan adanya kebenaran tunggal dan justru bersikap afirmatif terhadap banyak kebenaran. Mahatma Gandhi pun seirama dengan mendeklarasikan bahwa semua agama, baik Hinduisme, Budhisme, Yahudi, Kristen, Islam maupun lainnya adalah benar. Dan konsekuensinya kebenaran ada dimana-mana dan ditemukan pada semua agama.
Agama-agama itu diibaratkan dalam nalar pluralisme Gandhi seperti pohon yang memiliki banyak cabang tapi berasal dari satu akar. Akar yang satu itulah yang menjadi asal dan orientasi agama-agama.
Karena itu mari kita memproklamirkan kembali bahwa pluralisme agama sudah menjadi hukum tuhan (sunnatullah) yang tidak mungkin berubah, dan karena itu mustahil pula kita melawan dan menghindar. Sebagai muslim kita tidak punya jalan lain kecuali bersikap positif dan optimistis dalam menerima pluralisme agama sebagai hukum tuhan", katanya. (Jawa Pos 11 Januari 2004) .
Teologi inklusif didasari oleh sikap relatifisme ('Indiyyah) yang menganut faham tidak ada kebenaran mutlak. Sumber pemikiran ini apabila diurut akan berujung pada aliran Sufasta'iyyah (kaum sophist).
Dalam aqidah annasafi dinyatakan "haqaaiq al-ashya'' tsabitatun wal' ilm bihaa mutahaqqiqun, khilafan li al-shufastaiyyah" (Semua hakikat segala perkara itu tsabit adanya, dan pengetahuan kita akan dia adalah yang sebenarnya kecuali menurut kaum sufasta'iyyah) .
Gagasan 'kaum peragu' (sophist), sebagaimana ditulis dalam buku Al-'Aqaid an-Nasafiyyah itu jelas sudah ditolak oleh Islam (khilafan li al-shufastaiyyah). Sangat jelas, akidah kita (Islam), sangat bertentangan dengan para kaum sophist ini.
Jika seorang Muslim tidak boleh meyakini bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar, dan agama lain adalah salah, maka kita bertanya, untuk apa ada konsep teologi Islam?
Jika seorang tidak yakin dengan kebenaran yang dibawanya --karena semua kebenaran dianggapnya relatif-- maka untuk apa ia berdakwah atau berada dalam organisasi dakwah?
Untuk apa ia menyeru orang lain mengikuti kebenaran dan menjauhi kemungkaran, sedangkan ia sendiri tidak meyakini apa yang disebut benar dan apa yang disebut salah.
Pada akhirnya, golongan "ragu-ragu" akan "berdakwah" mengajak orang untuk bersikap "ragu-ragu" juga. Mereka sejatinya telah memilih satu jenis "keyakinan" baru, bahwa tidak ada agama yang benar atau semuanya benar. Itulah kaum sophist.
Upaya dekonstruksi dan reduksi makna Islam terus berjalan, dan ironisnya jika itu dikembangkan oleh tokoh-tokoh cendikiawan muslim, ormas Islam yang bukan hanya dianggap mempunyai otoritas dalam keilmuan Islam, tetapi juga dihormati di lembaga-lembaga keagamaan, dan yang lebih ironis lagi, tidak banyak kalangan ulama dan cendikiawan bahkan kalangan pesantren yang menganggap hal ini sebagai masalah serius bagi perkembangan masa depan umat atau dakwah Islam.
sosok ulul albab - dari Haris
Ditulis oleh : Abdur Rosyid
Dengan ilmu pengetahuan, Allah telah memuliakan manusia. Adam ’alaihis salam, bapak kita semua, diangkat derajatnya oleh Allah diatas para malaikat karena Allah telah menganugerahkan kepadanya ilmu pengetahuan, yang tidak diberikan kepada para malaikat. Allah juga berjanji bahwa Dia akan mengangkat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat. Semua ini mempertegas kemuliaan orang yang berilmu pengetahuan.
Pertanyaannya, siapakah orang yang berilmu pengetahuan itu? Apakah seorang profesor? Atau seorang ilmuwan terkemuka? Atau seorang penemu macam Thomas Alfa Edison? Atau siapa? Jawabannya ada dalam Al-Qur’an. Di bagian akhir QS Ali ’Imran Allah Ta’ala menggambarkan tanda-tanda kekuasannya yang terbentang di alam semesta ini (ayat kauniyah), lalu persis sesudah itu memberikan deskripsi kepada kita tentang sosok ulul albab (orang yang berilmu pengetahuan). Dia berfirman,”(Ulul albab ialah) orang-orang yang senantiasa mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring. Dan mereka senantiasa memikirkan penciptaan langit dan bumi, lalu berkata,’Wahai Rabb kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, maka hindarkanlah kami dari siksa api neraka”.
Disini kita melihat bagaimana Allah mengaitkan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang bersifat kauniyah dengan sosok ulul albab. Ini adalah sebuah indikasi yang amat jelas bahwa ulul albab adalah orang-orang yang senantiasa melakukan tafakkur (perenungan) terhadap ayat-ayat kauniyah. Dan ini semakin jelas ketika Allah memberikan penegasan secara eksplisit: ”(Ulul albab ialah) ... mereka senantiasa memikirkan penciptaan langit dan bumi...”
Namun, tidak hanya sampai disini. Tidaklah semua orang yang merenungi ayat-ayat kauniyah layak disebut sebagai ulul albab. Allah memberikan persyaratan tambahan: ” lalu mereka berkata,’Wahai Rabb kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, maka hindarkanlah kami dari siksa api neraka”. Disini dijelaskan bahwa perenungan terhadap ayat-ayat kauniyah harus membawa seseorang pada sebuah kasadaran dan pengakuan akan kebesaran Allah Sang Pencipta dan Pengatur. Tidak hanya sebuah kesadaran dan pengakuan, namun juga konsekuensi logis dari hal tersebut: meningkatnya rasa takut kepada Allah. Sudah barang tentu ketika seseorang menyadari kebesaran Allah maka iapun akan menjadi takut kepada-Nya. Untuk itulah Allah menjelaskan bagaimana ulul albab sampai pada permohonannya yang tulus: ”Maka hindarkanlah aku dari siksa api neraka.”
Demikianlah konsepsi Al-Qur’an tentang orang yang berilmu pengetahuan, yaitu orang yang senantiasa merenungi ayat-ayat kauniyah, lalu sampai pada kesadaran dan pengakuan pada kebesaran Allah, dan akhirnya sampai pada puncak rasa takut kepada-Nya. Kesimpulannya, ilmu pengetahuan semestinya mengantarkan pemiliknya pada peningkatan ketakwaan dan rasa takut kepada Allah. Dan dengan demikian, dalam Islam seseorang baru disebut berilmu pengetahuan jika ilmu pengetahuan yang dimiliknya mengantarkannya pada rasa takut yang sangat kepada Allah. Dengan tafsiran seperti inilah kita memahami firman Allah dalam QS Faathir: ”Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu pengetahuan (ulama).”
Lalu bagaimana dengan kenyataan di sekeliling kita dimana kita sering melihat orang-orang yang biasa disebut berilmu pengetahuan, ilmuwan dan semacamnya, namun sama sekali tidak beriman, tidak bertakwa, dan tidak takut kepada Allah. Bahkan mungkin sebaliknya. Jawabannya ada dua kemungkinan. Pertama, mereka belum sampai pada puncak dan hakikat ilmu pengetahuan yang mereka pelajari. Mereka baru mendapati kulit dari ilmu pengetahuan yang mereka pelajari, belum inti dan hakikatnya. Kedua, mereka sudah mendapatkan hakikat dibalik ilmu pengetahuan yang mereka pelajari namun mereka tidak bersikap jujur. Mereka membohongi diri mereka sendiri, dengan motif yang bisa beragam.
Dari konsepsi tentang orang yang berilmu pengetahuan sebagaimana dijelaskan diatas, kita juga menjadi paham mengapa Islam tidak mengenal sekularisasi ilmu pengetahuan. Dalam Islam, ilmu sama sekali tidak bisa dipisahkan dengan keimanan dan ketakwaan. Tanpa keimanan dan ketakwaan, sesuatu tidak bisa disebut sebagai ilmu. Dan tanpa ilmu, tidak mungkin kita bisa mencapai puncak keimanan dan ketakwaan. Persis seperti dua sisi mata uang.
Karena itu, kita semua punya pekerjaan rumah untuk mengintegrasikan kembali ilmu dan iman, setelah sebelum ini sengaja dipisahkan satu sama lain. Jika kita mampu mengintegrasikan antara ilmu pengetahuan dan iman-takwa, insyaalah derajat kita akan diangkat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Amin.
Tugas SI pertama-Minta ACC
IDENTIFIKASI
Dalam sistem ini, konsumen dan perusahaan-perusahaan produsen berperan menjadi user yang akan mengambil informasi yang dibutuhkan. Didalam sistem informasi ini akan dilampirkan permintaan, penawaran, distributor yang mudah diakses.
DATA
Operator website beserta staffnya
Konsumen
Perusahaan-perusahaan produsen
Produk-produk
INFORMASI
Produk permintaan konsumen
Penawaran produk
Daftar produsen dan distributor
Harga produk
Mekanisme pembelian
PENGETAHUAN
Pemasangan iklan dan permintaan dalam sistem ini memudahkan kita untuk mengambil informasi tentang produk-produk. Adanya daftar penawaran barang memudahkan para konsumen untuk mengambil informasi dari barang yang dibutuhkan dan juga dari daftar produk. Dari daftar permintaan produsen dapat mengetahui produk-produk yang diinginkan konsumen. Sedangkan produsen dan distributornya dapat diketahui dari daftar perusahaan didalam sistem informasi itu. Dengan adanya sistem informasi ini jalannya transaksi dan pemenuhan kebutuhan menjadi lebih mudah.
ANGGOTA KELOMPOK
MUVID MUTTAQIN (08650018)
20 April 2009
Daspro_lupa dapet dari mana??? (yg pasti mbah Google)
Di Fakultas Informatika yang notabene khusus mempelajari ilmu-ilmu komputer sekalipun, tidak semua mahasiswanya pandai dalam bahasa pemrograman tertentu. Hal itu dikarenakan tidak semua orang mempunyai pemikiran dan kreativitas yang sama sehingga daya nalar terhadap sebuah bahasa pemrograman didapatkan hasil yang berbeda-beda untuk setiap orang. Contoh kasus adalah ketika dulu saya kuliah pada semester ke-6. Pada waktu itu seorang dosen memberikan sebuah tugas kepada semua mahasiswa untuk membuat sebuah program aplikasi yang sederhana tapi bermanfaat untuk orang banyak dengan menggunakan bahasa Pemrograman PASCAL. Praktek dilapangan ketika memenuhi tugas tersebut, 40% mahasiswa yang melaksanakan tugas tersebut (24 MHs dari 60 MHS) yang sekelas dengan saya masih tidak mengerti mengenai bahasa pemrograman ini, padahal mata kuliah untuk Bahasa Pascal ini telah didapat pada semester ke 3 sampai ke 4. Walhasil ke 24 mahasiswa tersebut dinyatakan untuk mengambil ulang mata kuliah tersebut.
Hal tersebut dikarenakan beberapa faktor sebagai berikut :
1.
Kurang nya informasi maupun literatur yang sangat dasar mengenai Bahasa Pemrograman Komputer untuk orang yang benar-benar pemula dalam mempelajari sebuah bahasa perograman komputer.
2.
Informasi, literatur, tutorial dan buku-buku yang ada, kebanyakan masih sulit dimengerti oleh orang-orang yang memang benar-benar pemula dalam mempelajari sebuah bahasa pemrograman.
3.
Para pemula terlalu tergesa-gesa dalam mempelajari suatu bahasa pemrograman, padahal untuk mempelajari bahasa pemrograman komputer diperlukan Kesabaran dan Ketekunan yang tinggi. Contohnya ; Mungkin sebagian dari Anda yang membaca Tutorial ini, akan melewati pengantar-pengantar yang menurut mereka bertele-tele dan tidak penting dan langsung menuju pada pokok bahasan utama, walaupun membaca mungkin hanya sekilas saja, itulah kebiasaan buruk yang seharusnya ditinggalkan bagi Anda yang memang benar-benar pemula dalam mempelajari sebuah bahasa pemrograman komputer.
4.
Enggan, malu dan sebagainya untuk bertanya serta tidak ingin berusaha mencari informasi-informasi yang berhubungan dengan ketidak mengertian nya dalam mempelajari bahasa pemrograman tersebut, atau mungkin tidak tahu kemana dia harus bertanya. Untuk hal ini saya atas nama situs ini d/a http://www.suryascience.co.nr akan segera mengusahakan membuat forum khusus untuk pemula yang bisa Anda akses melalui SSC Forum, INSYA ALLAH.
Saran penulis dalam mempelajari Tutorial Dasar-dasar Pemrograman Delphi ini adalah sebagai berikut :
*
Blok teks pada tutorial ini, lalu anda copy ke MS.Word. setelah itu langsung praktekan materi yang ada pada komputer Anda.
*
Ikuti step by step, jangan melewati satu materipun atau meloncat ke materi berikutnya bila Anda belum benar-benar mengerti apa yang dibahas pada materi itu.
*
Sebelum meloncat ke materi berikutnya, buatlah sebuah proyek yang telah Anda pelajari sebelumnya tanpa melihat lagi keterangan-keterangan yang ada artinya jangan OPEN BOOK, bila Anda masih juga melihat keterangan-keterangan dalam membuat proyek tersebut, sebaiknya Anda tidak menyimak materi berikutnya sampai Anda benar-benar bisa menguasainya tanpa OPEN BOOK.
Akhirnya penulis berharap semoga Tutorial Dasar-dasar Pemrograman Delphi ini dapat bermanfaat bagi Anda yang pemula dalam mempelajari bahasa pemrograman Delphi ini. Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada sdr.Yusuf rekan kerja saya serta DINDA yang telah memberikan semangat serta spirit dalam menuliskan tutorial ini.
P E N D A H U L U A N
I. DELPHI ADALAH PASCAL TAPI PASCAL BUKAN DELPHI
Delphi adalah sebuah bahasa pemrograman yang bersipat Objek (Object Oriented Programming) artinya adalah sebuah program yang mempunyai objek-objek tertentu dalam pemrograman nya. Selain itu Delphi adalah sebuah program yang bersifat visual artinya mempunyai tampilan grafik-grafik yang mudah dimengerti oleh pemula sekalipun (Graphical user Interface). Dengan Delphi Anda bisa membuat program-program dengan tampilan yang menawan, Delphi hanya bisa bekerja di bawah System Microsoft Windows sedangkan untuk system yang lain seperti Linux atau Unix Delphi mempunyai saudara kembarnya yang bisa bekerja pada system tersebut yaitu KYLIX.
Syntax-syntax Delphi di adopsi dari bahasa Pascal, untuk itu di dalam tutorial Dasar-dasar Delphi ini saya akan mengajak Anda ke masa lalu dimana pemrograman komputer saat itu masih menggunakan system 16 BIT yaitu Bahasa PASCAL sebelum Anda dibawa untuk mempelajari Pemrograman Delphi. Bila Anda sudah bisa bahasa PASCAL Anda dapat melewati pengantar mengenai bahasa Pascal ini.
Mengapa saya membawa Anda terlebih dahulu ke Bahasa Pascal tidak langsung ke Delphi ?, Dengan mengenal dasar-dasar bahasa pascal, Anda akan mudah untuk mempelajari pemrograman Delphi sebab semua syntax yang ada dalam pascal sama dengan syntax bahasa delphi, tetapi syntax dalam delphi tidak bisa diadopsi ke pascal karena itulah dalam pengantar ini saya beri judul Delphi adalah pascal tapi pascal bukan delphi.
II. Pengantar Bahasa Pascal
Instalasi PASCAL
Oke kita langsung saja pada materi pertama kita yaitu pengenalan bahasa pascal agar Anda mudah dalam mengikuti pemrograman bahasa Delphi berikutnya. Bila Anda kesulitan mencari program Bahasa Pascal versi 5, Anda dapat mendownloadnya disini. ( Download Pascal). Tapi saya memperingati kepada Anda bahwa program Pascal ini tidak boleh disebar-luaskan lagi kepada Umum sebab saya tidak punya lisensi untuk menyebarluaskan program ini. Dan juga Anda tidak boleh mengkomersialkan program ini, sebab program Pascal yang saya sediakan disini hanya untuk mempelajari program tersebut.
Setelah Anda Download exstract file pascal.zip dengan menggunakan winrar (Program Winrar Dapat di Download dari pilar kanan situs ini) atau winzip. Setelah itu klik dua kali file turbo.exe pada folder tersebut, maka program turbo pascal 5.5 sudah bisa Anda jalankan, bila ingin program Turbo Pascal yang lebih lengkap ikuti langkah-langkah berikut :
1.
Bila Komputer Anda belum terinstall winrar atau winzip installah program tersebut, program winrar dapat Anda download melalui link yang ada di pilar kanan situs ini.
2.
Pindahkan file pascal.zip ke Drive C: jangan didalam folder lagi agar mudah untuk memanggilnya melalui Command Prompt.
3.
Bila Winrar sudah terinstall, klik kanan file pascal.zip lalu pilih extract to pascal.
4.
Jalankan Command Prompt dari windows Anda, klik start run lalu ketik command klik ok maka command Prompt akan ditampilkan. Setelah itu ketik CD\ dan ketik C: maka drive yang aktif saat ini di command prompt adalah drive C.
5..
Setelah itu ketik CD PASCAL lalu tekan enter, maka sekarang Anda berada di drive C: pada folder pascal yang telah Anda extract tersebut. Kemudian Ketik Install lalu tekan enter. maka proses instalasi TURBO PASCAL 5.5 akan berlangsung. Ikuti saja petunjuk instalasi pascal yang ada di proses instalasi. Folder default instalasi pascal adalah TP.
6.
setelah instalasi pascal selesai keluar lah dahulu dari program pascal, kembali ke command prompt. Pada command prompt ketik lagi CD\pascal maka Anda akan kembali lagi ke folder pascal, setelah berada di folder pascal extract beberapa file yang berekstensi ARC ke folder TP, Sebelumnya ketik perintah DIR *.ARC maka semua file yang berekstensi ARC akan ditampilkan, catat nama file-file tersebut. Ada beberapa file ARC yang ada di folder pascal ini yaitu : BGI.ARC, DEMOS.ARC, DOC.ARC, HELP.ARC, OOPDEMOS.ARC, TCALC.ARC, TOUR.ARC, TURBO3.ARC, dan UTILS.ARC. File tersebut hanya bisa di extract oleh file UNPACK.COM yang berada di folder pascal. cara mengekstract nya sebagai berikut :
Buat folder pada direktori TP sesuai dengan nama-nama file arc yang akan diextract contoh : Anda akan mengekstract file DEMOS.ARC, maka buatlah direktori di folder TP dengan nama DEMOS. Masuk ke folder TP -- ketik CD\TP lalu ketik MD DEMOS maka folder dengan nama DEMOS akan terbentuk di folder TP. Setelah terbentuk folder DEMOS sekarang Anda beralih lagi ke folder PASCAL dengan mengetik CD\PASCAL, di folder PASCAL ketik perintah berikut UNPACK DEMOS C:\TP\DEMOS lalu tekan Enter. Maka file DEMOS.ARC akan di extract ke folder DEMOS yang berada di dalam folder TP. Lakukan hal yang sama pada file ARC yang lainnya..
Tampilan Pascal 5.5
Tampilan PASCAL versi 5.5
Memulai PASCAL
Pada bahasa pascal Anda akan bermain dengan KEYBOARD bukan MOUSE, jadi untuk sementara lupakan fasilitas GUI yang dimanjakan oleh WINDOWS. sebab kita kembali ke tahun 80-an dimana PASCAL menjadi suatu bahasa Pemrograman pavorite dikalangan SCIENTIEST saat itu. Tombol keyboard yang paling pokok untuk mengakses program PASCAL adalah tombol : alt, esc, ctrl, F1 -- F12, ENTER, serta tombol anak panah. jadi bila salah satu tombol tersebut ada yang tidak berfungsi sebaiknya lupakan saja belajar pascal ini sampai Anda mengganti keyboard Anda dengan yang baru.
Untuk memulai pascal dari windows Anda dapat mengklik dua kali file TURBO.EXE, sedangkan bila melalui COMMAND PROMPT Anda dapat mengetikan perintah TURBO lalu tekan ENTER maka program PASCAL akan diload seperti gambar diatas. Tekan tombol ESC maka Program utama TURBO PASCAL akan di tampilkan, dari sini KEYBOARD menjadi senjata Anda untuk mengakses menu-menu yang ada di program utama PASCAL. Untuk lebih jelasnya mengenai penggunaan Keyboard pada pascal Anda dapat menekan tombol F1 yang akan memunculkan fasilitas HELP pada Pascal.
Untuk mengakses menu dari program pascal Anda gunakan tombol ALT di ikuti dengan Huruf pertama yang berwarna merah, contoh Anda akan mengakses menu File maka Anda dapat mengaksesnya dengan menekan tombol ALT dan huruf F. sekarang tekanlah tombol ALT+E, maka Anda berada pada mode editor, dan PASCAL siap untuk menerima perintah-perintah Program Anda. Sebagai perkenalan coba Anda ketikan program dibawah ini di editor PASCAL.
{ Program : Input dari keyboard dan Menghitung operasi matematika }
{ Create by : Komarudin_surya@suryatekno }
uses Crt;
var
x,y,z : longint;
lagi : char;
namak : string[20];
begin
lagi := 'y';
while (lagi = 'y') or (lagi = 'Y') do
begin
clrscr;
write('Siapa Nama Anda..?'); ReadLn(namak);
writeLn;
write('Hallo ',namak,', Coba kamu');
WriteLn(' masukan nilai x,y dan z ');
writeLn('pada operasi matematika ini.');
writeLn;
writeLn('Operasi matematika X^2 + y^2 + z =..... ');
write('masukan nilai x...= '); ReadLn(x);
write('masukan nilai y..= '); ReadLn(y);
write('masukan nilai z..= '); ReadLn(z);
writeLn;
writeLn('nilai operasi x^2 + y^2 + z adalah : ',x*x+y*y+z);
writeLn;
write('Mau hitung lagi apa tidak (y/t), ',namak,' ? ');
readLn(lagi);
end;
end.
________________________________________________________________
17 April 2009
Filsafat Ilmu from Kel_3
Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di satu sisi memang berdampak positif, yakni dapat memperbaiki kualitas hidup manusia. Berbagai sarana modern industri, komunikasi, dan transportasi, misalnya, terbukti amat bermanfaat. Dengan ditemukannya mesin jahit, dalam 1 menit bisa dilakukan sekitar 7000 tusukan jarum jahit. Bandingkan kalau kita menjahit dengan tangan, hanya bisa 23 tusukan per menit (Qardhawi, 1997).
Dahulu Ratu Isabella (Italia) di abad XVI perlu waktu 5 bulan dengan sarana komunikasi tradisional untuk memperoleh kabar penemuan benua Amerika oleh Columbus. Lalu di abad XIX Orang Eropa perlu 2 minggu untuk memperoleh berita pembunuhan Presiden Abraham Lincoln. Tapi pada 1969, dengan sarana komunikasi canggih, dunia hanya perlu waktu 1,3 detik untuk mengetahui kabar pendaratan Neil Amstrong di bulan (Winarno, 2004).
Tapi di sisi lain, tak jarang iptek berdampak negatif karena merugikan dan membahayakan kehidupan dan martabat manusia. Bom atom telah menewaskan ratusan ribu manusia di Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945. Pada tahun 1995, Elizabetta, seorang bayi Italia, lahir dari rahim bibinya setelah dua tahun ibunya (bernama Luigi) meninggal. Ovum dan sperma orang tuanya yang asli, ternyata telah disimpan di bank dan kemudian baru dititipkan pada bibinya, Elenna adik Luigi (Kompas, 16/01/1995). Bayi tabung di Barat bisa berjalan walau pun asal usul sperma dan ovumnya bukan dari suami isteri (Hadipermono, 1995).
Bioteknologi dapat digunakan untuk mengubah mikroorganisme yang sudah berbahaya, menjadi lebih berbahaya, misalnya mengubah sifat genetik virus influenza hingga mampu membunuh manusia dalam beberapa menit saja (Bakry, 1996). Kloning hewan rintisan Ian Willmut yang sukses menghasilkan domba kloning bernama Dolly, akhir-akhir ini diterapkan pada manusia (human cloning). Lingkungan hidup seperti laut, atmosfer udara, dan hutan juga tak sedikit mengalami kerusakan dan pencemaran yang sangat parah dan berbahaya. Beberapa varian tanaman pangan hasil rekayasa genetika juga diindikasikan berbahaya bagi kesehatan manusia. Tak sedikit yang memanfaatkan teknologi internet sebagai sarana untuk melakukan kejahatan dunia maya (cyber crime) dan untuk mengakses pornografi, kekerasan, dan perjudian.
Rumusan Masalah
1. Dapatkah agama memberi tuntunan agar kita memperoleh dampak iptek yang positif saja, seraya mengeliminasi dampak negatifnya semiminal mungkin?
2. Sejauh manakah agama Islam dapat berperan dalam mengendalikan perkembangan teknologi modern?
Tujuan
Untuk mengetahui bisa atau tidaknya agama memberi tuntunan agar kita memperoleh dampak iptek yang positif dan sejauh mana agama Islam berpern dalam mengendalikan perkembangan teknologi modern.
KONSEP TEORI
I. Landasan Penelaahan Ilmu
A. Hubungan Ilmu dengan Nilai-nilai Hidup
Penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi membutuhkan dimensi etis sebagai pertimbangan dan mempunyai pengaruh terhadap proses perkembangan lebih lanjut ilmu dan teknologi. Tanggung jawab etis merupakan sesuatu yang menyangkut kegiatan keilmuan maupun penggunaan ilmu, yang berarti dalam pengembangannya harus memperhatikan kodrat dan martabat manusia, menjaga keseimbangan ekosistem, bersifat universal, bertanggungjawab pada kepentingan umum, dan kepentingan generasi mendatang.
Tanggung jawab ilmu menyangkut juga hal-hal yang akan dan telah diakibatkan ilmu dimasa lalu, sekarang maupun akibatnya di masa mendatang, berdasarkan keputusan bebas manusia dalam kegiatannya. Penemuan baru dalam ilmu terbukti ada yang dapat mengubah sesuatu aturan nilai-nilai hidup baik alam maupun manusia. Hal ini tentu menuntut tanggung jawab untuk selalu menjaga agar yang diwujudkan dalam perubahan tersebut akan merupakan perubahan yang terbaik bagi perkembangan ilmu itu sendiri maupun bagi perkembangan eksistensi manusia secara utuh.
Tanggung jawab etis tidak hanya menyangkut upaya penerapan ilmu secara tepat dalam kehidupan manusia, melainkan harus menyadari apa yang seharusnya dilakukan atau tidak dilakukan untuk memperkokoh kedudukan serta martabat manusia seharusnya, baik dalam hubungannya sebagai pribadi, dalam hubungan dengan lingkungannya maupun sebagai makhluk yang bertanggung jawab terhadap Khaliknya.
Jadi perkembangan ilmu akan mempengaruhi nili-nilai kehidupan manusia tergantung dari manusianya itu sendiri, karena ilmu dilakukan oleh manusia dan untuk kepentingan manusia dalam kebudayaannya. Kemajuan di bidang ilmu memerlukan kedewasaan manusia dalam arti yang sesungguhnya, karena tugas terpenting ilmu adalah menyediakan bantuan agar manusia dapat bersungguh-sungguh mencapai pengertian tentang martabat dirinya.
B. Mengapa Ilmu Tidak Dapat Terpisahkan dengan Nilai-nilai Hidup
Ilmu dapat berkembang dengan pesat menunjukkan adanya proses yang tidak terpisahkan dalam perkembangannya dengan nilai-nilai hidup. Walaupun ada anggapan bahwa ilmu harus bebas nilai, yaitu dalam setiap kegiatan ilmiah selalu didasarkan pada hakikat ilmu itu sendiri. Anggapan itu menyatakan bahwa ilmu menolak campur tangan faktor eksternal yang tidak secara hakiki menentukan ilmu itu sendiri, yaitu ilmu harus bebas dari pengandaian, pengaruh campur tangan politis, ideologi, agama dan budaya, perlunya kebebasan usaha ilmiah agar otonomi ilmu terjamin, dan pertimbangan etis menghambat kemajuan ilmu.
Pada kenyataannya, ilmu bebas nilai dan harus menjadi nilai yang relevan, dan dalam aktifitasnya terpengaruh oleh kepentingan tertentu. Nilai-nilai hidup harus diimplikasikan oleh bagian-bagian praktis ilmu jika praktiknya mengandung tujuan yang rasional. Dapat dipahami bahwa mengingat di satu pihak objektifitas merupakan ciri mutlak ilmu, sedang dilain pihak subjek yang mengembangkan ilmu dihadapkan pada nilai-nilai yang ikut menentukan pemilihan atas masalah dan kesimpulan yang dibuatnya.
Setiap kegiatan teoritis ilmu yang melibatkan pola subjek-subjek selalu mengandung kepentingan tertentu. Kepentingan itu bekerja pada tiga bidang, yaitu pekerjaan yang merupakan kepentingan ilmu pengetahuan alam, bahasa yang merupakan kepentingan ilmu sejarah dan hermeneutika, dan otoritas yang merupakan kepentingan ilmu sosial.
Dengan bahasan diatas menjawab pertanyaan mengapa ilmu tidak dapat dipisahkan dengan nilai-nilai hidup. Ditegaskan pula bahwa dalam mempelajari ilmu seperti halnya filsafat, ada tiga pendekatan yang berkaitan dengan kaidah moral atau nilai-nilai hidup manusia, yaitu:
1. Pendekatan Ontologis
Ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada. Dalam kaitan dengan ilmu, landasan ontologis mempertanyakan tentang objek yang ditelaah oleh ilmu. Secara ontologis ilmu membatasi lingkup penelaahan keilmuannya hanya pada daerah yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia.
Dalam kaitannya dengan kaidah moral atau nilai-nilai hidup, maka dalam menetapkan objek penelaahan, kegiatan keilmuan tidak boleh melakukan upaya yang bersifat mengubah kodrat manusia, merendahkan martabat manusia, dan mencampuri permasalahan kehidupan.
2. Pendekatan Epistemologi
Epistemologis adalah cabang filsafat yang membahas tentang asal mula, sumber, metode, struktur dan validitas atau kebenaran pengetahuan. Dalam kaitannya dengan ilmu, landasan epistemologi mempertanyakan proses yang memungkikan dipelajarinya pengetahuan yang berupa ilmu.
Dalam kaitannya dengan moral atau nilai-nilai hidup manusia, dalam proses kegiatan keilmuan, setiap upaya ilmiah harus ditujukan untuk menemukan kebenaran, yang dilakukan dengan penuh kejujuran, tanpa mempunyai kepentingan langsung tertentu dan hak hidup yang berdasarkan kekuatan argumentasi secara individual. Jadi ilmu merupakan sikap hidup untuk mencintai kebenaran dan membenci kebohongan.
3. Pendekatan Aksiologi
Aksiologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai secara umum. Sebagai landasan ilmu, aksiologi mempertanyakan untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan. Pada dasarnya ilmu harus digunakan dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan manusia. Dalam hal ini ilmu dapat dimanfaatkan sebagai sarana atau alat dalam meningkatkan taraf hidup manusia dengan memperhatikan kodrat manusia, martabat manusia, dan kelestarian atau keseimbangan alam. Untuk itu ilmu yang diperoleh dan disusun dipergunakan secara komunal dan universal. Komunal berarti ilmu merupakan pengetahuan yang menjadi milik bersama, setiap orang berhak memanfaatkan ilmu menurut kebutuhannya. Universal berarti bahwa ilmu tidak mempunyai konotasi ras, ideologi, atau agama
C. Landasan Ilmu Pengetahuan pada Zaman Yunani
Periode filsafat Yunani merupakan periode sangat penting dalam sejarah perdaban manusia karena pada waktu itu terjadi perubahan pola pikir manusia dari mitosentris menjadi logosentris. Pola piker mitosenti s adalah pola piker masyarakat yang sangat mengandalkan mitos untuk menjelaskan fenomena alam, seperti : gempa bumi dan pelangi. Gempa bumi tidak dianggap fenomena biasa, tetapi Dewa Bumi yang sedang menggoyangkan kepalanya. Namun ketika filsafat diperkenalkan, fenomena alam tersebut tidak lagi dianggap sebagai aktivitas dewa, melainkan aktivitas alam yang terjadi secara kausalitas. Perubahan pola piker tersebut kelihatannya sederhana, tetapi implikasinya tidak sederhana karena selama ini alam ditakuti dan dijauhi kemudian didekati dan dieksploitasi. Manusia yang dulunya pasif dalam menghadapi fenomena alam menjadi lebih proaktif dan kreatif, sehingga alam dijadika obyek penelitian dan pengkajian. Dari proses inilah kemudian ilmu berkembang dari rahim filsafat yang akhirnya kita nikmati dalam bentuk teknologi. Karena itu periode perkembanga filsafat Yunani merupakan entri poin untuk memasuki peradaban baru umat manusia.
Mencintai kebenaran / pengetahuan adalah awal proses manusia mau menggunakan daya pikirnya, sehingga dia mampu membedakan mana yang riil dan mana yang ilusi. Orang Yunani awalnya sangat percaya dengan dongeng dan takhayul, tetapi lama kelamaan, terutama setelah mereka mampu membedakan yang riil dengan yang ilusi, mereka mampu keluar dari lingkungan mitologi dan mendapatkan dasar pengetahuan ilmiah. Inilah titik awal manusia menggunakan rasio untuk meneliti dan sekaligus mempertanyakan dirinya dan jagat raya.
Filsafat alam pertama yang mengkaji tenang asal-usul alam adalah Thales (624-546 SM). Ia digelari Bapak Filsafat karena dialah yang mula-mula berfilsafat dan mempertanyakan “Apa sebenarnya asal-usul alam semesta ini?” pertanyaan itu sangat mendasr, terlepas apapun jawabannya. Namun yang penting adalah pertanyaan itu dijawabnya dengan pendekatan yang rasional, bukan dengan pendekatan mitos atau kepercayaan. Ia mengatakan asal-usul alam adalah air, karena air unsur penting bagi setiap makhluk hidup, air dapat berubah menjadi benda gas seperti uap, dan benda padat seperti es, dan bumi ini juga berada di atas air.
Setelah Thales, muncul Anaximandros (610-540 SM). Anaximandros mencoba menjelaskan bahwa substansi pertama itu bersifat kekal, tidak terbatas, dan meliputi segalanya. Unsur utama alam harus uang mencakup segalanya, yang dinamakan aperion. Ia adalah air, maka air harus meliputi segalanya,termasuk api yang merupakan lawannya. Padahal tidak mungkin air menyingkirkan unsur api. Karena itu Anaximandros tidak puas dengan menunjukkan salah satu unsur sebagai prinsip alam, tetapi dia mencari yang lebih dalam, yaitu zat yang tidak dapat dinikmati oleh pancaindera.
Berbeda dengan Thales dan Anaximandros, Heraklitos (540-480 SM) melihat alam semesta ini selalu dalam keadaan berunah; sesuatu yang dingin berubah menjadi panas, yang panas berubah menjadi dingin. Itu berarti bila kita hendak memahami kehidupan kosmos, kita harus menyadari bahwa kosmos itu dinamis. Segala sesuatu saling bertentangan dalam pertentangan itulah kebenaran. Gitar tidak akan menghasilkan bunyi kalau dawai tidak ditegangkan antara dua ujungnya. Karena itu dia berkesimpulan, tidak ada satupun yang benar-benar ada, semuanya terjadi. Ungkapan yang terkenal dari Heraklitos dalam menggambarkan perubahan ini adalah panta rhei uden menei (semuanya mengalir dan tidak ada sesuatu pun yang tidak mantap).
Itulah sebabnya ia mempunyai kesimpulan bahwa yang mendasar dalam alam semesta ini adalah bukan bahannya, melainkan aktor dan penyebabnya, yaitu api. Api adalah unsure yang paling asasi dalam alam karena api dapat mengeraskan adonan roti dan disisi dapat melunakkan es. Artinya, api adalah factor pengubah dalam ala mini, sehingga api pantas dianggap sebagai simbol perubahan itu sendiri.
Filosof alam yang cukup berpengaruh adalah Parmenides (515-440 SM), yang lebih muda daripada Heraklitos. Pandangannya bertolak belakang dengan Heraklitos. Menurut Heraklitos, realitas seluruhnya bukanlah sesuatu yang lain daripada gerak dan perubahan tidak mungkin terjadi. Menurutnya, trealitas merupakan keseluruhan yang bersatu, tidak bergerak dan tidak berubah. Dia menegaskan bahwa yang ada itu ada.
Benar tidaknya suatu pendapat dapat diukur dengan logika. Bentuk ekstrem pernyataan itu adalah bahwa ukuran kebenaran adalah akal manusia. Dari pandangan itu dia mengatakan bahwa alam tidak bergerak, tetap diam karena alam itu satu. Dia menentang pendapat Heraklitos yang mengatakan alam selalu bergerak. Gerak alam yang terliaht, menurut Palmenides adalah semu, sejatinya alam itu diam. Akibat dari pendangan ini kemudian muncul prinsip panteisme dalam menantang realitas.
Pythagoras (580-500 SM) mengembalikan sesuatu kepada bilangan. Baginya tidak ada satupun di ala mini terlepas dari bilangan. Semua realitas dapat diukur dengan bilangan. Karena itu, dia berpendapat bahwa bilangan adalah unsur utama dari alam dan sekaligus menjadi ukuran. Kesimpulan ini ditarik dari kenyataan bahwa realitas alam adalah harmoni antara bilangan dan gabungan antara dua hal yang berlawanan, seperti nada music yang dapat dinikmati karena oktaf adalah hasil gabungan dari bilangan 1 (bilangan ganjil) dan 2 (bilangan genap).
Jasa Pythagoras ini sangat besar dalam pengembangan ilmu, terutama ilmu pasti dan ilmu alam. Ilmu yang dikembangkan kemudian hari sampai hari ini sangat bergantung pada pendekatan matematika. Galileo menegaskan bahwa alam ditulis dalam bahasa matematika. Dalam filsafat ilmu, matematika meupakan sarana ilmiah yang terpenting dan akurat karena dengan pendekatan matematiklah ilmu dapat diukur dengan benar dan akurat. Di samping itu, matematika dapat menyederhanakan uraian yang panjang dalam simbol, sehingga lebih cepat dipahami.
Puncak kejayaan filsafat Yunani terjadi pada masa Aristoteles (384-322 SM). Ia murid Plato, seorang filosof yang berhasil menemukan pemecahan persoalan-persoalan besra filsafat yang dipersatukannya dalam satu sistem logika, matematika, fisika, dan metafisika. Logoka Aristoteles berdasarka pada analisis bahasa yang disebut silogisme. Pada dasarnya silogisme dibedakan menjadi tiga premis :
a. Semu manusia akan mati (premis mayor)
b. Socrates seorang manusia (premis minor)
c. Socrates akan mati (konklusi)
Logika Aristoteles ini juga disebut juga dengan logika deduktif, yang mengukur valid atau tidaknya sebuah pemikiran.
Aristoteles yang pertama kali membagi filsafat pada hal yang teoritis dan praktis. Yang teoritis mencakup logika, metafisika, dan fisika. Sedangkan praktis mencakup etika, ekonomi, dan politik. Pembagian ilmu inilah yang menjadi pedoman juga bagi klarifikasi ilmu di kemudian hari. Aristoteles dianggap Bapak Ilmu karena ia mampu meletakkan dasar-dasar metode ilmiah secara matematis.
Filsafat Yunani yang rasional itu boleh dikatakan berakhir setelah Aristoteles menuangkan pemikirannya. Akan tetapi sifat rasional itu masih digunakan selama berabad-abad sesudah sampai sebelum filsafat benar-benar memasuki dan tenggelam dalam Abad Pertengahan. Namun jelas, setelah periode Aristoteles berakhir, filasafat Yunani semakin merosot. Kemunduran itu sejalan dengan terpecahnya Kerajaan Macedonia menjadi pecahan-pecahan kecil setelah wafatnya Alexander The Great. Tepatnya pada ujung zaman Helenisme, yaitu pada ujung sebelum Masehi menjelang Neo Platoisme, filsafat benar-benar mengalami kemunduran.
II. Sejarah Perkembangan Ilmu
A. Perkembangan Ilmu Zaman Islam
Sebelum diuraikan sejarah dan perkembangan ilmu dalam Islam, ada baiknya diuraikan sedikit tentang pandangan Islam terhadap ilmu. Hal ini penting karena menjadi landasan bagi perkembangan ilmu di sepanjang sejarah kehidupan umat Islam, mulai dari zaman klasik sampai saat ini.
Sejak awal kelahirannya, Islamsudah memberikan penghargaan yang begitu besar kepad ilmu. Sebagaimana sudah diketahui, bahwa Nabi Muhammad saw. Ketika diutus Allah swt. sebagai Rasul, hidup masyarakat yang terbelakang, dimana paganisme tumbuh sebagai sebuah identitas yang melekat pada masyarakat Arab waktu itu. Kemudian Islam dating menawarkan cahaya penerang yang mengubah masyarakat Arab jahiliyah menjadi mesyarakat yang berilmu dan beradab.
Kalau dilacak akar sejarahnya, pandangan Islam akan pentingnya ilmu tumbung bersamaan dengan munculnya Islam itu sendiri. Ketika Rasulullah saw. menerima wahyu pertama, yang mula-mula diperintahkannya adalah “membaca”. Malaikat Jibril memerintahkan Nabi Muhammad dengan “bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang menciptakan”(Q.S Al-Alaq : 1). Perintah ini tidak hanya sekali diucapkan Malaikat Jibril tetapi berulang-ulang sampai Nabi dapat menerima wahyu tersebut. Dari kata Iqra’ inilah kemudian lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui cirri sesuatu, dan membaca teks baik yang ditulis maupun tidak. Wahyu pertama itu menghendaki umat Islam untuk senantiasa “membaca” dengan dilandasi Rabbik, dalam arti hasil bacaan itu nantinya dapat bermanfaat untuk kemanusiaan.
Selanjutnya ada juga ayat lain yang yang menyatakan, Katakanlah: apakah sama orang-orang yang mengetahui (berilmu) dengan orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya (hanya) orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. Selain ayat-ayat tersebbut diatas, ada juga Hadist Rasulullah yang menekankan wajibnya mencari ilmu, bahkan begitu pentingnya kalau perlu “carilah ilmu sampai ke negeri Cina”. Dengan demikian, Al-Qur’an dan Hadist kemudian dijadikan sebagai sumber ilmu yang dikembangkan oleh umat Islam dalam spektrum yang seluas-luasnya. Lebih lagi, kedua sumber pokok ini memainkan peran ganda dalam penciptaan dan pengembangan ilmu-ilmu. Peran itu adalah pertama, prinsip-prinsip semua ilmu dipandang kaum Muslimin terdapat dalam Al-Qur’an. Dan sejauh pemahaman terhadap Al-Qur’an, terdapat pula tafsiran yang bersifat esoteric terhadap kitab suci ini, yang memungkinkan tidak hanya pengungkapan misteri-misteri yang dikandungnya tetapi juga pencari makna secara lebih mendalam, yang berguna untuk membangun paradigma ilmu. Kedua, Al-Qur’an dan Hadist menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan ilmu dengan menekankan kebajikan dan keutamaan menurut ilmu; pencarian ilmu dari segi apapun pada akhirnya akan bermuara pada penegasan Tauhid. Karena itu, seluruh metafisika dan kosmologi yang lahir dari kandungan Al-Qur’an dan Sunnah merupakan dasar pembangunan dan pengembangan ilmu Islam. Singkatnya, Al-Qur’an dan Sunnah menciptakan atmosfir khas yang mendorong aktivitas intelektual dalam konformitas dengan semangat Islam.
Untuk mempermudah pemahaman, sejarah perkembangan ilmu dalam Islam dinagi dalam beberapa zaman, seperti uraian berikut ini.
1. Penyampaian Ilmu dan Filsafat Yunani ke Dunia Islam
Pengalihan pengetahuan ilmiah dari filsafat Yunani ke dunia Islam, dan penyerapan serta pengintegrasian pengetahuan oleh umat Islam, merupakan sebuah catatan sejarah yang unik. Dalam sejarah peradaban manusia, amat jarang ditemukan suatu kebudayaan asing dapat diterima sedemikian rupa oleh kebudayaan lain, yang kemudian menjadikannya sebagai landasan bagi perkembangan intelektual dan pemahan filosofinya.
Dalam perjalanan ilmu dan juga filsafat di dunia Islam, pada dasarnya terdapat upaya rekonsiliasi (dalam arti mendekatkan dan mempertemukan dua pandangan yang berbeda, bahkan seringkali ekstrim) antara pendangan filsafat Yunani, seperti filsafat Plato dan Aristoteles, dengan pandangan keagamaan dalam Islam yang seringkali menimbulkan benturan-benturan. Sebagai contoh konkrit dapat disebutkan bahwa Plato dan Aristoteles telah memberikan pengaruh yang besar terhadap mashab-mashab Islam, khususnya mashab elektisisme. Al-Farabi dalam hal ini memiliki yang jelas karena ia percaya dalam kesatuan filsafat dan bahwa tokoh filsafat harus sepakat diantara mereka sepanjang yang menjadi tujuan mereka adalah kebenaran. Usaha-usaha mereka pada gilirannya menjadi alat dalam penyebaran filsafat dan penetrasinya ke dalam studi-studi keislaman lainnya, dan tidak diragukan lagi upaya rekonsiliasi oleh para filosof Muslim ini menghasilkan afinitas dan ikatan yang kuat antara filsafat Arab dan filsafat Yunani.
Selanjutnya, ketika proses penyampaian ilmu dan filsafat Yunani ke dunia Islam, kita harus melihat sisi lain yang juga menunjang keberhasilan Islam dalam menemukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Sisi lain itu adalah aktivitas penerjemahan. Menurut C. A. Qadir, proses penerjemahan dan penafsiran buku-buku Yunani di negeri-negeri Arab dimulai jauh sebelum lahirnya agama Islam atau penaklukan Timur Dekat oleh bangsa Arab pada tahun 641 M. Jauh sebelum Islam dapat menaklukan daerah-daerah di Timur Dekat, pada saat itu Suri’ah merupakan tempat bertemunya dua kekuasaan dunia, Romawi dan Persia. Atas dasar itu, bangsa Suri’ah disebut-sebut memainkan peran penting dalam penyebaran filsafat Yunani ke Timur dan Barat. Di kalangan umat Kristen Suri’ah, terutama kaum Nestorian, ilmu pengetahuan Yunani dipelajari dan disebarluaskan melalui sekolah-sekolah mereka. Walaupun tujuan utama sekolah-sekolah tersebut menyebarluaska pengetahuan injil, namun pengetahuan ilmiah,seperti kedokteran, banyak diminati oleh pelajar. Sayangnya, pihak geraja memandang ilmu kedokteran itu sebagai ilmu secular dan dengan demikian posisinya lebih rendah daripada ilmu pengobatan spiritual yang menjadi hak istimewa para pendeta.
Selain itu, pada masa itu juga didapati pusat-pust ilmu pengetahuan seperti Ariokh, Epheus, dan Iskandariah, dimana buku-buku Yunani Purba masih dibaca dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, terutama Sirani, bahkan setelah pusat-pusat itu di taklukan oleh Islam, pengaruh pemikiran Yunani tetap mendalam dan meluas. Pada masa ini juga didapati tokoh Kristen yang bernama Nestorius, yang melakukan deskontruksi atas pemahaman teologi kalangan Kristen konservatif ortodoks, setelah ia terengaruh oleh pemikiran Yunani tersebut. Ia beserta pengikutnya kemudian hijrah ke Siriah dan melanjutkan ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani. Kegiatn ini pada gilirannya menghasilkan terjemahan karya filosof Yunani seperti Phophyrius, diantaranya adalah Isagoge, Categories, Hermeneutica, dan Analtica Priori. Pusat-pusat ilmu pengetahuan yang dipimpin oleh umat Kristen ini, terus berkembang dengan bebasnya sampai mereka di bawah kekuasaan Islam. Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya mendukung adanya kebebasan intelektual, tetapi juag membuktikan kecintaan Islam terhadap ilmu pengetahuan dan sikap hormat kepada para ilmuwan, tanpa memandang agama mereka.
2. Perkembangan Ilmu pada Masa Islam Klasik
Sebagaiman telah disinggung diatas bahwa pentingnya ilmu pengetahuan sangat ditekankan oleh Islam sejak awal, mulai masa Nabi sampa Khulafaur Rasyidin, pertumbuhan dan perkembangan ilmu berjalan dengan pessat seiring dengan tantangan zaman.
Selanjutnya, satu hal yang patut dalam kaitannya dengan perkembangan ilmu dalam Islam adlah peristiwa Fitnah Al-Kubra, yang ternyata tidak hanya membawa konsekuensi tapi juga membawa perubahan besar bagi pertumbuhan dan perkembangan ilmu di dunia Islam. Pasca terjadinya Fitnah Al-Kubra, muncul berbagai golongan yang memiliki aliran teologis tersendiri yang pada dasarnya berkembang karena alasan-alasan politis. Pada saat itu muncul aliran Syi’ah yang membela Ali, aliran Khawarij, dan kelompok Muawiyah. Namun, di luar konflik yang muncul pada saat itu, sejarah mencatat dua tokoh besar yang tidak ikut terlibat dalam perdebatan teologis yang cenderung mengkafirkan satu sama lain, tetapi justru mencurahkan perhatiannya pada ilmu agama. Kedua tokoh itu adalah Abdullah bin Umar dan Abdullah bin Abbas. Yang disebut pertama mencurahkan perhatiannya pada ilmu Hadist, sementara yang di belakangan lebih berkonsentrasi pada ilmu taksir. Kedua tokoh ini sering disebut sebagai pelopor tumbuhnya institusi keulamaan dalam Islam, sekaligus berarti pelopor kajian mendalam dan sistematis tentang agama Islam. Mereka juga sering disebut “moyang” golongan Sunni atau Ahl-al-Sunnah wa al Jama’ah.
Tahap penting berikutnya dalam proses perkembangan dan tradisi keilmuan Islam ialah masuknya unsur-unsur dari luar ke dalam Islam, khususnya unsur-unsur budaya Perso-Semitik dan budaya Hellenisme. Yang disebut belakangan mempunyai pengaruh besar terhadap pemikiran Islam ibarat pisau bermata dua. Satu sisi ia mendukung Jabariyah (antara lain Jahm Ibn Safwan), sedangkan di sisi lain ia mendukung Qadariyah (antara lain Washil Ibn Atha’, tokoh dan pendiri Mu’tazilah). Dari adanya pandangan yang dikotomis antara keduanya muncul usaha menengahi dengan menggunakan argumen-argumen Hellenisme, terutama filsafat Aristoteles. Sikap menengahi itu terutama dilakukan oleh abu Al-Hasan Al- Asy’ari, dan Al-Maturidi yang juga menggunakan unsur Hellennisme.
Berdasarkan uraian diatas, dapat ditari hipoteis sementara bahwa pada awal Islam pengaruh Hellenisme dan juga filsafat Yunani terhadap tradisi keilmuan Islam sudah sedemikian kental sehingga pada saat selanjutnta pengaruh itu pun terus mewarnai perkembangan ilmu pada masa-masa berikutnya.
3. Perkembangan Ilmu pada Masa Kejayaan Islam
Pada masa kejayaan kekuasaan Islam, khususnya pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah, ilmu berkembang maju dan pesat. Kemajuan ini membawa Islam pada masa keemasannya, dimana pada saat yang sama wilayah-wilayah yang jauh di luar kekuasaan Islam msih berada pada masa kegelapan peradaban (Dark Age).
Dalam sejarah Islam, kita mengenal nama-nama seperti Al-Mansur, dan Harun Al-Rasyid, yang memberikan perhatian yang teramat besar bagi perkembangan ilmu di dunia Islam. Pada pemerinyahan Al-Mansur, misalnya, proses penerjemahan filosof Yunani ke dalam bahasa Arab berjalan dengan pesat. Dikabarka bahwa Al-Mansur telah memerintahkan penerjemahan naska-naskah Yunani mengenai filsafat dan ilmu, dengan memberikan imbalan kepada para ahli bahasa (penerjemah). Pada masa harun Al-Rasyid proses penerjemahan itu juga masih terus berlangsung. Harun memerintahkan Yuhanna (Yahya) Ibn Masawayh, seorang dokter istana, untuk menerjemahkan buku-buku kuno mengenai kedokteran. Di masa itu juga diterjemahkan karya-karya dalam bidang astronomi, seperti Shiddanta; sebuah risalah India yang diterjemahkan oleh Muhammad Ibn Ibrahim Al-Fazari. Pada masa selanjutnya oleh Khawarizmi Shiddanta ini dibuat versi baru terjemahannya dan diberikan komentar-komentar. Selain itu juga ada Quardipartitus karya Purdemy, dan karya-karya bidang astrologi yang diterjemahkan oleh satu tim sarjana.
Selanjutnya pada masa kejayaan ini, terdapat juga tokoh filsafat yang bergelut secara serius dalam kajian-kajian di luar filsafat. Hal ini bias dipahami karena adanya kenyataan bahwa mereka menganggap ilmu-ilmu rasional sebagai bagian filsafat. Atas dasar inilah mereka memperlakukan persoalan-persoalan fisika sebagaiman mereka memperlakukan masalah-masalah yang bersifat metafisik. Salah satu bukti nyata adalah kitab Al-Siyfa’, sebuah ensiklopedia filsafat Arab yang terbesar yang terdiri dari empat bagian. Bagian I mengenai logika, bagian II mengenai fisika, bagian III tentang matematika, dan bagian IV membahas metafisika.
Selain adanya perkembangan ilmu yang dapat dikategorikan ke dalm bidang matematika, disika, kimia, geometri, dan yang sebagainya, sejarah juga mencatat kemajuan ilmu-ilmu keislaman, baik dalm bidang tafsir, hadis, fiqih, ushul fiqih, dan disiplin ilmu keislaman yang lain. Perkembangan ilmu tafsir dan ‘ulum Al-Qur’an belum menemukan bentuknya yang konkret sampai dengan Abad ke-3 H, khususnya dalam bidang ‘ulum Al-Qur’an pembahasnnya memperlihatkan dua bentuk. Pertama, pembahasan yang bersifat Juz’i, dan kedua bersifat Syamil. Bentuk yang pertama hanya membahas aspek tertentu dan tidak membahas aspek yang lain, sedangkan bentuk kedua membahas seluruh aspek dengan penulisan selengkap mungkin .
Masih berkaitan dengan era kejayaan keilmuan Islam, perlu juga disinggung sepintas transformasi ilmu dari dunia Islam ke Barat. Trjadinya transformasi kebudayaan dan khususnya ilmu dari dunia Islam ke Barat disebabka paling tidak dua alasan. Pertama, kontak pribadi,. Setelah penaklukan Arab atas Persia, Syiria, dan Mesir, orang-orang Kristen di Timur mengadakan kontak dengan orang-orang Islam. Mereka hidup bersama dan menikmati toleransi agama yang besar. Mereka juga mengikuti kegiatan intelektual kebudayaan kaum yang memiliki dokter-dokter, kimiawan, matematikus, dan para ahli astronomi yang membrikan sumbangan khusus dalam penerjemahan warisan Yunani ke dalam bahasa Arab.
Terjadinya kontak pribadi ini juga disebabkan karena Byzantium secara geografis berdekatan dengan Dunia Islam. Dari sinilah gagasan –gagasan Barat masuk ke Dunia Islam dan sebaliknya gagasan dari Dunia Islam masuk ke Barat, khususnya sesudah Perang Salib. Alasan kedua, adanya kegiatan penerjemahan. Tidak dapat dipungkiri kebudayaan Islamlah yang mendorong orang-orang latin melakukan penerjemahan. Setelah mengenal sebagian Khasanah kebudayaan islam kemudian mereka memperkaya pengetahuan tentangnya.
4. Masa Keruntuhan Tradisi Keilmuan dalam Islam
Abad ke-18 dalam sejarah Islam adalah yang paling menyedihkan bagi umat Islam dan memperoleh catatan buruk bagi peredaban Islam secara universal. Seperti yang diungkapkan Lothop Stodard, bahwa menjelang abad ke-18, dunia Islam akan merosot ke tingkat yang terendah. Islam tampaknya sudah mati, dan tertinggal hanyalah cangkangnya yang kering kerontang berupa ritual tanpa jiwa dan takhayul yang merendahkan martabat umatnya. Ia menyatakan seandainya Muhammad bias hidup kembali, dia pasti akan mengutuk pengikutnya sebagai kaum murtad dan musyrik.
Pernyataan Stodard diatas menggambarkan begitu dasyatnya proses jatuhnya peradaban dan tradisi keilmuan Islam yang kemudian menjadikan umat Islam sebagai bangsa yang dijajah oleh bangsa-bangsa Barat. Runtuhnya bangunan tradisi keilmuan secara garis besar dapat diterangkan sebagai berikut.
Dalam bukunya, The Recontruction of Religion Thought in Islam, iqbal menyatakan bahwa salah satu penyebab utama kematian semangat ilmiah di kalangan umat Islam adalah diterimanya paham Yunani mengenai realitas yang pada pokoknya bersifat statis, sementara jiwa Islam adalah dinamis dan berkembang. Ia selanjutnya mengungkapkan bahwa semua aliran Muslim bertemu dalam suatu teori Ibn Miskawaih mengenai kehidupan sebagai suatu gerak evolusi dan pandanga Ibn Khaldun mengenai sejarah.
Jika asumsi Iqbal di atas diterima, tetap apa yang dilukiskan oleh Amin Abdullah tentang kedinamisan ilmu ketika ia menyatakan menurut telaah filsafat ilmu, hampir semua jenis kegiatan ilmu, baik natural sciences maupun social sciences, bahkan religion sciences, selalu mengalami apa yang disebut dengan shifting paradigm (pergeseran gugusan pemikiran keilmuan). Kegiatan ilmu selamya bersifat historis, lantaran dibangun, dirancang dan dirumuskan oleh akal budi manusia yang bersifat historis. Yang dimaksud bersifat historis adalah terikat ruang dan waktu, terpengaruh oleh perkembangan pemikiran dan perkembangan kehiduan sosial yang mengitari penggal waktu tertentu.
Sebab lain yang menyebabkan kehancuran tradisis keilmuan Islam adalah persepsi yang keliru dalam memahami pemikiran Al-Ghazali. Orang umumnya mengecam Al-ghazali karena ia menolak filsafatseperti yang ia tuliskan dalam Tahafut al-sFalafasihnya. Padahal sebenarnya ia menawarkan sebuah metode ilmiah dan rasional, dan juga menekankan pentingnya pangamatan dan analisis, serta sikap skeptis. Hal ini misalnya ia tuangkan dalam karyanya berjudul al-Munqidz min al-Dlalal.
Fiqih merupakan ilmu pertama yang dikembangkan oleh Islam. Keempat sumbernya yang utama yaitu Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’, dan Qiyas, merupakan sumber hokum yang tetap. Namun kaena sikapnya yang tetap itulah kaum Muslimin harus menggunakan metode deduktif untuk sampai kepada keputusan mengenai masalah-masalah khusus, dan pada saat yang sama metode induktif kehilangan semangatnya. Di masa dekadensi, kegiatan intelektual sedang mencapai titiknya yang terendah, tidaklah mengherankan jika orang kemudian bersikap dogmatis dan taklid secara membuta.
Selain sebab-sebab di atas, kesulitan-kesulitan ijtihad dan mistisme asketik juga merupakan factor yang menyebabkan kemunduran tradisi intelektual dan keilmuan di Dunia Islam.
B. Kemajuan Ilmu Zaman Renaisans dan Modern
1. Masa Renaisans (Abad ke-15 hingga 16)
Ranaisans merupaka era sejarah yang penuh dengan kemajuan dan perubahan yang mengandung arti bagi perkembangan ilmu. Zaman yang menyaksikan dilancarkannya tantanga gerakan reformasi terhadap keesaan dan supremasi gereja Khatolik Roma, bersamaan denga berkembangnya Humanisme. Zaman ini merupakan penyempurnaan kesenian, keahlian dan ilmu yang diwujudkan dalam diri jenius serba bisa, Leonardo da Vinci. Penemuan percetakan (kira-kira 1440 M) dan ditemukan benua baru (1492 M) oleh Columbus memberika dorongan yang lebih keras untuk meraih kemajuan ilmu. Kelahiran kembali sastra Inggris, Perancis dan Spanyol diwakili Shakespeare, Spencer, Rabelais dan Rosard. Pada masa itu, seni music juga mengalami perkembangan. Adanya penemuan para ahli perbintangan seperti Copernicus dan Galileo menjadi dasar bagi munculnya astronomi modern yang merupakan titik balik dalam pemikiran ilmu dan filsafat.
Tidaklah mudah untuk membuat garis batas yang tegas antara zaman renaisans dan zaman modern. Sementara orang menganggap bahwa zaman modern hanyalah perluasan renaisans. Akan tetapi, pemikiran ilmiah itu membawa manusia lebih maju ke depan dengan kecepatan yang besar, berkat kemampuan-kemampuan yang dihasilkan oleh masa-masa sebelumnya. Manusia maju dengan langkah raksasa dari zaman uap ke zaman listrik, kemudian ke zaman atom, elektron, radio, televise, roket, dan zaman ruang angkasa.
Pada zaman renaisans ini manusia Barat mulai berpikir secara baru, dan secra berangsur-angsur melepaskan diridari otoritas kekuasaan gereja yang selama ini telah membelenggu kebebasan dalam mengemukakan kebenaran ilmu dan filsafat. Pemikir yang dapat dikemukakan dalam tulisan ini antara lain, Nicolas Copernicus (1473-1543 M) dan Francis bacon (1561-1626 M).
Copernicus adalah seorang tokoh gereja ortodoks, ia mengemukakan bahwa matahari berada di pusat jagad raya, dan bumi memiliki dua macam gerak, yaitu perputaran sehari-hari pada porosnya dan gerak tahunan mengelilingi matahari. Teorinya ini disebut Hellosentrisme, dimana matahari adalah pusat jagad raya, bukan bumi sebagaimana yang dikemukakan oleh Ptolomeus yng diperkuat gereja. Teori Ptolomeus ini disebut Geosentrisme, yang mempertahankan bumi sebagai pusat jagad raya.
Sekalipun Copernicus membuat model, namun alas an utamanya bukanlah sistemnya, melainkan keyakinannya bahwa prinsip Heliosentrisisme akan sangat memudahkan perhitungan. Copernicus sendiri tidak berniat untuk mengumumkan hasil temuaannya, terutama mengingat keadaan dan lingkunagn gereja pada waktu itu. Menurut gereja, prinsip Geosentrisme dinggap yang lebih benar daripada prinsip Heliosentrisisme. Tiap siang dan malam kita melihat semuanya mengelilingi bumi. Hal ini ditetapkan Tuhan, oleh agama, karena manusia merupakan pusat perhatian Tuhan, untuk manusialah semua ini diciptakan. Paham demikian disebut Homosentrisisme. Dengan kata lain, Geosentrisisme tidak dapat dipisahkan dari prinsip Heliosentrisisme. Jika dalam keadan demikian Heliosentrisisme dilontarkan, maka akan berakibat berubah dan rusaknya kehidupan manuusia saat itu.
Selain itu dalam perhitungan terbukti bahwa pergerakan benda angkasa tidak beraturan dan tidak sempurna. Pergerakannya mengikuti suatu ketentuan, yaitu bila matahari dihubungkan dengan sebuah planet oleh garis lurus dan planet ini bergerak X jam lamanya, maka luas bidang yang dilintasi garis lurus itu dalam waktu X jam selalu sama. Berdasarkan hukum ini, kalau planet berada paling dekat dengan matahari (perihelion) kecepatannya pun paling besar. Sebaliknya, jika planet berada paling jauh dari matahari (abhelion), maka kecepatannya paling kecil.
Hal ketiga yang ditemukan Keppler adalah perbandingan antara dua buah planet, misalnya A dan B. Bila waktu yang dibutuhkan untuk melintasi orbit oleh masing-masing planet adalah P dan Q, sedang jarak dari planet B ke matahari adalah X dan Y, maka P+: Q+ = X+: Y+. Dengan demikian Keppler menemukan tiga buah hukum astronomi, yaitu:
1. Orbit dari semua planet berbentuk elips
2. Dalam waktu yang sama, garis penghubung antara planet dan matahari selalu melintasi bidang yang luasnya sama.
3. Bila jarak rata-rata dua planet A dan B dengan matahari adalah X dan Y, sedangkan waktu untuk melintasi orbit masing-masing adalah P dan Q, maka P+ : Q+ = X+ : Y+.
Ketiga hukum Keppler itu ditemukan setelah dilakukan perhitungan selama kira-kira sepuluh tahun tanpa logaritma, karena pada waktu itu memang belum dikenal logaritma. Dari karya-karya Tycho dan Keppler tersebut dapat ditarik beberapa pelajaran. Pengumpulan bahan pengamatan yang teliti dan ketekunan yang terus-menerus menjadi landasan utama untuk perhitungan yang tepat memaksa disingkirkannya semua takhayul, misalnya tentang pergerakan sempurna atau pergerakan sirkuler. Bahan dan perhitungan yang teliti merupakan suatu jalan untuk menemukan hukum-hukum alam yang murni dan berlaku universal.
Ketiga hukum alam tentang planet ini sampai sekarang masih dipergunakan dalam astronomi, meskipun di sana-sini diadakan perbaikan seperlunya. Karya copernicus dan Keppler memberikan sumbangan yang besar bagi lapangan astronomi. Dalam tangan Copernicus, lapangan ini baru merupakan sebuah model untuk perhitungan. Dalam tangan Keppler, astronomi menjadi penentuan gerakan benda-benda angkasa dalam suatu lintasan yang tertutup. Akhirnya dalam tangan Newton, pergerakan ini diberi keterangan lengkap, baik mengenai ketepatan maupun bentuk elips-nya
Setelah Keppler, muncul Galileo (1546-1642) dengan penemuan lintas peluru, penemuan hukum pergerakan, dan penemuan tata bulan planet Jupiter. Penemuan tata bulan jupiter memperkokoh keyakinan Galileo bahwa tata surya bumi bersifat heliosentrik. Sebagai sarjana matematika dan fisika, galileo menerima prinsip tata surya yang heliosentris serta hukum-hukum yang ditemukan Keppler. Galileo dapat pula pula membuat sebuah teropong bintang. Dengan teropong itu ia dapat melihat beberapa peristiwa angkasa secara langsung. Yang terpenting dan terakhir ditemukannya adalah planet Jupiter yang dikelilingi oleh empat buah bulan.43
Galileo membagi sifat benda dalam dua golongan, yaitu Pertama, golongan yang langsung mempunyai hubungan dengan metode pemeriksaan fisik, artinya yang mempunyai sifat-sifat primer (primary qualities) seperti berat, panjang, dan lain-lainsifat yang dapat diukur. Kedua, golongan yang tidak mempunyai peranan dalam proses pemeriksaan ilmiah, disebut sifat-sifat sekunder (secondary qualities), seperti sifat warna, asam, manis, dan tergantung dari pancaindra manusia. Sejak galileo, ilmu pada umumnya tidak dapat memeriksa sifat kehidupan, karena sifatnya subjektif, tidak dapat diukur, dan tidak dapat ditemukan satuan dasarnya. Hal itulah yang membuat Galileo dianggap sebagai pelopor perkembangan ilmu dan penemu dasar ilmu modern, yang hanya berpegang pada soal-soal yang objektif saja.
Pada masa yang bersamaan dengan Keppler dan Galileo ditemukan logaritma oleh napier (1550-1617) berdasarkan basis e, yang kemudian diubah ke dalam dasar 10 oleh briggs(lahir tahun 1615) dan kemudian diperluas oleh Brochiel de Decker (lahir tahun 1626). Ketika Keppler mendengar tentang penemuan itu, ia memberikan reaksi bahwa jika ia dapat mempergunakan penemuan logaritma, perhitungan yang 11 tahun dapat dipersingkat sekurang-kurangnya menjadi satu bulan.
Pada masa Desarque (1593-1662) ditemukan Projective Geometry, yang berhubungan dengan cara melihat sesuatu, yaitu manusia A melihat benda P dari tempat T. Oleh karena “melihat” hanya mungkin jika ada cahaya, sedangkan cahaya memancar lurus, maka seolah-olah mata dihubungkan dengan benda oleh satu garis lurus. Sedang Fermat, juga mengembangkan Ortogonal Coordinate System, seperti halnya Descartes. Di samping itu, ia juga melaksanakan penelitian teori Al-jabar berkenaan dengan bilangan-bilangan dan soal-soal yang dalam tangan Newton dan Leibniz kemudian akan menjelma sebagai perhitungan diferensial-integral (calculus). Fermat bersama-sama Pascal menyusun dasar-dasar perhitungan statistik.
2. Zaman Modern (Abad 17-19 M)
Setelah galilio, fermat, pascal, dan keppler berhasil mengembangkan penemuan mereka dalam ilmu, maka pengetahuan yang terpencar-pencar itu jatuh ke tangan dua sarjana, yang dalam ilmu modern memgang peran yang sangat penting. Mereka adalah Isaac Newton (1643-1727) dan Leibniz (1646-1716). Di tangan dua orang sarjana inilah sejarah ilmu modern dimulai.
Newton, sekalipun ia menjadi pimpinan sebuah tempat pembuatan uang logam di kerajaan Inggris. Ia tetap menekuni dalam bidang ilmu. Lahirnya Teori Gravitasi, perhitungan calculus dan Optika merupakan karya besar Newton. Teori Gravitasi Newton dimulai ketika muncul persangkaan penyebab planet tidak mengikuti pergerakan lintas lurus, apakah matahari yang menarik bumi atau antara bumi dan matahari ada gaya saling tarik menarik.
Persangkaan tersebut kemudian dijadikan Newton sebagai titik tolak untuk spekulasi dan perhitungan-perhitungan. Namun hasil perhitungan itu tidak memuaskan Newton, semua persangkaan dan perhitungan lalu ditangguhkan. Baru kira-kira 16 tahun kemudian soal itu ditanganinya lagi setelah ia berhasil mengatasi beberapa hal yang ada pada awal penyelidikan belum disadarinya. Teori Gravitasi memberikan keterangan, mengapa planet tidak bergerak lurus, sekalipun kelihatannya tidak ada pengaruh yang memaksa planet harus mengikuti lintasa elips. Sebenarnya, pengaruhnya ada, tetapi tida dapat dilihat dengan mata dan pengaruh itu adalah Gravitasi, yaitu kekuatan yang selalu akan timbul jika ada dua benda yang saling berdekatan.
Berdasarkan teori Gravitasi dan perhitungan-perhitungan yang dilakukan Newton, dapat diterangkanlah dasar dari semua lintasa planet dan bulan, pengaruh pasang air samudra dan lain-lain peristiwa astronomi, justru dalam lapangan astronomilah, ketepatan teori Gravitasi makin meyakinkan, sehingga tidak ada lagi yang tidak percaya tentang adanya Gravitasi ini.
Perhitungan calculus atau yang disebut juga diferensial/integral oleh Newton di Inggris dan Leibniz di Jerman, terbukti sangat luas gunanya untuk menghitung bermacam-macam hubungan antara dua atau lebih banyak hal yang berubah, bersama dengan ketentuan yang teratur. Misalnya, kecepatan planet mengelilingi matahari yang berbeda-beda sepanjang lintasan, menemukan maxima dan minima dari suatu kurva, menemukan tambahan luas lingkaran bila radius berubah sedikit sekali, dan lain sebagainya. Setelah calculus ditemukan banyak sekali perhitungan dan pemeriksaan ilmiah dapat diselesaikan, sebelumnya tingga problematic saja. Tanpa calculus, ilmu matematika tidak dapat berkembang seperti sekarang ini.
Penemuan ketiga yang mendasari ilmu alam adalah pemeriksaan Newton mengenai cahaya dan lazim disebut optika. Dengan mempertimbangkan bahwa cahaya masuk melalui lensa sedangkan bagian perifer lensa mendekati bentuk prisma, sehingga cahaya perifer terbias menjadi pelangi yang disebut chromatic aberration, maka Newton membuat telescope tanpa lensa, ia menggunakan cermin cekung yang berdasarkan pemantulan cahaya sehingga tidak terjadi pembiasan.
Pada masa sesudah Newton, perkembangan ilmu selanjutnya adalah berupa ilmu kimia. Pada masa Newton, ilmu yang berkembang adalah metematika, fisika, dan astronomi. Pada periode selanjutnya ilmu kimia menjadi kajian yang amat menarik. Ilmu kimia tidak mulai dengan logika, aksioma, ataupun deduksi. Semua permulaan ilmu kimia praktis berdasarkan percobaan-percobaan yang hasilnya kemudian ditafsirkan. Pada permulaannya, semua percobaan bersifat kualitatif.
Joseph Black (1728-1799) dikenal sebagai pelopor dalam pmeriksaan kualitatif, ia menemukan gas CO2. Ia melakukan pemanasan terhadap kapur. Hawa yang keluar kemudian dialirkan melalui air kapur yang sudah disaring lebih dahulu. Pada waktu hawa yag keluar dari kapur mengalir, maka air kapur yang jernih menjadi keruh. Demikian pula Henri Cavendish (1731-1810) memeriasa gas yang terjadi jika serbuk besi disiram dengan asam dan menghasilkan hawa yang dapat dinyalakan. Sarjana lain, yaitu Joseph Prestley (1733-1804), menemukan Sembilan macam hawa No dan oksigen yang antara lain dapat dihasilkan oleh tanaman. Oksigen ini dapat ‘menyegarkan’ hawa yang tidak dapat lagi menunjang pembakaran. Antonine Laurent Lavoiser (1743-1794) jadilah sarjana yang meletakkan dasar ilmu kimia sebagaimana yang kita kenal sekarang.
Berdasarkan penemuan Black, Cavendish, Priestley, dan lain-lainnya, Lavoiser melaksanakan percobaan yang didasarkan pada “timbangan” bahan-bahan sebelum dan sesudahnya percobaan. Dengan demikian ia mulai menggunakan pengukuran dalam lapangan kimia; dengan kata lain, ia meninggalkan percobaan yang hanya bersikap komulatif dan berpindah ke lapangan yang bersifat kuantitatif.
Di samping perkembangan ilmu kimia, zaman yang sama ditemuan bermacam-macam mesin tanpa ada dasar ilmunya, melainkan atas dasar percobaan, misalnya mesin uap–, yang kemudian mendasari kereta api—, percobaan-percobaan listrik, dan lain-lainnya, penemuan-penemuan itu semuanya melandas Revolusi Industri (Industrial Revolution) terutama di Inggris, tetapi kemudian juga meluas di seluruh benua Eropa. Penemuan-penemuan empiris tentang kekuatan uap dan penemuan lainnya kemudian dijadikan percobaan-percobaan dalam laboratorium. Pemeriksaan itu akhirnya menghasilkan hukum-hukum dan rumus empiris, uang melandasi perkembangan teoritis selanjutnya.
Kalau penemuan ilmu kimia dan penemuan mesin-mesin pada awalnya tidak langsung mempunyai hubungan dengan teori ilmu sebagaimana dikembangkan oleh Galileo, Descartes, Keppler, Pascal, Newton, dan Leibniz, perkembangan ilmu setingkat lebih maju daripada apa yang telah dicapai oleh sarjana-sarjana yang telah disebut tadi.
Percobaan selanjutnya dilakukan oleh J. L. Proust (1754-1826) mengenai atom. Dalam menganalisis oxyda dari berbagai logam, J. L. Proust sampai pada pendapat bahwa perbandingan bahanbahan yang ikut serta dalam proses tersebut selalu tetap, demikian pula dengan sulfide dari logam. Demikian pula dengan John Dalton (1766-1844) yang mendapatkan ilham untuk menetapkan kesatuan (a unit), untuk mencari keterangan tentang perbandingan yang selalu tetap. Dalam hal ini yang dijadikan kesatuan adalah hydrogenium. Berdasarkan penemuan dan ketentuan ini, maka perbandingan berat hydrogenium lawan atom lain-lainnya disebut berat atom.
Sejak Dalton, teori tentang atom terus dapat dipergunakan dalam lapangan ilmu kimia, juga oleh Frederich Wohler (1800-1882) untuk menemukan sintesis urea dalam tahun 1828. Pada sekitar tahun 1895, Henri Becquerel (1852-1908), suami istri curie (1859-1906) dan J. J. Thompson (1897) menemuakn radium, logam yang dapat berubah menjadi logam lain, sedangkan Thompson menemuakn elektron. Dengan penemuan itu, runtuhlah pendapat dan aksioma yang menyatakan bahwa atom adalah bahan terkecil yang tidak dapat berubah dan yang bersifat kekal. Dengan penemuan ini, mulailah ilmu baru dalam kerangka kimia-fisika, yaitu fisika nuklir, yang pada zaman sekarang dapat mengubah bermacam-macam atom.
Secara singkat dapat ditarik sebuah sejarah ringkas ilmu-ilmu yang lahir saat itu. Perkembangan ilmu pada abad ke-18 telah melahirkan ilmu seperti taksonomi, ekonomi, kalkulus, dan statistika. Di abad ke-9 lahir semisal pharmakologi, geofisika, geormorphologi, palaentologi, arkeologi, dan sosiologi. Abad ke-20 mengenal ilmu teori informasi, logika matematika, makanika kuantum, fisika nuklir, kimia nuklir, radiobiology, eceanografi, antropologi budaya, psikologi, dan sebagainya.
Sekitar tahun 1900 sampai tahun 1914 terjadi berbagai perubahan berdasarkan teori kenisbian. Ada teori baru yang mengatakan bahwa ruang dan waktu tidak lagi berpisah sebagaimana dipahami oleh ahli fisika sebelumnya. Ruang dan waktu merupakan satu kesatuan mutlak untuk memeriksa dan menerangkan semua peristiwa.
Perlu diketahui pula bahwa pada zaman modern ini terjadi revolusi Industri di Inggris, sebagai akibat peralihan masayarakat agraris dan perdagangan abad pertengahan ke masyarakat industri modern dan perdagangan maju. Pada abad inilah James Watt menemuan mesin uap (abad ke-18), alat tenun dan Inggris menjadi penghasil tekstil terbesar, kemudian diikuti Amerika Serikat dan Jepang menjadi Negara industri.
Setelah abad ke-18 berakhir maka perkembangan ilmu modern selanjutnya yaitu pada abad ke-19. Pada abad ini penemuan yang dianggap sebagai penemuan abad tersebut adalah dengan ditemukannya planet Neptunus. Sedang pada abad XX, secara garis besar terjadi perkembangan yang sangat luas dalam beberapa bidang ilmu. Misalnya ilmu pasri, ilmu kimia, ilmu fisika, kimia organik, biokimia, ilmu astronomi, ilmu biologi, dan fisika nuklir. Di samping ilmu-ilmu yang permulaannya bersifat kualitatif, seperti ekonomi, psikologi, dan sosiologi. Perkembangan pesat dalam bidang astronomi pada abad XX ini seprti ditemukannya planet terakhir, yaitu Pluto (1930) setelah abad sebelumnya, yaitu abad XIX telah ditemukan planet Neptunus dengan didasari perhitungan yang menggunakan sistem Newton. Dalam abad XX ini, pengetahuan diperluas. Kalau dalam abad XIX tidak dapat diterangkan sumber energy matahari, sekarang dapat diketahui bahwa energi tersebut terjadi berdasarkan perubahan atom, yang zaman sekarang menjadi tenaga nuklir.
3. Ilmu yang Berbasis Rasionalisme dan Empirisme
Dengan bertambah majunya alam pikiran manusia dan makin berkembangnya cara-cara penyelidikan pada zaman modern ini, manusia dapat menjawab banyak pertanyaan tanpa mengarang mitos. Menurut A. Comte, dalam perkembangan manusia, sesudah tahap mitos, manusia berkembang dalam tahap filsafat. Pada tahap filsafat, rasio sudah terbentuk, tetapi belum ditemukan metode berpikir secara objektif. Rasio sudah mulai dioperasikan, tetapi kurang objektif. Berbeda dengan pada tahap teologi, pada tahap filsafat ini manusia mencoba mempergunakan rasionya untu memahami objek secara dangkal, tetapi objek belum dimasuki secara metodologis yang definitif.
Dalam Positivisme Auguste Comte, ia membedakan tiga tahap evolusi dalam pemikiran manusia. Teori tersebut terkenal dengan nama “Teori Tiga Tahap”. Berdasarkan teori ini, seluruh sejarah pemikiran manusia berevolusi dari tahap teologi (mistis) ke tahap falsafi, dan akhirnya pada tahap positivistis sebagai kemenangan pasti akal. Dalam tahap teologis, semua fenomena dijelaskan dengan menunuk kepada sebab-sebab supernatural dan intervensi sesuatu yang bersifat ilahi, dan segala problematika manusia dipecahkan dengan mengacu pada dunia Tuhan. Dalam tahap falsafi, pemikiran diarahkan menuju prinsip-prinsip danide-ide tertinggi. Dalam tahap ini “hakikat” segala sesuatu menjadi keterangan terakhir. Kemudian dalam tahap positivistis orang mengucapkan selamat tinggal untuk selama-lamanya pada dunia dewa-dewa dan hakikat-hakikat, dan membatasi penyelidikan ilmu pada “fakta”. Langkah terakhir ini menolak semua konstruksi-hipotesis di dalam filsafat dan membatasi diri pada observasi empirik dan hubungan fakta-fakta di bawah bimbingan metode-metode yang dipergunakan dalam ilmu-ilmu alam.
Berkat pengamatan yan sistematis dan kritis, lambat laun manusia berusaha mencari jawab secara rasional dengan meninggalkan cara yang rasional. Kaum rasionalis mengembangkan paham Rasionalisme. Dlaam menyusun pengetahuan, kaum rasionalis menggunakan penalaran deduktif. Penalaran deduktif adalah cara berpikir yang bertolak dari pernyataan yang bersifat umum untuk menarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif ini menggunakan pola berpikir yang disebut silogisme. Silogisme ini terdiri atas dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. Kedua pernyataan disebut premis mayor atau premis minor. Kesimpulan diperoleh dengan penalaran deduktif dari kedua premis itu.
Contoh:
Semua makhluk bernafas (premis mayor)
Si Budi adalah seorang makhluk (premis minor)
Jadi, si Budi juga bernafas (kesimpulan)
Pengetahuan yang diperoleh berdasarkan penalaran deduktif ternyata mempunyai kelemahan, maka muncullah pandangan lain yang berdasarkan pengalam konkret. Mereka yang mengembangkan pengetahuan berdasarkan pengalaman konkret ini disebut penganut empirisme. Paham empirisme menganggap bahwa pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang diperoleh langsung dari pengalaman konkret. Menurut paham empirisme ini, gejala itu bersifat konret dan dapat ditangkap dengan pancaindera manusia. Dengan pertolongan pancainderanya, manusia berhasil menghimpun sangat banyak pengetahuan.
Penganut empirisme menyusun pengetahuan dengan menggunakan penalaran induktif. Penalaran induktif ialah cara berpikir dengan menarik kesimpulan umum dari pengamatan atas gejala-gejala yang bersifat khusus. Misalnya pada pengamatan atas logam besi, aluminium, tembaga, dsan sebagainya, jika dipanasi ternyata menunjukkan bertambah panjang. Dari sini dapat disimpulkan secara umum bahwa logam jika dipanasi akan bertambah panjang.
4. Perkembangan Filsafat pada Zaman Modern
Pada zaman modern filsafat dari berbagai aliran muncul. Pada dasarnya corak keseluruhan filsafat modern itu mengambil warna pemikiran filsafat sufisme Yunani, sedikit pengecualian pada Kant. Paham-paham yang muncul dalam garis besarnya adalah rasionalisme, idealism, dan empirisme. Dan paham-paham yang merupaan pecahan dari aliran itu. Paham rasionalisme mengajarkan bahwa akl itulah alat terpenting dalam memperoleh dan menguji pengetahuan. Ada tiga tokoh penting pendukung rasionalisme ini, yaitu Descartes, Spinoza, dan Leibniz.
Sedangkan paham idealism mengajarkan bahwa hakikat fisi adalah jiwa, spirit. Ide nini merupakan ide Plato yang memberian jalan untuk mempelajari paham idealism zaman modern. Para pengikut aliran ini pada umumnya, sumber filsafatnya mengikuti filsafat kritisismenya Immanuel Kant. Fitche (1762-1831) yang dijuluki sebagai penganut idealism subjektif merupakan murid Kant. Sedang Scelling, filsafatnya dikenal dengan filsafat idealism objektif. Kedua idealism ini lalu disintesiskan dalam filsafat idealism mutlaknya Hegel (1770-1831).
Pada paham empirisme dinyatakan bahwa tidak ada sesuatu dalam pikiran kita selain didahului oleh pengalaman. Paham ini bertolak belakang dengan paham rasionalisme. Mereka menentang pendapat para penganut rasionalisme yang berdasarkan atas kepastian-kepastian yang bersifat a priori. Pelopor aliran ini adalah Francis Bacon, kemudian dikembangkan oleh Thomas Hobbes, John Lock, dah David Hume.
Sedangkan pada abad XX, aliran filsafat banyak sekali sehingga sulit digolongkan, karena makin eratnya kerja sama internasional. Namun sifat-sifat filsafat pada abad ini lawannya abad XIX, yaitu anti positivistis, tidak mau bersistem, realistis, menitikberatkan pada manusia, pluralistis, antroposentrisme, dan pembaentukan subjektivitas modern.
C. Kemajuan Ilmu Zaman Kontemporer
Perkembangan dan kemajuan peradaban manusia tida bisa dilepaskan dari peran ilmu. Bahkanperubahan pola hidup manusia dari waktu ke waktu sesungguhnya berjalan seiring dengan sejarah kemajuan dan perkembangan ilmu. Tahap-tahap perkembangan itu kita menyebut dalam konteks ini sebagai periodesasi sejarah perkembangan ilmu; sejak dari zaman klasik, zaman pertengahan, zaman modern, dan zaman kontemporer.
Kemajuan ilmu dan teknologi dari masa ke masa adalah ibarat mata rantai yang tidak terputus satu sama lain. Hal-hal baru yang ditemukan pada suatu masa menjadi unsur penting bagi penemuan-penemuan lainnya di masa berikutnya. Demikianlah semuanya saling terkait. Oleh karena itu, melihat sejarah perkembangan ilmu zaman kontemporer, tidak lain adalah mengamati pemanfaatan dan pengembangan lebih lanjut dari rentetean sejarah ilmu sebelumnya. Kondisi itulah yang kemudian mengalami percepatan atau bahkan radikalisasi yang tidak jarang berada di luar dugaan manusia itu sendiri.
Yang dimaksud dengan zaman kontemporer dalam konteks ini adalah era tahun-tahun terakhir yang kita jalani hingga saat sekarang ini. Hal yang membedakan pengamatan tentang ilmu di zaman modern dengan zaman kontemporer adalah bahwa zaman modern adalah era perkembangan ilmu yang berawal sejak sekitar abad ke-15, sedangkan zaman kontemporer memfokuskan sorotannya pada berbagai perkembangan terakhir yang terjadi hingga saat sekarang.
Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, sebagai kelanjutan mata rantai sejarah perkembangan ilmu, berbagai hal baru yang ditemukan dan dapat kita amati di era kontemporer, tidak terlepas dari berbagai penemuan dan dasar-dasar ilmu yang telah ada dan diciptakan oleh para penemu, pakar, atau filosof di masa-masa sebelumnya.
Sebagaimana ilmu di zaman modern mempunyai karakteristik khusus yang membedakannya dengan ilmu di zaman klasik dan zaman pertengahan, maka ilmu kontemporer pun demikian.
Akan kita lihat terlebih dahulu secara sederhana potret ilmu modern yang telah melahirkan hal-hal radikal yang membedaannya dengan ilmu di zaman pertengahan dan klasik. Zaman modern misalnya, dalam banyak hal melakukan dekonstruksi terhadap teori-teori yang dianggap established (mapan) pada masa pertengahan atau zaman klasik. Setidaknya dua contoh yang sangat menonjol bisa dikemukakan di sini. Pertama, pendapat yang dikemunkakan oleh Copernicus (1473-1543) tentang teori heliosentrisme, bahwa matahari adalah pusat tata surya dan planet-planet termasuk bumi berputar mengelilingi matahari. Teori ini jelas-jelas bertentangan dengan pendapat yang diterima secara umum manusia saat itu, yaitu geosentrisme yang menyatakan bahwa bumilah yang menjadi pusat tata surya.
Kedua, metode indutif yang diperkenalkan oleh Francis Bacon (1560-1626). Ia telah memberikan sumbangan yang penting dalam menembus metode berpikir deduktif yang penggunaannya secara berlebihan telah menyebabkan dunia keilmuan mengalami kemacetan. Francis bacon menekankan untuk mendasarkan semua pengetahuan dan ilmu atas dasar pengalaman. Ia menganjurkan agar para sarjana, dalam menyusun ilmu, mengumpulkan sebanyak mungkin fakta pengalaman (empirical brute facts) untuk selanjutnya dianalisis.
Membuat deskripsi atau eksposisi tentang perkembangan ilmu di zaman kontemporer berarti menggambarkan aplikasi ilmu dan teknologi dalam berbagai sektor kehidupan manusia. Iltulah salah satu karakteristik utama ilmu di zaman kontemporer yang dalam kerangka umumnya sekaligus menjadi persamaan sifat perkembangan ilmu zaman kontemporer. Hal ini tidak saja terjadi di lapanganilmu eksakta, tapi juga ilmu-ilmu social dan juga keagamaan. Para pencinta ilmu di bidang mereka masing-masing berusaha untuk menjadikan ilmu dan pengetahuan yang menjadi bidang mereka dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi manusia dan kemanusiaan.
Satu hal yang tak sulit untuk sepakati, bahwa hamper semua sisi kehidupan mausia modern telah disentuh oleh berbagai efek perkembangan ilmu dan teknologi. Sector ekonomi, politik, pertahanan dan keamanan, social dan budaya, komunikasi dan transportasi, pendidikan, seni, kesehatan, dan lain-lain, semuanya membutuhkan dan mendapat sentuhan teknologi.
Bila di zaman purba, manusia prasejarah tercatat mempunyai benih ilmu bidang astronomi, kemudian mulai mengenal tulisan dan hitungan yang mengawali zaman sejaarah, lalu zaman modern diidentikkan dengan masa Renaissance sebagai masa bangkitnya kembali Eropa dari kegelapan, maka zaman kontemporer sangat kental dengan inovasi-inovasi teknologi di berbagai bidang.
Satu hal lain yang menjadi karakter spesifik ilmu ontemporer, dan dalam konteks ini ciri tersebut akan lebih dapat kita temukan secara relatif lebih mudah pada bidang-bidang social yaitu bahwa ilmu kontemporer tidak segan-segan melakukan dekonstruksi dan peruntuhan terhadap teori-teori ilmu yang pernah ada untuk kemudian menyodorkan pandangan-pandangan baru dalam rekonstruksi ilmu yang mereka bangun. Dalam hal inilah, penyebutan wacana “postmodernisme” dalam bidang ilmu dan filsafat menjadi diskursus yang akan cukup banyak ditemukan.
Begitulah perkembangan ilmu di zaman kontemporer meliputi hampir seluruh bidang ilmu dan teknologi, ilmu-ilmu social seperti sosiologi, antropologi, psikologi, ekonomi, hukum dan politik, serta ilmu-ilmu eksakta seperti fisika, kimia, dan biologi, serta aplikasi-aplikasinya di bidang teknologi rekayasa genetika, informasi dan komunikasi, dan lain-lain.
Beberapa Contoh Perkembangan Ilmu Kontemporer
a. Santri, Priyayi, dan Abangan
Dalam kajian ilmu sosial keagamaan di Indonesia, penelitian Clifford Geertz yang dalam versi aslinya berjudul The Religion of Java merupakan satu bahasan yang menari. Penelitian serius Geertz tersebut kemudian lebih banyak dipopulerkan sebagai kerangka tipologisasi keberagaman masyarakat Jawa menjadi santri, abangan, dan priyayi. Untuk menyajikan abstraksi yang lebih otortitatif tentang pneleitian Geertz ini, penulis mengutik penggambaran Parsudi Suparlan dalam pengantarnya terhadap buku Clifford Geertz Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa yang merupakan edisi Indonesia dari buku aslinya The Religion of Java.
Arti penting karya Geertz The Religion of Java adalah sumbangannya kepada pengetahuan kita mengenai sistem-sistem simbol, yaitu bagaimanan hubungan antara struktur-struktur sosial yang ada dalam suatu masyarakat dengan pengorganisasian dan perwujudan simbol-simbol, dan bagaimana para anggota masyarakat mewujudkan adanya integrasi dan disintegrasi dengan cara mengorganisasi dan mewujudkan simbol-simbol tertentu, sehingga perbedaan-perbedaan yang tampak di antara struktur-struktur sosial yang ada dalam masyarakat tersebut hanyalah bersifat komplementer.
Tiga lingkungan yang berbeda (yaitu pedesaan, pasar, dan kantor pemerintahan) yang dibarengi dengan latar belakang sejarah kebudayaan yang berbeda (yang berkaitan dengan masuknya agama serta peradaban Hindu dan Islam di Jawa) telah mewujudkan adanya Abangan (yang menekankan pentingnya animistik), Santri (yang menekankan aspek-aspek Islam), Priyayi (yang menekankan aspek-aspek Hindu). Perwujudan citra agama masing-masing struktur sosial tersebut adalah pesta-pesta ritual yang berkaitang dengan usaha-usaha untuk menghalau berbagai makhluk halus jahat yang dianggap sebagai penyebab dari ketidakteraturan dan kesengsaraan dalam masyarakat, agar ekuilibrium dalam masyarakat dapat dicapai kembali (Abangan); penekanan pada tindakan-tindakan keagamaan dan upacara-upacara sebagaimana digariskan dalam Islam (Santri); dan suatu kompleks keagamaan yang menekankan pada pentingnya hakikat halus sebagai lawan dari kasar (kasar dianggap sebagai ciri-ciri utama Abangan), yang perwujudannya tampak dalam berbagai sistem simbol yang berkaitan dengan etiket, tari-tarian dan berbagai bentuk kesenian, bahasa, dan pakaian (Priyayi).
Abangan, Santri, dan Priyayi, yang walaupun masing-masing merupakan struktur-struktur sosial yang berlainan, tetapi masing-masing saling melengkapi satu sama lainnya dalam mewujudkan adanya sistem sosial Jawa yang berlau umum di Mojokuto. Inilah sesungguhnya tesis Geertz yang diusahakan untuk diperlihatkan dalam bukunya The Religion of Java, yaitu agama bukan hanya memainkan peranan bagi terwujudnya integarasi tetapi juga memainkan peranan pemecah-belah dalam masyarakat. Walaupun demikian, tampakanya yang lebih menjadi perhatian Geertz adalah masalah perpecahan dalam sistem sosial Jawa di Mojokuto dan bukannya integrasi yang terwujud di dalamnya, sebagaimana dikemukakan oleh Harsja W. Bachtiar dalam pembahasannya (1973). Hal ini mungkin adanya penekanan perhatian Geertz pada dimensi struktur sistem sosial.
Satu lagi, perlu juga kita lihat ulasan yang menjadi back cover buku Clifford Geertz edisi Indonesia tersebut. Pengarangnya memilih masyarakt kota kecil Mojokuto, Jawa Timur, sebagai objek penelitian dan pengkajian. Namun untuk kelengkapannya, pengarang juga membahas pandangan tiga golongan yang memiliki subtradisi masing-masing: abangan, yaitu golongan petani kecil, yang sedikit banyak memiliki persamaan dengan “religi rakyat” Asia Tenggara; Santri, yaitu pemeluk agama Islam yang taat pada umumnya terdiri dari pedagang di kota dan petani yang berkecukupan; dan Priyayi, yaitu golongan yang masih memiliki pandangan Hindu-Budha, yang kebanyakan terdiri dari golongan terpelajar, dolongan atas, penduduk kota, terutama golongan pegawai.
Penelitian Clifford Geertz hingga ini mendapat perhatian dari para ilmuwan. Berbagai penelitian dilakukan untuk menguji, membuktikan atau bahkan meruntuhkan tesis Geertz tentang kategorisasi keberagaman masyarakat Jawa itu. Beberapa yang bisa penulis sebutkan di sini misalnya seperti penelitian antropologis yang dilakukan oleh Bambang Pranowo (1994), Robert W. Hefner (1987), dan Mark Woodward (1984), yang membantah klaim Geertz. Para pakar ini menemukan bahwa masyarkat Jawa secara umum adalah santri, adapun “genre” abangan tidak signifikan.
Klaim tentang runtuhnya tesisi “santri-abangan”-nya Clifford Geertz juga dikemukakan oleh hasil penelitian PPIM UIN Jakarta. Penelitian tersebut dilakukan pada tahun 2001 dengan populasi yang luas (sekitar 85% populasi nasional) dan dengan sistem random sampling (metode pengambilan sample secara acak, tidak hanya sebuah kota kecil kecamatan atau sebuah desa) sehingga punya daya generalisasi dan klaim yang besar. Penelitian PPIM ini bahkan juga mencoba menunjukkan adanya suatu dialektika, di mana orang yang lebih intensif dalam menjalankan ritual wajib maupun sunnah dalam Islam berkolerasi positif dan signifikan dengan status sosial-ekonomi (gabungan antara pendidikan, jenis pekerjaan, pendapatan, dan kategori desa-kota). Korelasinya sekitar 15%. Sebaliknya, seorang muslim yang semakin intensif dalam melaksanakan ritual abangan semakin negatif korelasinya dengan status sosial-ekonomi (korelasinya sekitar 25%).
Penelitian Clifford Geertz yang kemudian mendapat banyak tantangan dari para pakar dan peneliti sesudahnya juga terjadi pada bidang-bidang ilmu lainnya. Masih untuk bidang sosial keagamaan, misalnya juga terjadi perdebatan panjang tentang statemen Samuel P. Huntington mengenai teori Clash of Civilization. Dan banyak tema-tema lainnya yang terus berkembang dan menjadi bukti bagi terus berkembangnya ilmu dari waktu ke waktu.
b. Teknologi Rekayasa Genetika
Salah satu bentuk perkembangan ilmu zaman kontemporer yang sangat masyhur adalah di bidang rekayasa genetika berupa teknologi kloning. Teknologi ini pertama sekali dilakukan oleh Dr. Gurdon dari Medical Research Council Laboratory of Molecular Biology, Universitas Cambridge, Inggris, tahun 1961. Gurdon berhasil memanipulasi telur-telur katak sehingga menjadi kecebong yang identik (kecebong kloning).
Tiga puluh dua tahun setelah itu, tahun 1993, Dr. Jerry Hail berhasi mengkloning embrio manusia dengan teknik pembelahan (embryo splitting technique). Hanya saja, semua kloning yang dihasilkan saat itu rusak. Empat tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 23 Februari 1997, Dr. Ian Wilmut dari Scotland’s Roslin Institute, berhasil melakukan kloning mamalia pertama dengan kelahiran domba yang diberi nama Dolly. Teknik yang digunakan Dr. Wilmu dikenal dengan alih inti sel somatic atau Somatic Cell Nuclear Transfer (SCNT), yaitu mengambail inti sel somatik dari domba jenis tertentu (sebut misalnya domba A) untuk kemudian diinjeksikan ke dalam sel telur domba jenis lainnya (misalnya domba B). Sebelum injeksi dilakukan, sel telur tersebut sudah diambil terlebih dahulu inti selnya (dikosongkan). Dengan suatu loncatan listrik, inti sel domaba A akan berkembang dan membelah. Dan pada akhirnya akan tumbuh menjadi individu baru.
Masih pada tahun 1997, lahir lembu kloning pertama yang diberi nama Gene. Tekni yang digunakan sedikit berbeda dengan pembuatan “Dolly”. Pembuatan Gene diawali dengan koleksi sel-sel janin yang sangat muda dari anak lembu. Sel-sel tersebut kemudian ditumbuhkan sedimikian rupa sampai siap dimasukkan ke dalam sel telur lembu betina.
Setahun kemudian, para peneliti di Universitas Hawai yang dipimpin oleh Dr. Teruhiko Wakayama berhasil melakukan kloning terhadap tikus hingga lebih dari lima generasi. Teknik yang digunakan kali ini juga berbeda dengan sebelumnya. Mereka menggunakan teknik micro injection dengan tingkat keberhasilan tiga persen. Peluang keberhasilan teknik kloning ini lebih besar dari teknik SCNT yang ditak sampai satu persen.
Di tahun 2000, Prof. Gerald Schatten dari Oregon Healtin Sciences University, Amerika, berhasil membuat kera kloning yang diberi nama Tetra. Teknik yang digunakan adalah pembagian embrio atau Embryo Splitting Technique (EST). Pada dasarnya EST adalah penyempurnaan dari teknik yang dipergunakan oleh Dr. Jerry Hall pda tahun 1993. Pada teknik ini, telur dari betina dan sperma dari jantan dipakai untuk membentuk telur yang terbuahi (fertilized egg). Setelah embrio tumbuh menjadi 8 sel, para peneliti membaginya menjadi 4 embrio yang identik, masing-masing terdiri dari 2 sel. Langkah selanjutnya, keempat emberio tersebut diimplikasikan ke dalam surrogete mother. Lalu, lahirlah kemudian kera kloning. Individu yang dihasilkan dari teknik ini 100 persen identik dengan sel sumbernya. Karena itulah para ahli menyebut teknik ini dengan artificial twinning atau kembar buatan.
Begitulah teknik rekayasa genetika berkembang dari waktu ke waktu. Dan setelah berbagai keberhasilan teknik kloning yang telah pernah dilakukan, para ahli malah lebih berencana menerapkan teknik kloning pada manusia. Dari ide inilah, wacana kloning menjadi sesuatu yang semakin controversial.
c. Teknologi Informasi
Pada tahun 1937, seorang insinyur Amerika bernama Howar Aiken merancang IBM Mark 7 yang merupakan nenek moyangnya komputer mainframe saat ini. Computer tersebut menggunakan tabung vakum dan elektro mekanikal dan bukan tombol-tombol elektronis.
Komputer elektronik pertama yang sukses secara komersial adalah UNIVAC. Komputer ini dirancang oleh Eckert dan Mauchly dan diperkenalkan pada tahun 1951. Selanjutnya, muncul komputer bertransistor dengan transistor-transistor yang kokoh menggantikan tabung-tabung vakum yang mudah rusak, dirancang oleh Seymour Cray untuk Control Data Corporation. Dan inilah awal dari kecenderungan untuk membuat computer yang lebih kecil dan lebih cepat.
Ide mengenai computer pribadi [(Personal Computer; (PC)] di setiap rumah muncul di lembah Santa Clara di sebelah selatan San Francisco, Califonia, sebuah daerah yang kemudian dikenal sebagai Lembah Silikon. Pada tahun 1977, Steve Jobs dan Steve Wozniak mendirikan perusahaan computer bernama Apple Computer Inc. Pada bulan April tahun 1977 itu, mereka memperkenalkan Apple II. Itulah komputer pribadi pertama di dunia.
Komputer telah mengubah wajah beradaban Barat modern secara drastic sejah tahun 80-an. Pada awalnya, komputer dikenal sebagai “otak elektronis” yang mampu melakukan bermacam-macam kegiatan dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Komputer merevolusi ilmu matematika melalui kemampuannya memperluas jangkauan otak penghitungannya, seperti mobil dan pesawat yang mampu memperjauh jarak yang ditempuh.
Demikianlah teknologi komputer terus berkembang dan melahirkan inovasi. Hampir tiap tahun perusahaan-perusahaan komputer internsional mengeluarkan model komputer terbaru mereka dengan berbagai fitur dan keistimewaan serta perbaikan-perbaikan terhadap generasi-generasi sebelumnya. Ukurannya pun dibuat semakin simple tapi menarik dan daya memorinya terus diperbesar.
Tren perkembangan komputer mutakhir cenderung menghendaki bentuk yang semakin mengecil. Dulu, komputer belum memiliki bentuk yang kompak dan ringkas. Komputer generasi awal bahkan membutuhkan ruangan yang besar dengan kaber-kabelnya yang berseliweran ke sana-sini. Lalu semakin lama bentuknya semakin kecil, meskipun kemampuannya tidak menjadi kecil ada PC (Personal Computer) dan lap top yang lebih kecil lagi. Dan terakhir, ada simputer, komputer jenis PDA (Personal Digital Assistans) yang bisa digenggam dengan ukuran layar hanya 3x2 inch dengan stylus (tongkat kecil seperti pensil) yang berfungsi sebagai mouse.
Komputer juga tidak saja menjadi alat pengolahan data tapi juga memasuki wilayah komunikasi interaktif dalam bentuk internet. Penggunaan internet berawal dari adanya kebutuhan militer di masa perang dingin sekitar tahun 1969, di mana Departemen Pertahanan Amerika Serikat membutuhkan sebuah jaringan yang menghubungkan semua komputer di daerah vital untuk mengantisipais kemungkinan adanya serangan nuklir.
Untuk itu, Departemen Pertahanan Amerika Serikat melalui DARPA (Defense Advanced Research Projects Agency), bekerja sama dengan beberapa universitas membentuk ARPANET (Advanced Research Projects Administration Net). Proyek ini awalnya hanya menghubungkan 3 komputer di California dan 1 di Utah. Namun pada perkembangan selanjutnya, banyak universitas di daerah tersebut ingin bergabung, sehingga diputuskan untuk mengklasifikasikannya menjadi dua bagian, yaitu sistem jaringan untuk militer dan nonmiliter. Gabungan keduanya disebut DARPA Internet yang akhirnya dikenal sebagai internet saja.
Begitulah internet pun terus dikembangkan hingga saatii dengan berbagi fasilitas yang terdapat di dalamnya seperti e-mail, chatting, download file dari berbagai situs, dan lain-lain.
d. Teori Partikel Elementer
Mengamati perkembangan ilmu di antaranya juga bisa dilakukan dengan melihat temuan-temuan para ilmuwan di berbagai bidang. Satu contoh misalnya tentang teori partikel elementer.
Selama laebih dari 2.500 tahun, manusia mencari misteri sifat materi. Salah satu bentuk penasaran itu disalurkan dengan mencari tahu partikel apakah yang paling kecil dari susunan materi. Pada abad kelima sebelum Masehi, Democritus—filosof Yunani—menemukan bahwa semua jenis materi dapat dipecah-pecah menjadi partikel kecil ini disebut atom. Atom adalah kata Yunani yang berarti tidak terbagi, atau tidak dapat dibagi.
Ilmu pun berkembang dan sejumlah percobaan dilakukan dan teori-teori baru bermunculan. Kemudian ditemukan bahwa atom bukanlah partikel terkecil. Di dalam atom terdapat sejmbalh partikel dasar/elementer yang tidak dapat dibagi lagi menajdi partikel yang lebih kecil yaitu elektron, proton, dan neutron. Lebih jauh, sekarang ditemukan kuark sebagai bagian dari proton dan neutron, sehingga saat ini yang disebut sebagai partikel elementer adalah kuark dan elektron.
Di samping kuark dan elektron, ada partikel lain seperti foton, beberapa jenis neutron yang digolongkan sebagai partikel elementer atau dikenal sebagai partikel sub-atomik. Partikel elementer ini disebut sebagai jantung fisika, karena partikel-partikel elementer inilah yang mengatur sifat fisika suatu benda, yang akan menentukan sifat fisika benda tersebut. Misalnya mengapa suatu benda ada yang dapat menghantarkan listrik dengan baik dan benda yang lain tidak. Ini tergantung dari gerakan partikel elementer (dalam hal ini elektron). Pada suatu konduktor, elektron dapat bebas bergerak sehingga konduktor dapat menjadi penghantar listrik yang baik. Sedangkan pada isolator, elektron terikat kuat, sehingga tidak dapat menghantar listrik dengan baik. Ini menjelaskan mengapa misalnya logam adalah penghantar listrik yang baik, sedangkan kayu tidak.
Setiap kali lahir teroi fisika atom, akan muncul serangkaian percobaan yang dikemudian hari bisa menghasilkan teori baru. Teori baru tersebut bisa jadi menentang teori yang lama—seperti yang terjadi setelah Democritus—, namun bisa juga bersifat menguatkan. Dalam sifat menguatkan inilah temuan Gerardus Hooft, peraih hadiah nobel fisika tahun 1999, bersama rekannya Martinus Veltman, professor fisikawan teoretis dengan spesialisasi di bidang partikel sub-atomik. Mereka menegaskan bahwa teori model standar bisa diterima untuk menjelaskan bahwa jagad raya tersusun atas kuark, lepton (yaitu elektron dan neutron), dan boson (foton).
Teori tentang partikel elementer bisa menjadi dasar bagi temuan-temuan baru yang spektakuler. Buan tidak mungkin, manusia bisa diubah partikel dasarnya, sehingga bisa dipindah tempatkan setiap saat tanpa kendaraan seperti digambarkan dalam Star Trek.
Kemajuan Sains dan Teknologi di Bidang-bidang Lain
Sebagaimana dikemukakan di atas, di zaman kontemporer ini, hampir seluruh aspek kehidupan manusia mendapat sentuhan efek kemajuan dan perkembangan ilmu dan teknologi. Bukan hanya dalam bentuk tenologi rekayasa generika, teknologi informasi dalam bentuk kecanggihan komputer dan internet, atau tentang teori partikel elementer, tapi juga dalam bidang-bidang lainnya.
Di bidang teknologi komunikasi jarak jauh, misalnya yang berawal dari telepon, terus berkembang cepat dengan munculnya alat-alat komunikasi personal mutakhir seperti handphone dengan berbagai inovasinya. Dalam bentuk yang mutakhir misalnya, HP yang bentuknya semakin simple, ringan, namun tetap luks, tidak saja mampu mengirimkan suara, tapi juga gambar sekaligus.
Begitu pula dengan teknologi penjelajahan ruang angkasa. Bila pada tahun 1961, Yuri Gagarin adalah manusia pertama yang diluncurkan ke luar angkasa oleh Uni Soviet dengan pesawat Vostok I-nya, yang kemudian disusul oleh Amerika pada tahun 1968, dan pada tahun 1969, tepatnya tanggal 20 Juli, Neil Armstrong menjadi manusia pertama yang mendarat di bulan, maka sekarang bulan sudah diproyeksikan untuk dikomersialisasikan. Peluncuran pesawat pembuka jalan menuju komersialisasi bulan direncakan akan dilakukan pada bulan Juni 2003 dari Baikonur Cosmodrome, Kazakhstan.
Ilmu dan penemuan-penemuan yang menjadi ciri utama perkembangan ilmu itu memang berkembang sangat cepat. Untu mendapatkan gambaran sepintas tentang betapa perkembangan ilmu itu berjalan cepat, dapat kita lihat misalnya tabel berikut.
Deskripsi percepatan waktu penemuan dan paten perdagangan
Hanya saja, perkembangan ilmu ternyata tidak berarti mutlak sebagai rahmat bagi kehidupan manusia. Tidak jarang, kemajuan ilmu dan teknologi yang terus berlangsung hingga saat ini, membaut banyak manusia khawatir atau bahkan takut terhadap dampak negatifnya dan banyak pula yang telah merasakan langsung akibatnya bagi kehidupan mereka, baik kehidupan materil, maupun spirituil
KESIMPULAN
Perkembangan ilmu akan mempengaruhi nili-nilai kehidupan manusia tergantung dari manusianya itu sendiri, karena ilmu dilakukan oleh manusia dan untuk kepentingan manusia dalam kebudayaannya. Kemajuan di bidang ilmu memerlukan kedewasaan manusia dalam arti yang sesungguhnya, karena tugas terpenting ilmu adalah menyediakan bantuan agar manusia dapat bersungguh-sungguh mencapai pengertian tentang martabat dirinya.
Ilmu dapat berkembang dengan pesat menunjukkan adanya proses yang tidak terpisahkan dalam perkembangannya dengan nilai-nilai hidup. Walaupun ada anggapan bahwa ilmu harus bebas nilai, yaitu dalam setiap kegiatan ilmiah selalu didasarkan pada hakikat ilmu itu sendiri. Anggapan itu menyatakan bahwa ilmu menolak campur tangan faktor eksternal yang tidak secara hakiki menentukan ilmu itu sendiri, yaitu ilmu harus bebas dari pengandaian, pengaruh campur tangan politis, ideologi, agama dan budaya, perlunya kebebasan usaha ilmiah agar otonomi ilmu terjamin, dan pertimbangan etis menghambat kemajuan ilmu.
Pada kenyataannya, ilmu bebas nilai dan harus menjadi nilai yang relevan, dan dalam aktifitasnya terpengaruh oleh kepentingan tertentu. Nilai-nilai hidup harus diimplikasikan oleh bagian-bagian praktis ilmu jika praktiknya mengandung tujuan yang rasional. Dapat dipahami bahwa mengingat di satu pihak objektifitas merupakan ciri mutlak ilmu, sedang dilain pihak subjek yang mengembangkan ilmu dihadapkan pada nilai-nilai yang ikut menentukan pemilihan atas masalah dan kesimpulan yang dibuatnya.
Pengalihan pengetahuan ilmiah dari filsafat Yunani ke dunia Islam, dan penyerapan serta pengintegrasian pengetahuan oleh umat Islam, merupakan sebuah catatan sejarah yang unik. Dalam sejarah peradaban manusia, amat jarang ditemukan suatu kebudayaan asing dapat diterima sedemikian rupa oleh kebudayaan lain, yang kemudian menjadikannya sebagai landasan bagi perkembangan intelektual dan pemahan filosofinya.
Pada awal Islam pengaruh Hellenisme dan juga filsafat Yunani terhadap tradisi keilmuan Islam sudah sedemikian kental sehingga pada saat selanjutnta pengaruh itu pun terus mewarnai perkembangan ilmu pada masa-masa berikutnya.
Pada masa kejayaan kekuasaan Islam, khususnya pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah, ilmu berkembang maju dan pesat. Kemajuan ini membawa Islam pada masa keemasannya, dimana pada saat yang sama wilayah-wilayah yang jauh di luar kekuasaan Islam msih berada pada masa kegelapan peradaban (Dark Age).



