PENDAHULUAN
Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di satu sisi memang berdampak positif, yakni dapat memperbaiki kualitas hidup manusia. Berbagai sarana modern industri, komunikasi, dan transportasi, misalnya, terbukti amat bermanfaat. Dengan ditemukannya mesin jahit, dalam 1 menit bisa dilakukan sekitar 7000 tusukan jarum jahit. Bandingkan kalau kita menjahit dengan tangan, hanya bisa 23 tusukan per menit (Qardhawi, 1997).
Dahulu Ratu Isabella (Italia) di abad XVI perlu waktu 5 bulan dengan sarana komunikasi tradisional untuk memperoleh kabar penemuan benua Amerika oleh Columbus. Lalu di abad XIX Orang Eropa perlu 2 minggu untuk memperoleh berita pembunuhan Presiden Abraham Lincoln. Tapi pada 1969, dengan sarana komunikasi canggih, dunia hanya perlu waktu 1,3 detik untuk mengetahui kabar pendaratan Neil Amstrong di bulan (Winarno, 2004).
Tapi di sisi lain, tak jarang iptek berdampak negatif karena merugikan dan membahayakan kehidupan dan martabat manusia. Bom atom telah menewaskan ratusan ribu manusia di Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945. Pada tahun 1995, Elizabetta, seorang bayi Italia, lahir dari rahim bibinya setelah dua tahun ibunya (bernama Luigi) meninggal. Ovum dan sperma orang tuanya yang asli, ternyata telah disimpan di bank dan kemudian baru dititipkan pada bibinya, Elenna adik Luigi (Kompas, 16/01/1995). Bayi tabung di Barat bisa berjalan walau pun asal usul sperma dan ovumnya bukan dari suami isteri (Hadipermono, 1995).
Bioteknologi dapat digunakan untuk mengubah mikroorganisme yang sudah berbahaya, menjadi lebih berbahaya, misalnya mengubah sifat genetik virus influenza hingga mampu membunuh manusia dalam beberapa menit saja (Bakry, 1996). Kloning hewan rintisan Ian Willmut yang sukses menghasilkan domba kloning bernama Dolly, akhir-akhir ini diterapkan pada manusia (human cloning). Lingkungan hidup seperti laut, atmosfer udara, dan hutan juga tak sedikit mengalami kerusakan dan pencemaran yang sangat parah dan berbahaya. Beberapa varian tanaman pangan hasil rekayasa genetika juga diindikasikan berbahaya bagi kesehatan manusia. Tak sedikit yang memanfaatkan teknologi internet sebagai sarana untuk melakukan kejahatan dunia maya (cyber crime) dan untuk mengakses pornografi, kekerasan, dan perjudian.
Rumusan Masalah
1. Dapatkah agama memberi tuntunan agar kita memperoleh dampak iptek yang positif saja, seraya mengeliminasi dampak negatifnya semiminal mungkin?
2. Sejauh manakah agama Islam dapat berperan dalam mengendalikan perkembangan teknologi modern?
Tujuan
Untuk mengetahui bisa atau tidaknya agama memberi tuntunan agar kita memperoleh dampak iptek yang positif dan sejauh mana agama Islam berpern dalam mengendalikan perkembangan teknologi modern.
KONSEP TEORI
I. Landasan Penelaahan Ilmu
A. Hubungan Ilmu dengan Nilai-nilai Hidup
Penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi membutuhkan dimensi etis sebagai pertimbangan dan mempunyai pengaruh terhadap proses perkembangan lebih lanjut ilmu dan teknologi. Tanggung jawab etis merupakan sesuatu yang menyangkut kegiatan keilmuan maupun penggunaan ilmu, yang berarti dalam pengembangannya harus memperhatikan kodrat dan martabat manusia, menjaga keseimbangan ekosistem, bersifat universal, bertanggungjawab pada kepentingan umum, dan kepentingan generasi mendatang.
Tanggung jawab ilmu menyangkut juga hal-hal yang akan dan telah diakibatkan ilmu dimasa lalu, sekarang maupun akibatnya di masa mendatang, berdasarkan keputusan bebas manusia dalam kegiatannya. Penemuan baru dalam ilmu terbukti ada yang dapat mengubah sesuatu aturan nilai-nilai hidup baik alam maupun manusia. Hal ini tentu menuntut tanggung jawab untuk selalu menjaga agar yang diwujudkan dalam perubahan tersebut akan merupakan perubahan yang terbaik bagi perkembangan ilmu itu sendiri maupun bagi perkembangan eksistensi manusia secara utuh.
Tanggung jawab etis tidak hanya menyangkut upaya penerapan ilmu secara tepat dalam kehidupan manusia, melainkan harus menyadari apa yang seharusnya dilakukan atau tidak dilakukan untuk memperkokoh kedudukan serta martabat manusia seharusnya, baik dalam hubungannya sebagai pribadi, dalam hubungan dengan lingkungannya maupun sebagai makhluk yang bertanggung jawab terhadap Khaliknya.
Jadi perkembangan ilmu akan mempengaruhi nili-nilai kehidupan manusia tergantung dari manusianya itu sendiri, karena ilmu dilakukan oleh manusia dan untuk kepentingan manusia dalam kebudayaannya. Kemajuan di bidang ilmu memerlukan kedewasaan manusia dalam arti yang sesungguhnya, karena tugas terpenting ilmu adalah menyediakan bantuan agar manusia dapat bersungguh-sungguh mencapai pengertian tentang martabat dirinya.
B. Mengapa Ilmu Tidak Dapat Terpisahkan dengan Nilai-nilai Hidup
Ilmu dapat berkembang dengan pesat menunjukkan adanya proses yang tidak terpisahkan dalam perkembangannya dengan nilai-nilai hidup. Walaupun ada anggapan bahwa ilmu harus bebas nilai, yaitu dalam setiap kegiatan ilmiah selalu didasarkan pada hakikat ilmu itu sendiri. Anggapan itu menyatakan bahwa ilmu menolak campur tangan faktor eksternal yang tidak secara hakiki menentukan ilmu itu sendiri, yaitu ilmu harus bebas dari pengandaian, pengaruh campur tangan politis, ideologi, agama dan budaya, perlunya kebebasan usaha ilmiah agar otonomi ilmu terjamin, dan pertimbangan etis menghambat kemajuan ilmu.
Pada kenyataannya, ilmu bebas nilai dan harus menjadi nilai yang relevan, dan dalam aktifitasnya terpengaruh oleh kepentingan tertentu. Nilai-nilai hidup harus diimplikasikan oleh bagian-bagian praktis ilmu jika praktiknya mengandung tujuan yang rasional. Dapat dipahami bahwa mengingat di satu pihak objektifitas merupakan ciri mutlak ilmu, sedang dilain pihak subjek yang mengembangkan ilmu dihadapkan pada nilai-nilai yang ikut menentukan pemilihan atas masalah dan kesimpulan yang dibuatnya.
Setiap kegiatan teoritis ilmu yang melibatkan pola subjek-subjek selalu mengandung kepentingan tertentu. Kepentingan itu bekerja pada tiga bidang, yaitu pekerjaan yang merupakan kepentingan ilmu pengetahuan alam, bahasa yang merupakan kepentingan ilmu sejarah dan hermeneutika, dan otoritas yang merupakan kepentingan ilmu sosial.
Dengan bahasan diatas menjawab pertanyaan mengapa ilmu tidak dapat dipisahkan dengan nilai-nilai hidup. Ditegaskan pula bahwa dalam mempelajari ilmu seperti halnya filsafat, ada tiga pendekatan yang berkaitan dengan kaidah moral atau nilai-nilai hidup manusia, yaitu:
1. Pendekatan Ontologis
Ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada. Dalam kaitan dengan ilmu, landasan ontologis mempertanyakan tentang objek yang ditelaah oleh ilmu. Secara ontologis ilmu membatasi lingkup penelaahan keilmuannya hanya pada daerah yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia.
Dalam kaitannya dengan kaidah moral atau nilai-nilai hidup, maka dalam menetapkan objek penelaahan, kegiatan keilmuan tidak boleh melakukan upaya yang bersifat mengubah kodrat manusia, merendahkan martabat manusia, dan mencampuri permasalahan kehidupan.
2. Pendekatan Epistemologi
Epistemologis adalah cabang filsafat yang membahas tentang asal mula, sumber, metode, struktur dan validitas atau kebenaran pengetahuan. Dalam kaitannya dengan ilmu, landasan epistemologi mempertanyakan proses yang memungkikan dipelajarinya pengetahuan yang berupa ilmu.
Dalam kaitannya dengan moral atau nilai-nilai hidup manusia, dalam proses kegiatan keilmuan, setiap upaya ilmiah harus ditujukan untuk menemukan kebenaran, yang dilakukan dengan penuh kejujuran, tanpa mempunyai kepentingan langsung tertentu dan hak hidup yang berdasarkan kekuatan argumentasi secara individual. Jadi ilmu merupakan sikap hidup untuk mencintai kebenaran dan membenci kebohongan.
3. Pendekatan Aksiologi
Aksiologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai secara umum. Sebagai landasan ilmu, aksiologi mempertanyakan untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan. Pada dasarnya ilmu harus digunakan dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan manusia. Dalam hal ini ilmu dapat dimanfaatkan sebagai sarana atau alat dalam meningkatkan taraf hidup manusia dengan memperhatikan kodrat manusia, martabat manusia, dan kelestarian atau keseimbangan alam. Untuk itu ilmu yang diperoleh dan disusun dipergunakan secara komunal dan universal. Komunal berarti ilmu merupakan pengetahuan yang menjadi milik bersama, setiap orang berhak memanfaatkan ilmu menurut kebutuhannya. Universal berarti bahwa ilmu tidak mempunyai konotasi ras, ideologi, atau agama
C. Landasan Ilmu Pengetahuan pada Zaman Yunani
Periode filsafat Yunani merupakan periode sangat penting dalam sejarah perdaban manusia karena pada waktu itu terjadi perubahan pola pikir manusia dari mitosentris menjadi logosentris. Pola piker mitosenti s adalah pola piker masyarakat yang sangat mengandalkan mitos untuk menjelaskan fenomena alam, seperti : gempa bumi dan pelangi. Gempa bumi tidak dianggap fenomena biasa, tetapi Dewa Bumi yang sedang menggoyangkan kepalanya. Namun ketika filsafat diperkenalkan, fenomena alam tersebut tidak lagi dianggap sebagai aktivitas dewa, melainkan aktivitas alam yang terjadi secara kausalitas. Perubahan pola piker tersebut kelihatannya sederhana, tetapi implikasinya tidak sederhana karena selama ini alam ditakuti dan dijauhi kemudian didekati dan dieksploitasi. Manusia yang dulunya pasif dalam menghadapi fenomena alam menjadi lebih proaktif dan kreatif, sehingga alam dijadika obyek penelitian dan pengkajian. Dari proses inilah kemudian ilmu berkembang dari rahim filsafat yang akhirnya kita nikmati dalam bentuk teknologi. Karena itu periode perkembanga filsafat Yunani merupakan entri poin untuk memasuki peradaban baru umat manusia.
Mencintai kebenaran / pengetahuan adalah awal proses manusia mau menggunakan daya pikirnya, sehingga dia mampu membedakan mana yang riil dan mana yang ilusi. Orang Yunani awalnya sangat percaya dengan dongeng dan takhayul, tetapi lama kelamaan, terutama setelah mereka mampu membedakan yang riil dengan yang ilusi, mereka mampu keluar dari lingkungan mitologi dan mendapatkan dasar pengetahuan ilmiah. Inilah titik awal manusia menggunakan rasio untuk meneliti dan sekaligus mempertanyakan dirinya dan jagat raya.
Filsafat alam pertama yang mengkaji tenang asal-usul alam adalah Thales (624-546 SM). Ia digelari Bapak Filsafat karena dialah yang mula-mula berfilsafat dan mempertanyakan “Apa sebenarnya asal-usul alam semesta ini?” pertanyaan itu sangat mendasr, terlepas apapun jawabannya. Namun yang penting adalah pertanyaan itu dijawabnya dengan pendekatan yang rasional, bukan dengan pendekatan mitos atau kepercayaan. Ia mengatakan asal-usul alam adalah air, karena air unsur penting bagi setiap makhluk hidup, air dapat berubah menjadi benda gas seperti uap, dan benda padat seperti es, dan bumi ini juga berada di atas air.
Setelah Thales, muncul Anaximandros (610-540 SM). Anaximandros mencoba menjelaskan bahwa substansi pertama itu bersifat kekal, tidak terbatas, dan meliputi segalanya. Unsur utama alam harus uang mencakup segalanya, yang dinamakan aperion. Ia adalah air, maka air harus meliputi segalanya,termasuk api yang merupakan lawannya. Padahal tidak mungkin air menyingkirkan unsur api. Karena itu Anaximandros tidak puas dengan menunjukkan salah satu unsur sebagai prinsip alam, tetapi dia mencari yang lebih dalam, yaitu zat yang tidak dapat dinikmati oleh pancaindera.
Berbeda dengan Thales dan Anaximandros, Heraklitos (540-480 SM) melihat alam semesta ini selalu dalam keadaan berunah; sesuatu yang dingin berubah menjadi panas, yang panas berubah menjadi dingin. Itu berarti bila kita hendak memahami kehidupan kosmos, kita harus menyadari bahwa kosmos itu dinamis. Segala sesuatu saling bertentangan dalam pertentangan itulah kebenaran. Gitar tidak akan menghasilkan bunyi kalau dawai tidak ditegangkan antara dua ujungnya. Karena itu dia berkesimpulan, tidak ada satupun yang benar-benar ada, semuanya terjadi. Ungkapan yang terkenal dari Heraklitos dalam menggambarkan perubahan ini adalah panta rhei uden menei (semuanya mengalir dan tidak ada sesuatu pun yang tidak mantap).
Itulah sebabnya ia mempunyai kesimpulan bahwa yang mendasar dalam alam semesta ini adalah bukan bahannya, melainkan aktor dan penyebabnya, yaitu api. Api adalah unsure yang paling asasi dalam alam karena api dapat mengeraskan adonan roti dan disisi dapat melunakkan es. Artinya, api adalah factor pengubah dalam ala mini, sehingga api pantas dianggap sebagai simbol perubahan itu sendiri.
Filosof alam yang cukup berpengaruh adalah Parmenides (515-440 SM), yang lebih muda daripada Heraklitos. Pandangannya bertolak belakang dengan Heraklitos. Menurut Heraklitos, realitas seluruhnya bukanlah sesuatu yang lain daripada gerak dan perubahan tidak mungkin terjadi. Menurutnya, trealitas merupakan keseluruhan yang bersatu, tidak bergerak dan tidak berubah. Dia menegaskan bahwa yang ada itu ada.
Benar tidaknya suatu pendapat dapat diukur dengan logika. Bentuk ekstrem pernyataan itu adalah bahwa ukuran kebenaran adalah akal manusia. Dari pandangan itu dia mengatakan bahwa alam tidak bergerak, tetap diam karena alam itu satu. Dia menentang pendapat Heraklitos yang mengatakan alam selalu bergerak. Gerak alam yang terliaht, menurut Palmenides adalah semu, sejatinya alam itu diam. Akibat dari pendangan ini kemudian muncul prinsip panteisme dalam menantang realitas.
Pythagoras (580-500 SM) mengembalikan sesuatu kepada bilangan. Baginya tidak ada satupun di ala mini terlepas dari bilangan. Semua realitas dapat diukur dengan bilangan. Karena itu, dia berpendapat bahwa bilangan adalah unsur utama dari alam dan sekaligus menjadi ukuran. Kesimpulan ini ditarik dari kenyataan bahwa realitas alam adalah harmoni antara bilangan dan gabungan antara dua hal yang berlawanan, seperti nada music yang dapat dinikmati karena oktaf adalah hasil gabungan dari bilangan 1 (bilangan ganjil) dan 2 (bilangan genap).
Jasa Pythagoras ini sangat besar dalam pengembangan ilmu, terutama ilmu pasti dan ilmu alam. Ilmu yang dikembangkan kemudian hari sampai hari ini sangat bergantung pada pendekatan matematika. Galileo menegaskan bahwa alam ditulis dalam bahasa matematika. Dalam filsafat ilmu, matematika meupakan sarana ilmiah yang terpenting dan akurat karena dengan pendekatan matematiklah ilmu dapat diukur dengan benar dan akurat. Di samping itu, matematika dapat menyederhanakan uraian yang panjang dalam simbol, sehingga lebih cepat dipahami.
Puncak kejayaan filsafat Yunani terjadi pada masa Aristoteles (384-322 SM). Ia murid Plato, seorang filosof yang berhasil menemukan pemecahan persoalan-persoalan besra filsafat yang dipersatukannya dalam satu sistem logika, matematika, fisika, dan metafisika. Logoka Aristoteles berdasarka pada analisis bahasa yang disebut silogisme. Pada dasarnya silogisme dibedakan menjadi tiga premis :
a. Semu manusia akan mati (premis mayor)
b. Socrates seorang manusia (premis minor)
c. Socrates akan mati (konklusi)
Logika Aristoteles ini juga disebut juga dengan logika deduktif, yang mengukur valid atau tidaknya sebuah pemikiran.
Aristoteles yang pertama kali membagi filsafat pada hal yang teoritis dan praktis. Yang teoritis mencakup logika, metafisika, dan fisika. Sedangkan praktis mencakup etika, ekonomi, dan politik. Pembagian ilmu inilah yang menjadi pedoman juga bagi klarifikasi ilmu di kemudian hari. Aristoteles dianggap Bapak Ilmu karena ia mampu meletakkan dasar-dasar metode ilmiah secara matematis.
Filsafat Yunani yang rasional itu boleh dikatakan berakhir setelah Aristoteles menuangkan pemikirannya. Akan tetapi sifat rasional itu masih digunakan selama berabad-abad sesudah sampai sebelum filsafat benar-benar memasuki dan tenggelam dalam Abad Pertengahan. Namun jelas, setelah periode Aristoteles berakhir, filasafat Yunani semakin merosot. Kemunduran itu sejalan dengan terpecahnya Kerajaan Macedonia menjadi pecahan-pecahan kecil setelah wafatnya Alexander The Great. Tepatnya pada ujung zaman Helenisme, yaitu pada ujung sebelum Masehi menjelang Neo Platoisme, filsafat benar-benar mengalami kemunduran.
II. Sejarah Perkembangan Ilmu
A. Perkembangan Ilmu Zaman Islam
Sebelum diuraikan sejarah dan perkembangan ilmu dalam Islam, ada baiknya diuraikan sedikit tentang pandangan Islam terhadap ilmu. Hal ini penting karena menjadi landasan bagi perkembangan ilmu di sepanjang sejarah kehidupan umat Islam, mulai dari zaman klasik sampai saat ini.
Sejak awal kelahirannya, Islamsudah memberikan penghargaan yang begitu besar kepad ilmu. Sebagaimana sudah diketahui, bahwa Nabi Muhammad saw. Ketika diutus Allah swt. sebagai Rasul, hidup masyarakat yang terbelakang, dimana paganisme tumbuh sebagai sebuah identitas yang melekat pada masyarakat Arab waktu itu. Kemudian Islam dating menawarkan cahaya penerang yang mengubah masyarakat Arab jahiliyah menjadi mesyarakat yang berilmu dan beradab.
Kalau dilacak akar sejarahnya, pandangan Islam akan pentingnya ilmu tumbung bersamaan dengan munculnya Islam itu sendiri. Ketika Rasulullah saw. menerima wahyu pertama, yang mula-mula diperintahkannya adalah “membaca”. Malaikat Jibril memerintahkan Nabi Muhammad dengan “bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang menciptakan”(Q.S Al-Alaq : 1). Perintah ini tidak hanya sekali diucapkan Malaikat Jibril tetapi berulang-ulang sampai Nabi dapat menerima wahyu tersebut. Dari kata Iqra’ inilah kemudian lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui cirri sesuatu, dan membaca teks baik yang ditulis maupun tidak. Wahyu pertama itu menghendaki umat Islam untuk senantiasa “membaca” dengan dilandasi Rabbik, dalam arti hasil bacaan itu nantinya dapat bermanfaat untuk kemanusiaan.
Selanjutnya ada juga ayat lain yang yang menyatakan, Katakanlah: apakah sama orang-orang yang mengetahui (berilmu) dengan orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya (hanya) orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. Selain ayat-ayat tersebbut diatas, ada juga Hadist Rasulullah yang menekankan wajibnya mencari ilmu, bahkan begitu pentingnya kalau perlu “carilah ilmu sampai ke negeri Cina”. Dengan demikian, Al-Qur’an dan Hadist kemudian dijadikan sebagai sumber ilmu yang dikembangkan oleh umat Islam dalam spektrum yang seluas-luasnya. Lebih lagi, kedua sumber pokok ini memainkan peran ganda dalam penciptaan dan pengembangan ilmu-ilmu. Peran itu adalah pertama, prinsip-prinsip semua ilmu dipandang kaum Muslimin terdapat dalam Al-Qur’an. Dan sejauh pemahaman terhadap Al-Qur’an, terdapat pula tafsiran yang bersifat esoteric terhadap kitab suci ini, yang memungkinkan tidak hanya pengungkapan misteri-misteri yang dikandungnya tetapi juga pencari makna secara lebih mendalam, yang berguna untuk membangun paradigma ilmu. Kedua, Al-Qur’an dan Hadist menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan ilmu dengan menekankan kebajikan dan keutamaan menurut ilmu; pencarian ilmu dari segi apapun pada akhirnya akan bermuara pada penegasan Tauhid. Karena itu, seluruh metafisika dan kosmologi yang lahir dari kandungan Al-Qur’an dan Sunnah merupakan dasar pembangunan dan pengembangan ilmu Islam. Singkatnya, Al-Qur’an dan Sunnah menciptakan atmosfir khas yang mendorong aktivitas intelektual dalam konformitas dengan semangat Islam.
Untuk mempermudah pemahaman, sejarah perkembangan ilmu dalam Islam dinagi dalam beberapa zaman, seperti uraian berikut ini.
1. Penyampaian Ilmu dan Filsafat Yunani ke Dunia Islam
Pengalihan pengetahuan ilmiah dari filsafat Yunani ke dunia Islam, dan penyerapan serta pengintegrasian pengetahuan oleh umat Islam, merupakan sebuah catatan sejarah yang unik. Dalam sejarah peradaban manusia, amat jarang ditemukan suatu kebudayaan asing dapat diterima sedemikian rupa oleh kebudayaan lain, yang kemudian menjadikannya sebagai landasan bagi perkembangan intelektual dan pemahan filosofinya.
Dalam perjalanan ilmu dan juga filsafat di dunia Islam, pada dasarnya terdapat upaya rekonsiliasi (dalam arti mendekatkan dan mempertemukan dua pandangan yang berbeda, bahkan seringkali ekstrim) antara pendangan filsafat Yunani, seperti filsafat Plato dan Aristoteles, dengan pandangan keagamaan dalam Islam yang seringkali menimbulkan benturan-benturan. Sebagai contoh konkrit dapat disebutkan bahwa Plato dan Aristoteles telah memberikan pengaruh yang besar terhadap mashab-mashab Islam, khususnya mashab elektisisme. Al-Farabi dalam hal ini memiliki yang jelas karena ia percaya dalam kesatuan filsafat dan bahwa tokoh filsafat harus sepakat diantara mereka sepanjang yang menjadi tujuan mereka adalah kebenaran. Usaha-usaha mereka pada gilirannya menjadi alat dalam penyebaran filsafat dan penetrasinya ke dalam studi-studi keislaman lainnya, dan tidak diragukan lagi upaya rekonsiliasi oleh para filosof Muslim ini menghasilkan afinitas dan ikatan yang kuat antara filsafat Arab dan filsafat Yunani.
Selanjutnya, ketika proses penyampaian ilmu dan filsafat Yunani ke dunia Islam, kita harus melihat sisi lain yang juga menunjang keberhasilan Islam dalam menemukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Sisi lain itu adalah aktivitas penerjemahan. Menurut C. A. Qadir, proses penerjemahan dan penafsiran buku-buku Yunani di negeri-negeri Arab dimulai jauh sebelum lahirnya agama Islam atau penaklukan Timur Dekat oleh bangsa Arab pada tahun 641 M. Jauh sebelum Islam dapat menaklukan daerah-daerah di Timur Dekat, pada saat itu Suri’ah merupakan tempat bertemunya dua kekuasaan dunia, Romawi dan Persia. Atas dasar itu, bangsa Suri’ah disebut-sebut memainkan peran penting dalam penyebaran filsafat Yunani ke Timur dan Barat. Di kalangan umat Kristen Suri’ah, terutama kaum Nestorian, ilmu pengetahuan Yunani dipelajari dan disebarluaskan melalui sekolah-sekolah mereka. Walaupun tujuan utama sekolah-sekolah tersebut menyebarluaska pengetahuan injil, namun pengetahuan ilmiah,seperti kedokteran, banyak diminati oleh pelajar. Sayangnya, pihak geraja memandang ilmu kedokteran itu sebagai ilmu secular dan dengan demikian posisinya lebih rendah daripada ilmu pengobatan spiritual yang menjadi hak istimewa para pendeta.
Selain itu, pada masa itu juga didapati pusat-pust ilmu pengetahuan seperti Ariokh, Epheus, dan Iskandariah, dimana buku-buku Yunani Purba masih dibaca dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, terutama Sirani, bahkan setelah pusat-pusat itu di taklukan oleh Islam, pengaruh pemikiran Yunani tetap mendalam dan meluas. Pada masa ini juga didapati tokoh Kristen yang bernama Nestorius, yang melakukan deskontruksi atas pemahaman teologi kalangan Kristen konservatif ortodoks, setelah ia terengaruh oleh pemikiran Yunani tersebut. Ia beserta pengikutnya kemudian hijrah ke Siriah dan melanjutkan ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani. Kegiatn ini pada gilirannya menghasilkan terjemahan karya filosof Yunani seperti Phophyrius, diantaranya adalah Isagoge, Categories, Hermeneutica, dan Analtica Priori. Pusat-pusat ilmu pengetahuan yang dipimpin oleh umat Kristen ini, terus berkembang dengan bebasnya sampai mereka di bawah kekuasaan Islam. Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya mendukung adanya kebebasan intelektual, tetapi juag membuktikan kecintaan Islam terhadap ilmu pengetahuan dan sikap hormat kepada para ilmuwan, tanpa memandang agama mereka.
2. Perkembangan Ilmu pada Masa Islam Klasik
Sebagaiman telah disinggung diatas bahwa pentingnya ilmu pengetahuan sangat ditekankan oleh Islam sejak awal, mulai masa Nabi sampa Khulafaur Rasyidin, pertumbuhan dan perkembangan ilmu berjalan dengan pessat seiring dengan tantangan zaman.
Selanjutnya, satu hal yang patut dalam kaitannya dengan perkembangan ilmu dalam Islam adlah peristiwa Fitnah Al-Kubra, yang ternyata tidak hanya membawa konsekuensi tapi juga membawa perubahan besar bagi pertumbuhan dan perkembangan ilmu di dunia Islam. Pasca terjadinya Fitnah Al-Kubra, muncul berbagai golongan yang memiliki aliran teologis tersendiri yang pada dasarnya berkembang karena alasan-alasan politis. Pada saat itu muncul aliran Syi’ah yang membela Ali, aliran Khawarij, dan kelompok Muawiyah. Namun, di luar konflik yang muncul pada saat itu, sejarah mencatat dua tokoh besar yang tidak ikut terlibat dalam perdebatan teologis yang cenderung mengkafirkan satu sama lain, tetapi justru mencurahkan perhatiannya pada ilmu agama. Kedua tokoh itu adalah Abdullah bin Umar dan Abdullah bin Abbas. Yang disebut pertama mencurahkan perhatiannya pada ilmu Hadist, sementara yang di belakangan lebih berkonsentrasi pada ilmu taksir. Kedua tokoh ini sering disebut sebagai pelopor tumbuhnya institusi keulamaan dalam Islam, sekaligus berarti pelopor kajian mendalam dan sistematis tentang agama Islam. Mereka juga sering disebut “moyang” golongan Sunni atau Ahl-al-Sunnah wa al Jama’ah.
Tahap penting berikutnya dalam proses perkembangan dan tradisi keilmuan Islam ialah masuknya unsur-unsur dari luar ke dalam Islam, khususnya unsur-unsur budaya Perso-Semitik dan budaya Hellenisme. Yang disebut belakangan mempunyai pengaruh besar terhadap pemikiran Islam ibarat pisau bermata dua. Satu sisi ia mendukung Jabariyah (antara lain Jahm Ibn Safwan), sedangkan di sisi lain ia mendukung Qadariyah (antara lain Washil Ibn Atha’, tokoh dan pendiri Mu’tazilah). Dari adanya pandangan yang dikotomis antara keduanya muncul usaha menengahi dengan menggunakan argumen-argumen Hellenisme, terutama filsafat Aristoteles. Sikap menengahi itu terutama dilakukan oleh abu Al-Hasan Al- Asy’ari, dan Al-Maturidi yang juga menggunakan unsur Hellennisme.
Berdasarkan uraian diatas, dapat ditari hipoteis sementara bahwa pada awal Islam pengaruh Hellenisme dan juga filsafat Yunani terhadap tradisi keilmuan Islam sudah sedemikian kental sehingga pada saat selanjutnta pengaruh itu pun terus mewarnai perkembangan ilmu pada masa-masa berikutnya.
3. Perkembangan Ilmu pada Masa Kejayaan Islam
Pada masa kejayaan kekuasaan Islam, khususnya pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah, ilmu berkembang maju dan pesat. Kemajuan ini membawa Islam pada masa keemasannya, dimana pada saat yang sama wilayah-wilayah yang jauh di luar kekuasaan Islam msih berada pada masa kegelapan peradaban (Dark Age).
Dalam sejarah Islam, kita mengenal nama-nama seperti Al-Mansur, dan Harun Al-Rasyid, yang memberikan perhatian yang teramat besar bagi perkembangan ilmu di dunia Islam. Pada pemerinyahan Al-Mansur, misalnya, proses penerjemahan filosof Yunani ke dalam bahasa Arab berjalan dengan pesat. Dikabarka bahwa Al-Mansur telah memerintahkan penerjemahan naska-naskah Yunani mengenai filsafat dan ilmu, dengan memberikan imbalan kepada para ahli bahasa (penerjemah). Pada masa harun Al-Rasyid proses penerjemahan itu juga masih terus berlangsung. Harun memerintahkan Yuhanna (Yahya) Ibn Masawayh, seorang dokter istana, untuk menerjemahkan buku-buku kuno mengenai kedokteran. Di masa itu juga diterjemahkan karya-karya dalam bidang astronomi, seperti Shiddanta; sebuah risalah India yang diterjemahkan oleh Muhammad Ibn Ibrahim Al-Fazari. Pada masa selanjutnya oleh Khawarizmi Shiddanta ini dibuat versi baru terjemahannya dan diberikan komentar-komentar. Selain itu juga ada Quardipartitus karya Purdemy, dan karya-karya bidang astrologi yang diterjemahkan oleh satu tim sarjana.
Selanjutnya pada masa kejayaan ini, terdapat juga tokoh filsafat yang bergelut secara serius dalam kajian-kajian di luar filsafat. Hal ini bias dipahami karena adanya kenyataan bahwa mereka menganggap ilmu-ilmu rasional sebagai bagian filsafat. Atas dasar inilah mereka memperlakukan persoalan-persoalan fisika sebagaiman mereka memperlakukan masalah-masalah yang bersifat metafisik. Salah satu bukti nyata adalah kitab Al-Siyfa’, sebuah ensiklopedia filsafat Arab yang terbesar yang terdiri dari empat bagian. Bagian I mengenai logika, bagian II mengenai fisika, bagian III tentang matematika, dan bagian IV membahas metafisika.
Selain adanya perkembangan ilmu yang dapat dikategorikan ke dalm bidang matematika, disika, kimia, geometri, dan yang sebagainya, sejarah juga mencatat kemajuan ilmu-ilmu keislaman, baik dalm bidang tafsir, hadis, fiqih, ushul fiqih, dan disiplin ilmu keislaman yang lain. Perkembangan ilmu tafsir dan ‘ulum Al-Qur’an belum menemukan bentuknya yang konkret sampai dengan Abad ke-3 H, khususnya dalam bidang ‘ulum Al-Qur’an pembahasnnya memperlihatkan dua bentuk. Pertama, pembahasan yang bersifat Juz’i, dan kedua bersifat Syamil. Bentuk yang pertama hanya membahas aspek tertentu dan tidak membahas aspek yang lain, sedangkan bentuk kedua membahas seluruh aspek dengan penulisan selengkap mungkin .
Masih berkaitan dengan era kejayaan keilmuan Islam, perlu juga disinggung sepintas transformasi ilmu dari dunia Islam ke Barat. Trjadinya transformasi kebudayaan dan khususnya ilmu dari dunia Islam ke Barat disebabka paling tidak dua alasan. Pertama, kontak pribadi,. Setelah penaklukan Arab atas Persia, Syiria, dan Mesir, orang-orang Kristen di Timur mengadakan kontak dengan orang-orang Islam. Mereka hidup bersama dan menikmati toleransi agama yang besar. Mereka juga mengikuti kegiatan intelektual kebudayaan kaum yang memiliki dokter-dokter, kimiawan, matematikus, dan para ahli astronomi yang membrikan sumbangan khusus dalam penerjemahan warisan Yunani ke dalam bahasa Arab.
Terjadinya kontak pribadi ini juga disebabkan karena Byzantium secara geografis berdekatan dengan Dunia Islam. Dari sinilah gagasan –gagasan Barat masuk ke Dunia Islam dan sebaliknya gagasan dari Dunia Islam masuk ke Barat, khususnya sesudah Perang Salib. Alasan kedua, adanya kegiatan penerjemahan. Tidak dapat dipungkiri kebudayaan Islamlah yang mendorong orang-orang latin melakukan penerjemahan. Setelah mengenal sebagian Khasanah kebudayaan islam kemudian mereka memperkaya pengetahuan tentangnya.
4. Masa Keruntuhan Tradisi Keilmuan dalam Islam
Abad ke-18 dalam sejarah Islam adalah yang paling menyedihkan bagi umat Islam dan memperoleh catatan buruk bagi peredaban Islam secara universal. Seperti yang diungkapkan Lothop Stodard, bahwa menjelang abad ke-18, dunia Islam akan merosot ke tingkat yang terendah. Islam tampaknya sudah mati, dan tertinggal hanyalah cangkangnya yang kering kerontang berupa ritual tanpa jiwa dan takhayul yang merendahkan martabat umatnya. Ia menyatakan seandainya Muhammad bias hidup kembali, dia pasti akan mengutuk pengikutnya sebagai kaum murtad dan musyrik.
Pernyataan Stodard diatas menggambarkan begitu dasyatnya proses jatuhnya peradaban dan tradisi keilmuan Islam yang kemudian menjadikan umat Islam sebagai bangsa yang dijajah oleh bangsa-bangsa Barat. Runtuhnya bangunan tradisi keilmuan secara garis besar dapat diterangkan sebagai berikut.
Dalam bukunya, The Recontruction of Religion Thought in Islam, iqbal menyatakan bahwa salah satu penyebab utama kematian semangat ilmiah di kalangan umat Islam adalah diterimanya paham Yunani mengenai realitas yang pada pokoknya bersifat statis, sementara jiwa Islam adalah dinamis dan berkembang. Ia selanjutnya mengungkapkan bahwa semua aliran Muslim bertemu dalam suatu teori Ibn Miskawaih mengenai kehidupan sebagai suatu gerak evolusi dan pandanga Ibn Khaldun mengenai sejarah.
Jika asumsi Iqbal di atas diterima, tetap apa yang dilukiskan oleh Amin Abdullah tentang kedinamisan ilmu ketika ia menyatakan menurut telaah filsafat ilmu, hampir semua jenis kegiatan ilmu, baik natural sciences maupun social sciences, bahkan religion sciences, selalu mengalami apa yang disebut dengan shifting paradigm (pergeseran gugusan pemikiran keilmuan). Kegiatan ilmu selamya bersifat historis, lantaran dibangun, dirancang dan dirumuskan oleh akal budi manusia yang bersifat historis. Yang dimaksud bersifat historis adalah terikat ruang dan waktu, terpengaruh oleh perkembangan pemikiran dan perkembangan kehiduan sosial yang mengitari penggal waktu tertentu.
Sebab lain yang menyebabkan kehancuran tradisis keilmuan Islam adalah persepsi yang keliru dalam memahami pemikiran Al-Ghazali. Orang umumnya mengecam Al-ghazali karena ia menolak filsafatseperti yang ia tuliskan dalam Tahafut al-sFalafasihnya. Padahal sebenarnya ia menawarkan sebuah metode ilmiah dan rasional, dan juga menekankan pentingnya pangamatan dan analisis, serta sikap skeptis. Hal ini misalnya ia tuangkan dalam karyanya berjudul al-Munqidz min al-Dlalal.
Fiqih merupakan ilmu pertama yang dikembangkan oleh Islam. Keempat sumbernya yang utama yaitu Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’, dan Qiyas, merupakan sumber hokum yang tetap. Namun kaena sikapnya yang tetap itulah kaum Muslimin harus menggunakan metode deduktif untuk sampai kepada keputusan mengenai masalah-masalah khusus, dan pada saat yang sama metode induktif kehilangan semangatnya. Di masa dekadensi, kegiatan intelektual sedang mencapai titiknya yang terendah, tidaklah mengherankan jika orang kemudian bersikap dogmatis dan taklid secara membuta.
Selain sebab-sebab di atas, kesulitan-kesulitan ijtihad dan mistisme asketik juga merupakan factor yang menyebabkan kemunduran tradisi intelektual dan keilmuan di Dunia Islam.
B. Kemajuan Ilmu Zaman Renaisans dan Modern
1. Masa Renaisans (Abad ke-15 hingga 16)
Ranaisans merupaka era sejarah yang penuh dengan kemajuan dan perubahan yang mengandung arti bagi perkembangan ilmu. Zaman yang menyaksikan dilancarkannya tantanga gerakan reformasi terhadap keesaan dan supremasi gereja Khatolik Roma, bersamaan denga berkembangnya Humanisme. Zaman ini merupakan penyempurnaan kesenian, keahlian dan ilmu yang diwujudkan dalam diri jenius serba bisa, Leonardo da Vinci. Penemuan percetakan (kira-kira 1440 M) dan ditemukan benua baru (1492 M) oleh Columbus memberika dorongan yang lebih keras untuk meraih kemajuan ilmu. Kelahiran kembali sastra Inggris, Perancis dan Spanyol diwakili Shakespeare, Spencer, Rabelais dan Rosard. Pada masa itu, seni music juga mengalami perkembangan. Adanya penemuan para ahli perbintangan seperti Copernicus dan Galileo menjadi dasar bagi munculnya astronomi modern yang merupakan titik balik dalam pemikiran ilmu dan filsafat.
Tidaklah mudah untuk membuat garis batas yang tegas antara zaman renaisans dan zaman modern. Sementara orang menganggap bahwa zaman modern hanyalah perluasan renaisans. Akan tetapi, pemikiran ilmiah itu membawa manusia lebih maju ke depan dengan kecepatan yang besar, berkat kemampuan-kemampuan yang dihasilkan oleh masa-masa sebelumnya. Manusia maju dengan langkah raksasa dari zaman uap ke zaman listrik, kemudian ke zaman atom, elektron, radio, televise, roket, dan zaman ruang angkasa.
Pada zaman renaisans ini manusia Barat mulai berpikir secara baru, dan secra berangsur-angsur melepaskan diridari otoritas kekuasaan gereja yang selama ini telah membelenggu kebebasan dalam mengemukakan kebenaran ilmu dan filsafat. Pemikir yang dapat dikemukakan dalam tulisan ini antara lain, Nicolas Copernicus (1473-1543 M) dan Francis bacon (1561-1626 M).
Copernicus adalah seorang tokoh gereja ortodoks, ia mengemukakan bahwa matahari berada di pusat jagad raya, dan bumi memiliki dua macam gerak, yaitu perputaran sehari-hari pada porosnya dan gerak tahunan mengelilingi matahari. Teorinya ini disebut Hellosentrisme, dimana matahari adalah pusat jagad raya, bukan bumi sebagaimana yang dikemukakan oleh Ptolomeus yng diperkuat gereja. Teori Ptolomeus ini disebut Geosentrisme, yang mempertahankan bumi sebagai pusat jagad raya.
Sekalipun Copernicus membuat model, namun alas an utamanya bukanlah sistemnya, melainkan keyakinannya bahwa prinsip Heliosentrisisme akan sangat memudahkan perhitungan. Copernicus sendiri tidak berniat untuk mengumumkan hasil temuaannya, terutama mengingat keadaan dan lingkunagn gereja pada waktu itu. Menurut gereja, prinsip Geosentrisme dinggap yang lebih benar daripada prinsip Heliosentrisisme. Tiap siang dan malam kita melihat semuanya mengelilingi bumi. Hal ini ditetapkan Tuhan, oleh agama, karena manusia merupakan pusat perhatian Tuhan, untuk manusialah semua ini diciptakan. Paham demikian disebut Homosentrisisme. Dengan kata lain, Geosentrisisme tidak dapat dipisahkan dari prinsip Heliosentrisisme. Jika dalam keadan demikian Heliosentrisisme dilontarkan, maka akan berakibat berubah dan rusaknya kehidupan manuusia saat itu.
Selain itu dalam perhitungan terbukti bahwa pergerakan benda angkasa tidak beraturan dan tidak sempurna. Pergerakannya mengikuti suatu ketentuan, yaitu bila matahari dihubungkan dengan sebuah planet oleh garis lurus dan planet ini bergerak X jam lamanya, maka luas bidang yang dilintasi garis lurus itu dalam waktu X jam selalu sama. Berdasarkan hukum ini, kalau planet berada paling dekat dengan matahari (perihelion) kecepatannya pun paling besar. Sebaliknya, jika planet berada paling jauh dari matahari (abhelion), maka kecepatannya paling kecil.
Hal ketiga yang ditemukan Keppler adalah perbandingan antara dua buah planet, misalnya A dan B. Bila waktu yang dibutuhkan untuk melintasi orbit oleh masing-masing planet adalah P dan Q, sedang jarak dari planet B ke matahari adalah X dan Y, maka P+: Q+ = X+: Y+. Dengan demikian Keppler menemukan tiga buah hukum astronomi, yaitu:
1. Orbit dari semua planet berbentuk elips
2. Dalam waktu yang sama, garis penghubung antara planet dan matahari selalu melintasi bidang yang luasnya sama.
3. Bila jarak rata-rata dua planet A dan B dengan matahari adalah X dan Y, sedangkan waktu untuk melintasi orbit masing-masing adalah P dan Q, maka P+ : Q+ = X+ : Y+.
Ketiga hukum Keppler itu ditemukan setelah dilakukan perhitungan selama kira-kira sepuluh tahun tanpa logaritma, karena pada waktu itu memang belum dikenal logaritma. Dari karya-karya Tycho dan Keppler tersebut dapat ditarik beberapa pelajaran. Pengumpulan bahan pengamatan yang teliti dan ketekunan yang terus-menerus menjadi landasan utama untuk perhitungan yang tepat memaksa disingkirkannya semua takhayul, misalnya tentang pergerakan sempurna atau pergerakan sirkuler. Bahan dan perhitungan yang teliti merupakan suatu jalan untuk menemukan hukum-hukum alam yang murni dan berlaku universal.
Ketiga hukum alam tentang planet ini sampai sekarang masih dipergunakan dalam astronomi, meskipun di sana-sini diadakan perbaikan seperlunya. Karya copernicus dan Keppler memberikan sumbangan yang besar bagi lapangan astronomi. Dalam tangan Copernicus, lapangan ini baru merupakan sebuah model untuk perhitungan. Dalam tangan Keppler, astronomi menjadi penentuan gerakan benda-benda angkasa dalam suatu lintasan yang tertutup. Akhirnya dalam tangan Newton, pergerakan ini diberi keterangan lengkap, baik mengenai ketepatan maupun bentuk elips-nya
Setelah Keppler, muncul Galileo (1546-1642) dengan penemuan lintas peluru, penemuan hukum pergerakan, dan penemuan tata bulan planet Jupiter. Penemuan tata bulan jupiter memperkokoh keyakinan Galileo bahwa tata surya bumi bersifat heliosentrik. Sebagai sarjana matematika dan fisika, galileo menerima prinsip tata surya yang heliosentris serta hukum-hukum yang ditemukan Keppler. Galileo dapat pula pula membuat sebuah teropong bintang. Dengan teropong itu ia dapat melihat beberapa peristiwa angkasa secara langsung. Yang terpenting dan terakhir ditemukannya adalah planet Jupiter yang dikelilingi oleh empat buah bulan.43
Galileo membagi sifat benda dalam dua golongan, yaitu Pertama, golongan yang langsung mempunyai hubungan dengan metode pemeriksaan fisik, artinya yang mempunyai sifat-sifat primer (primary qualities) seperti berat, panjang, dan lain-lainsifat yang dapat diukur. Kedua, golongan yang tidak mempunyai peranan dalam proses pemeriksaan ilmiah, disebut sifat-sifat sekunder (secondary qualities), seperti sifat warna, asam, manis, dan tergantung dari pancaindra manusia. Sejak galileo, ilmu pada umumnya tidak dapat memeriksa sifat kehidupan, karena sifatnya subjektif, tidak dapat diukur, dan tidak dapat ditemukan satuan dasarnya. Hal itulah yang membuat Galileo dianggap sebagai pelopor perkembangan ilmu dan penemu dasar ilmu modern, yang hanya berpegang pada soal-soal yang objektif saja.
Pada masa yang bersamaan dengan Keppler dan Galileo ditemukan logaritma oleh napier (1550-1617) berdasarkan basis e, yang kemudian diubah ke dalam dasar 10 oleh briggs(lahir tahun 1615) dan kemudian diperluas oleh Brochiel de Decker (lahir tahun 1626). Ketika Keppler mendengar tentang penemuan itu, ia memberikan reaksi bahwa jika ia dapat mempergunakan penemuan logaritma, perhitungan yang 11 tahun dapat dipersingkat sekurang-kurangnya menjadi satu bulan.
Pada masa Desarque (1593-1662) ditemukan Projective Geometry, yang berhubungan dengan cara melihat sesuatu, yaitu manusia A melihat benda P dari tempat T. Oleh karena “melihat” hanya mungkin jika ada cahaya, sedangkan cahaya memancar lurus, maka seolah-olah mata dihubungkan dengan benda oleh satu garis lurus. Sedang Fermat, juga mengembangkan Ortogonal Coordinate System, seperti halnya Descartes. Di samping itu, ia juga melaksanakan penelitian teori Al-jabar berkenaan dengan bilangan-bilangan dan soal-soal yang dalam tangan Newton dan Leibniz kemudian akan menjelma sebagai perhitungan diferensial-integral (calculus). Fermat bersama-sama Pascal menyusun dasar-dasar perhitungan statistik.
2. Zaman Modern (Abad 17-19 M)
Setelah galilio, fermat, pascal, dan keppler berhasil mengembangkan penemuan mereka dalam ilmu, maka pengetahuan yang terpencar-pencar itu jatuh ke tangan dua sarjana, yang dalam ilmu modern memgang peran yang sangat penting. Mereka adalah Isaac Newton (1643-1727) dan Leibniz (1646-1716). Di tangan dua orang sarjana inilah sejarah ilmu modern dimulai.
Newton, sekalipun ia menjadi pimpinan sebuah tempat pembuatan uang logam di kerajaan Inggris. Ia tetap menekuni dalam bidang ilmu. Lahirnya Teori Gravitasi, perhitungan calculus dan Optika merupakan karya besar Newton. Teori Gravitasi Newton dimulai ketika muncul persangkaan penyebab planet tidak mengikuti pergerakan lintas lurus, apakah matahari yang menarik bumi atau antara bumi dan matahari ada gaya saling tarik menarik.
Persangkaan tersebut kemudian dijadikan Newton sebagai titik tolak untuk spekulasi dan perhitungan-perhitungan. Namun hasil perhitungan itu tidak memuaskan Newton, semua persangkaan dan perhitungan lalu ditangguhkan. Baru kira-kira 16 tahun kemudian soal itu ditanganinya lagi setelah ia berhasil mengatasi beberapa hal yang ada pada awal penyelidikan belum disadarinya. Teori Gravitasi memberikan keterangan, mengapa planet tidak bergerak lurus, sekalipun kelihatannya tidak ada pengaruh yang memaksa planet harus mengikuti lintasa elips. Sebenarnya, pengaruhnya ada, tetapi tida dapat dilihat dengan mata dan pengaruh itu adalah Gravitasi, yaitu kekuatan yang selalu akan timbul jika ada dua benda yang saling berdekatan.
Berdasarkan teori Gravitasi dan perhitungan-perhitungan yang dilakukan Newton, dapat diterangkanlah dasar dari semua lintasa planet dan bulan, pengaruh pasang air samudra dan lain-lain peristiwa astronomi, justru dalam lapangan astronomilah, ketepatan teori Gravitasi makin meyakinkan, sehingga tidak ada lagi yang tidak percaya tentang adanya Gravitasi ini.
Perhitungan calculus atau yang disebut juga diferensial/integral oleh Newton di Inggris dan Leibniz di Jerman, terbukti sangat luas gunanya untuk menghitung bermacam-macam hubungan antara dua atau lebih banyak hal yang berubah, bersama dengan ketentuan yang teratur. Misalnya, kecepatan planet mengelilingi matahari yang berbeda-beda sepanjang lintasan, menemukan maxima dan minima dari suatu kurva, menemukan tambahan luas lingkaran bila radius berubah sedikit sekali, dan lain sebagainya. Setelah calculus ditemukan banyak sekali perhitungan dan pemeriksaan ilmiah dapat diselesaikan, sebelumnya tingga problematic saja. Tanpa calculus, ilmu matematika tidak dapat berkembang seperti sekarang ini.
Penemuan ketiga yang mendasari ilmu alam adalah pemeriksaan Newton mengenai cahaya dan lazim disebut optika. Dengan mempertimbangkan bahwa cahaya masuk melalui lensa sedangkan bagian perifer lensa mendekati bentuk prisma, sehingga cahaya perifer terbias menjadi pelangi yang disebut chromatic aberration, maka Newton membuat telescope tanpa lensa, ia menggunakan cermin cekung yang berdasarkan pemantulan cahaya sehingga tidak terjadi pembiasan.
Pada masa sesudah Newton, perkembangan ilmu selanjutnya adalah berupa ilmu kimia. Pada masa Newton, ilmu yang berkembang adalah metematika, fisika, dan astronomi. Pada periode selanjutnya ilmu kimia menjadi kajian yang amat menarik. Ilmu kimia tidak mulai dengan logika, aksioma, ataupun deduksi. Semua permulaan ilmu kimia praktis berdasarkan percobaan-percobaan yang hasilnya kemudian ditafsirkan. Pada permulaannya, semua percobaan bersifat kualitatif.
Joseph Black (1728-1799) dikenal sebagai pelopor dalam pmeriksaan kualitatif, ia menemukan gas CO2. Ia melakukan pemanasan terhadap kapur. Hawa yang keluar kemudian dialirkan melalui air kapur yang sudah disaring lebih dahulu. Pada waktu hawa yag keluar dari kapur mengalir, maka air kapur yang jernih menjadi keruh. Demikian pula Henri Cavendish (1731-1810) memeriasa gas yang terjadi jika serbuk besi disiram dengan asam dan menghasilkan hawa yang dapat dinyalakan. Sarjana lain, yaitu Joseph Prestley (1733-1804), menemukan Sembilan macam hawa No dan oksigen yang antara lain dapat dihasilkan oleh tanaman. Oksigen ini dapat ‘menyegarkan’ hawa yang tidak dapat lagi menunjang pembakaran. Antonine Laurent Lavoiser (1743-1794) jadilah sarjana yang meletakkan dasar ilmu kimia sebagaimana yang kita kenal sekarang.
Berdasarkan penemuan Black, Cavendish, Priestley, dan lain-lainnya, Lavoiser melaksanakan percobaan yang didasarkan pada “timbangan” bahan-bahan sebelum dan sesudahnya percobaan. Dengan demikian ia mulai menggunakan pengukuran dalam lapangan kimia; dengan kata lain, ia meninggalkan percobaan yang hanya bersikap komulatif dan berpindah ke lapangan yang bersifat kuantitatif.
Di samping perkembangan ilmu kimia, zaman yang sama ditemuan bermacam-macam mesin tanpa ada dasar ilmunya, melainkan atas dasar percobaan, misalnya mesin uap–, yang kemudian mendasari kereta api—, percobaan-percobaan listrik, dan lain-lainnya, penemuan-penemuan itu semuanya melandas Revolusi Industri (Industrial Revolution) terutama di Inggris, tetapi kemudian juga meluas di seluruh benua Eropa. Penemuan-penemuan empiris tentang kekuatan uap dan penemuan lainnya kemudian dijadikan percobaan-percobaan dalam laboratorium. Pemeriksaan itu akhirnya menghasilkan hukum-hukum dan rumus empiris, uang melandasi perkembangan teoritis selanjutnya.
Kalau penemuan ilmu kimia dan penemuan mesin-mesin pada awalnya tidak langsung mempunyai hubungan dengan teori ilmu sebagaimana dikembangkan oleh Galileo, Descartes, Keppler, Pascal, Newton, dan Leibniz, perkembangan ilmu setingkat lebih maju daripada apa yang telah dicapai oleh sarjana-sarjana yang telah disebut tadi.
Percobaan selanjutnya dilakukan oleh J. L. Proust (1754-1826) mengenai atom. Dalam menganalisis oxyda dari berbagai logam, J. L. Proust sampai pada pendapat bahwa perbandingan bahanbahan yang ikut serta dalam proses tersebut selalu tetap, demikian pula dengan sulfide dari logam. Demikian pula dengan John Dalton (1766-1844) yang mendapatkan ilham untuk menetapkan kesatuan (a unit), untuk mencari keterangan tentang perbandingan yang selalu tetap. Dalam hal ini yang dijadikan kesatuan adalah hydrogenium. Berdasarkan penemuan dan ketentuan ini, maka perbandingan berat hydrogenium lawan atom lain-lainnya disebut berat atom.
Sejak Dalton, teori tentang atom terus dapat dipergunakan dalam lapangan ilmu kimia, juga oleh Frederich Wohler (1800-1882) untuk menemukan sintesis urea dalam tahun 1828. Pada sekitar tahun 1895, Henri Becquerel (1852-1908), suami istri curie (1859-1906) dan J. J. Thompson (1897) menemuakn radium, logam yang dapat berubah menjadi logam lain, sedangkan Thompson menemuakn elektron. Dengan penemuan itu, runtuhlah pendapat dan aksioma yang menyatakan bahwa atom adalah bahan terkecil yang tidak dapat berubah dan yang bersifat kekal. Dengan penemuan ini, mulailah ilmu baru dalam kerangka kimia-fisika, yaitu fisika nuklir, yang pada zaman sekarang dapat mengubah bermacam-macam atom.
Secara singkat dapat ditarik sebuah sejarah ringkas ilmu-ilmu yang lahir saat itu. Perkembangan ilmu pada abad ke-18 telah melahirkan ilmu seperti taksonomi, ekonomi, kalkulus, dan statistika. Di abad ke-9 lahir semisal pharmakologi, geofisika, geormorphologi, palaentologi, arkeologi, dan sosiologi. Abad ke-20 mengenal ilmu teori informasi, logika matematika, makanika kuantum, fisika nuklir, kimia nuklir, radiobiology, eceanografi, antropologi budaya, psikologi, dan sebagainya.
Sekitar tahun 1900 sampai tahun 1914 terjadi berbagai perubahan berdasarkan teori kenisbian. Ada teori baru yang mengatakan bahwa ruang dan waktu tidak lagi berpisah sebagaimana dipahami oleh ahli fisika sebelumnya. Ruang dan waktu merupakan satu kesatuan mutlak untuk memeriksa dan menerangkan semua peristiwa.
Perlu diketahui pula bahwa pada zaman modern ini terjadi revolusi Industri di Inggris, sebagai akibat peralihan masayarakat agraris dan perdagangan abad pertengahan ke masyarakat industri modern dan perdagangan maju. Pada abad inilah James Watt menemuan mesin uap (abad ke-18), alat tenun dan Inggris menjadi penghasil tekstil terbesar, kemudian diikuti Amerika Serikat dan Jepang menjadi Negara industri.
Setelah abad ke-18 berakhir maka perkembangan ilmu modern selanjutnya yaitu pada abad ke-19. Pada abad ini penemuan yang dianggap sebagai penemuan abad tersebut adalah dengan ditemukannya planet Neptunus. Sedang pada abad XX, secara garis besar terjadi perkembangan yang sangat luas dalam beberapa bidang ilmu. Misalnya ilmu pasri, ilmu kimia, ilmu fisika, kimia organik, biokimia, ilmu astronomi, ilmu biologi, dan fisika nuklir. Di samping ilmu-ilmu yang permulaannya bersifat kualitatif, seperti ekonomi, psikologi, dan sosiologi. Perkembangan pesat dalam bidang astronomi pada abad XX ini seprti ditemukannya planet terakhir, yaitu Pluto (1930) setelah abad sebelumnya, yaitu abad XIX telah ditemukan planet Neptunus dengan didasari perhitungan yang menggunakan sistem Newton. Dalam abad XX ini, pengetahuan diperluas. Kalau dalam abad XIX tidak dapat diterangkan sumber energy matahari, sekarang dapat diketahui bahwa energi tersebut terjadi berdasarkan perubahan atom, yang zaman sekarang menjadi tenaga nuklir.
3. Ilmu yang Berbasis Rasionalisme dan Empirisme
Dengan bertambah majunya alam pikiran manusia dan makin berkembangnya cara-cara penyelidikan pada zaman modern ini, manusia dapat menjawab banyak pertanyaan tanpa mengarang mitos. Menurut A. Comte, dalam perkembangan manusia, sesudah tahap mitos, manusia berkembang dalam tahap filsafat. Pada tahap filsafat, rasio sudah terbentuk, tetapi belum ditemukan metode berpikir secara objektif. Rasio sudah mulai dioperasikan, tetapi kurang objektif. Berbeda dengan pada tahap teologi, pada tahap filsafat ini manusia mencoba mempergunakan rasionya untu memahami objek secara dangkal, tetapi objek belum dimasuki secara metodologis yang definitif.
Dalam Positivisme Auguste Comte, ia membedakan tiga tahap evolusi dalam pemikiran manusia. Teori tersebut terkenal dengan nama “Teori Tiga Tahap”. Berdasarkan teori ini, seluruh sejarah pemikiran manusia berevolusi dari tahap teologi (mistis) ke tahap falsafi, dan akhirnya pada tahap positivistis sebagai kemenangan pasti akal. Dalam tahap teologis, semua fenomena dijelaskan dengan menunuk kepada sebab-sebab supernatural dan intervensi sesuatu yang bersifat ilahi, dan segala problematika manusia dipecahkan dengan mengacu pada dunia Tuhan. Dalam tahap falsafi, pemikiran diarahkan menuju prinsip-prinsip danide-ide tertinggi. Dalam tahap ini “hakikat” segala sesuatu menjadi keterangan terakhir. Kemudian dalam tahap positivistis orang mengucapkan selamat tinggal untuk selama-lamanya pada dunia dewa-dewa dan hakikat-hakikat, dan membatasi penyelidikan ilmu pada “fakta”. Langkah terakhir ini menolak semua konstruksi-hipotesis di dalam filsafat dan membatasi diri pada observasi empirik dan hubungan fakta-fakta di bawah bimbingan metode-metode yang dipergunakan dalam ilmu-ilmu alam.
Berkat pengamatan yan sistematis dan kritis, lambat laun manusia berusaha mencari jawab secara rasional dengan meninggalkan cara yang rasional. Kaum rasionalis mengembangkan paham Rasionalisme. Dlaam menyusun pengetahuan, kaum rasionalis menggunakan penalaran deduktif. Penalaran deduktif adalah cara berpikir yang bertolak dari pernyataan yang bersifat umum untuk menarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif ini menggunakan pola berpikir yang disebut silogisme. Silogisme ini terdiri atas dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. Kedua pernyataan disebut premis mayor atau premis minor. Kesimpulan diperoleh dengan penalaran deduktif dari kedua premis itu.
Contoh:
Semua makhluk bernafas (premis mayor)
Si Budi adalah seorang makhluk (premis minor)
Jadi, si Budi juga bernafas (kesimpulan)
Pengetahuan yang diperoleh berdasarkan penalaran deduktif ternyata mempunyai kelemahan, maka muncullah pandangan lain yang berdasarkan pengalam konkret. Mereka yang mengembangkan pengetahuan berdasarkan pengalaman konkret ini disebut penganut empirisme. Paham empirisme menganggap bahwa pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang diperoleh langsung dari pengalaman konkret. Menurut paham empirisme ini, gejala itu bersifat konret dan dapat ditangkap dengan pancaindera manusia. Dengan pertolongan pancainderanya, manusia berhasil menghimpun sangat banyak pengetahuan.
Penganut empirisme menyusun pengetahuan dengan menggunakan penalaran induktif. Penalaran induktif ialah cara berpikir dengan menarik kesimpulan umum dari pengamatan atas gejala-gejala yang bersifat khusus. Misalnya pada pengamatan atas logam besi, aluminium, tembaga, dsan sebagainya, jika dipanasi ternyata menunjukkan bertambah panjang. Dari sini dapat disimpulkan secara umum bahwa logam jika dipanasi akan bertambah panjang.
4. Perkembangan Filsafat pada Zaman Modern
Pada zaman modern filsafat dari berbagai aliran muncul. Pada dasarnya corak keseluruhan filsafat modern itu mengambil warna pemikiran filsafat sufisme Yunani, sedikit pengecualian pada Kant. Paham-paham yang muncul dalam garis besarnya adalah rasionalisme, idealism, dan empirisme. Dan paham-paham yang merupaan pecahan dari aliran itu. Paham rasionalisme mengajarkan bahwa akl itulah alat terpenting dalam memperoleh dan menguji pengetahuan. Ada tiga tokoh penting pendukung rasionalisme ini, yaitu Descartes, Spinoza, dan Leibniz.
Sedangkan paham idealism mengajarkan bahwa hakikat fisi adalah jiwa, spirit. Ide nini merupakan ide Plato yang memberian jalan untuk mempelajari paham idealism zaman modern. Para pengikut aliran ini pada umumnya, sumber filsafatnya mengikuti filsafat kritisismenya Immanuel Kant. Fitche (1762-1831) yang dijuluki sebagai penganut idealism subjektif merupakan murid Kant. Sedang Scelling, filsafatnya dikenal dengan filsafat idealism objektif. Kedua idealism ini lalu disintesiskan dalam filsafat idealism mutlaknya Hegel (1770-1831).
Pada paham empirisme dinyatakan bahwa tidak ada sesuatu dalam pikiran kita selain didahului oleh pengalaman. Paham ini bertolak belakang dengan paham rasionalisme. Mereka menentang pendapat para penganut rasionalisme yang berdasarkan atas kepastian-kepastian yang bersifat a priori. Pelopor aliran ini adalah Francis Bacon, kemudian dikembangkan oleh Thomas Hobbes, John Lock, dah David Hume.
Sedangkan pada abad XX, aliran filsafat banyak sekali sehingga sulit digolongkan, karena makin eratnya kerja sama internasional. Namun sifat-sifat filsafat pada abad ini lawannya abad XIX, yaitu anti positivistis, tidak mau bersistem, realistis, menitikberatkan pada manusia, pluralistis, antroposentrisme, dan pembaentukan subjektivitas modern.
C. Kemajuan Ilmu Zaman Kontemporer
Perkembangan dan kemajuan peradaban manusia tida bisa dilepaskan dari peran ilmu. Bahkanperubahan pola hidup manusia dari waktu ke waktu sesungguhnya berjalan seiring dengan sejarah kemajuan dan perkembangan ilmu. Tahap-tahap perkembangan itu kita menyebut dalam konteks ini sebagai periodesasi sejarah perkembangan ilmu; sejak dari zaman klasik, zaman pertengahan, zaman modern, dan zaman kontemporer.
Kemajuan ilmu dan teknologi dari masa ke masa adalah ibarat mata rantai yang tidak terputus satu sama lain. Hal-hal baru yang ditemukan pada suatu masa menjadi unsur penting bagi penemuan-penemuan lainnya di masa berikutnya. Demikianlah semuanya saling terkait. Oleh karena itu, melihat sejarah perkembangan ilmu zaman kontemporer, tidak lain adalah mengamati pemanfaatan dan pengembangan lebih lanjut dari rentetean sejarah ilmu sebelumnya. Kondisi itulah yang kemudian mengalami percepatan atau bahkan radikalisasi yang tidak jarang berada di luar dugaan manusia itu sendiri.
Yang dimaksud dengan zaman kontemporer dalam konteks ini adalah era tahun-tahun terakhir yang kita jalani hingga saat sekarang ini. Hal yang membedakan pengamatan tentang ilmu di zaman modern dengan zaman kontemporer adalah bahwa zaman modern adalah era perkembangan ilmu yang berawal sejak sekitar abad ke-15, sedangkan zaman kontemporer memfokuskan sorotannya pada berbagai perkembangan terakhir yang terjadi hingga saat sekarang.
Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, sebagai kelanjutan mata rantai sejarah perkembangan ilmu, berbagai hal baru yang ditemukan dan dapat kita amati di era kontemporer, tidak terlepas dari berbagai penemuan dan dasar-dasar ilmu yang telah ada dan diciptakan oleh para penemu, pakar, atau filosof di masa-masa sebelumnya.
Sebagaimana ilmu di zaman modern mempunyai karakteristik khusus yang membedakannya dengan ilmu di zaman klasik dan zaman pertengahan, maka ilmu kontemporer pun demikian.
Akan kita lihat terlebih dahulu secara sederhana potret ilmu modern yang telah melahirkan hal-hal radikal yang membedaannya dengan ilmu di zaman pertengahan dan klasik. Zaman modern misalnya, dalam banyak hal melakukan dekonstruksi terhadap teori-teori yang dianggap established (mapan) pada masa pertengahan atau zaman klasik. Setidaknya dua contoh yang sangat menonjol bisa dikemukakan di sini. Pertama, pendapat yang dikemunkakan oleh Copernicus (1473-1543) tentang teori heliosentrisme, bahwa matahari adalah pusat tata surya dan planet-planet termasuk bumi berputar mengelilingi matahari. Teori ini jelas-jelas bertentangan dengan pendapat yang diterima secara umum manusia saat itu, yaitu geosentrisme yang menyatakan bahwa bumilah yang menjadi pusat tata surya.
Kedua, metode indutif yang diperkenalkan oleh Francis Bacon (1560-1626). Ia telah memberikan sumbangan yang penting dalam menembus metode berpikir deduktif yang penggunaannya secara berlebihan telah menyebabkan dunia keilmuan mengalami kemacetan. Francis bacon menekankan untuk mendasarkan semua pengetahuan dan ilmu atas dasar pengalaman. Ia menganjurkan agar para sarjana, dalam menyusun ilmu, mengumpulkan sebanyak mungkin fakta pengalaman (empirical brute facts) untuk selanjutnya dianalisis.
Membuat deskripsi atau eksposisi tentang perkembangan ilmu di zaman kontemporer berarti menggambarkan aplikasi ilmu dan teknologi dalam berbagai sektor kehidupan manusia. Iltulah salah satu karakteristik utama ilmu di zaman kontemporer yang dalam kerangka umumnya sekaligus menjadi persamaan sifat perkembangan ilmu zaman kontemporer. Hal ini tidak saja terjadi di lapanganilmu eksakta, tapi juga ilmu-ilmu social dan juga keagamaan. Para pencinta ilmu di bidang mereka masing-masing berusaha untuk menjadikan ilmu dan pengetahuan yang menjadi bidang mereka dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi manusia dan kemanusiaan.
Satu hal yang tak sulit untuk sepakati, bahwa hamper semua sisi kehidupan mausia modern telah disentuh oleh berbagai efek perkembangan ilmu dan teknologi. Sector ekonomi, politik, pertahanan dan keamanan, social dan budaya, komunikasi dan transportasi, pendidikan, seni, kesehatan, dan lain-lain, semuanya membutuhkan dan mendapat sentuhan teknologi.
Bila di zaman purba, manusia prasejarah tercatat mempunyai benih ilmu bidang astronomi, kemudian mulai mengenal tulisan dan hitungan yang mengawali zaman sejaarah, lalu zaman modern diidentikkan dengan masa Renaissance sebagai masa bangkitnya kembali Eropa dari kegelapan, maka zaman kontemporer sangat kental dengan inovasi-inovasi teknologi di berbagai bidang.
Satu hal lain yang menjadi karakter spesifik ilmu ontemporer, dan dalam konteks ini ciri tersebut akan lebih dapat kita temukan secara relatif lebih mudah pada bidang-bidang social yaitu bahwa ilmu kontemporer tidak segan-segan melakukan dekonstruksi dan peruntuhan terhadap teori-teori ilmu yang pernah ada untuk kemudian menyodorkan pandangan-pandangan baru dalam rekonstruksi ilmu yang mereka bangun. Dalam hal inilah, penyebutan wacana “postmodernisme” dalam bidang ilmu dan filsafat menjadi diskursus yang akan cukup banyak ditemukan.
Begitulah perkembangan ilmu di zaman kontemporer meliputi hampir seluruh bidang ilmu dan teknologi, ilmu-ilmu social seperti sosiologi, antropologi, psikologi, ekonomi, hukum dan politik, serta ilmu-ilmu eksakta seperti fisika, kimia, dan biologi, serta aplikasi-aplikasinya di bidang teknologi rekayasa genetika, informasi dan komunikasi, dan lain-lain.
Beberapa Contoh Perkembangan Ilmu Kontemporer
a. Santri, Priyayi, dan Abangan
Dalam kajian ilmu sosial keagamaan di Indonesia, penelitian Clifford Geertz yang dalam versi aslinya berjudul The Religion of Java merupakan satu bahasan yang menari. Penelitian serius Geertz tersebut kemudian lebih banyak dipopulerkan sebagai kerangka tipologisasi keberagaman masyarakat Jawa menjadi santri, abangan, dan priyayi. Untuk menyajikan abstraksi yang lebih otortitatif tentang pneleitian Geertz ini, penulis mengutik penggambaran Parsudi Suparlan dalam pengantarnya terhadap buku Clifford Geertz Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa yang merupakan edisi Indonesia dari buku aslinya The Religion of Java.
Arti penting karya Geertz The Religion of Java adalah sumbangannya kepada pengetahuan kita mengenai sistem-sistem simbol, yaitu bagaimanan hubungan antara struktur-struktur sosial yang ada dalam suatu masyarakat dengan pengorganisasian dan perwujudan simbol-simbol, dan bagaimana para anggota masyarakat mewujudkan adanya integrasi dan disintegrasi dengan cara mengorganisasi dan mewujudkan simbol-simbol tertentu, sehingga perbedaan-perbedaan yang tampak di antara struktur-struktur sosial yang ada dalam masyarakat tersebut hanyalah bersifat komplementer.
Tiga lingkungan yang berbeda (yaitu pedesaan, pasar, dan kantor pemerintahan) yang dibarengi dengan latar belakang sejarah kebudayaan yang berbeda (yang berkaitan dengan masuknya agama serta peradaban Hindu dan Islam di Jawa) telah mewujudkan adanya Abangan (yang menekankan pentingnya animistik), Santri (yang menekankan aspek-aspek Islam), Priyayi (yang menekankan aspek-aspek Hindu). Perwujudan citra agama masing-masing struktur sosial tersebut adalah pesta-pesta ritual yang berkaitang dengan usaha-usaha untuk menghalau berbagai makhluk halus jahat yang dianggap sebagai penyebab dari ketidakteraturan dan kesengsaraan dalam masyarakat, agar ekuilibrium dalam masyarakat dapat dicapai kembali (Abangan); penekanan pada tindakan-tindakan keagamaan dan upacara-upacara sebagaimana digariskan dalam Islam (Santri); dan suatu kompleks keagamaan yang menekankan pada pentingnya hakikat halus sebagai lawan dari kasar (kasar dianggap sebagai ciri-ciri utama Abangan), yang perwujudannya tampak dalam berbagai sistem simbol yang berkaitan dengan etiket, tari-tarian dan berbagai bentuk kesenian, bahasa, dan pakaian (Priyayi).
Abangan, Santri, dan Priyayi, yang walaupun masing-masing merupakan struktur-struktur sosial yang berlainan, tetapi masing-masing saling melengkapi satu sama lainnya dalam mewujudkan adanya sistem sosial Jawa yang berlau umum di Mojokuto. Inilah sesungguhnya tesis Geertz yang diusahakan untuk diperlihatkan dalam bukunya The Religion of Java, yaitu agama bukan hanya memainkan peranan bagi terwujudnya integarasi tetapi juga memainkan peranan pemecah-belah dalam masyarakat. Walaupun demikian, tampakanya yang lebih menjadi perhatian Geertz adalah masalah perpecahan dalam sistem sosial Jawa di Mojokuto dan bukannya integrasi yang terwujud di dalamnya, sebagaimana dikemukakan oleh Harsja W. Bachtiar dalam pembahasannya (1973). Hal ini mungkin adanya penekanan perhatian Geertz pada dimensi struktur sistem sosial.
Satu lagi, perlu juga kita lihat ulasan yang menjadi back cover buku Clifford Geertz edisi Indonesia tersebut. Pengarangnya memilih masyarakt kota kecil Mojokuto, Jawa Timur, sebagai objek penelitian dan pengkajian. Namun untuk kelengkapannya, pengarang juga membahas pandangan tiga golongan yang memiliki subtradisi masing-masing: abangan, yaitu golongan petani kecil, yang sedikit banyak memiliki persamaan dengan “religi rakyat” Asia Tenggara; Santri, yaitu pemeluk agama Islam yang taat pada umumnya terdiri dari pedagang di kota dan petani yang berkecukupan; dan Priyayi, yaitu golongan yang masih memiliki pandangan Hindu-Budha, yang kebanyakan terdiri dari golongan terpelajar, dolongan atas, penduduk kota, terutama golongan pegawai.
Penelitian Clifford Geertz hingga ini mendapat perhatian dari para ilmuwan. Berbagai penelitian dilakukan untuk menguji, membuktikan atau bahkan meruntuhkan tesis Geertz tentang kategorisasi keberagaman masyarakat Jawa itu. Beberapa yang bisa penulis sebutkan di sini misalnya seperti penelitian antropologis yang dilakukan oleh Bambang Pranowo (1994), Robert W. Hefner (1987), dan Mark Woodward (1984), yang membantah klaim Geertz. Para pakar ini menemukan bahwa masyarkat Jawa secara umum adalah santri, adapun “genre” abangan tidak signifikan.
Klaim tentang runtuhnya tesisi “santri-abangan”-nya Clifford Geertz juga dikemukakan oleh hasil penelitian PPIM UIN Jakarta. Penelitian tersebut dilakukan pada tahun 2001 dengan populasi yang luas (sekitar 85% populasi nasional) dan dengan sistem random sampling (metode pengambilan sample secara acak, tidak hanya sebuah kota kecil kecamatan atau sebuah desa) sehingga punya daya generalisasi dan klaim yang besar. Penelitian PPIM ini bahkan juga mencoba menunjukkan adanya suatu dialektika, di mana orang yang lebih intensif dalam menjalankan ritual wajib maupun sunnah dalam Islam berkolerasi positif dan signifikan dengan status sosial-ekonomi (gabungan antara pendidikan, jenis pekerjaan, pendapatan, dan kategori desa-kota). Korelasinya sekitar 15%. Sebaliknya, seorang muslim yang semakin intensif dalam melaksanakan ritual abangan semakin negatif korelasinya dengan status sosial-ekonomi (korelasinya sekitar 25%).
Penelitian Clifford Geertz yang kemudian mendapat banyak tantangan dari para pakar dan peneliti sesudahnya juga terjadi pada bidang-bidang ilmu lainnya. Masih untuk bidang sosial keagamaan, misalnya juga terjadi perdebatan panjang tentang statemen Samuel P. Huntington mengenai teori Clash of Civilization. Dan banyak tema-tema lainnya yang terus berkembang dan menjadi bukti bagi terus berkembangnya ilmu dari waktu ke waktu.
b. Teknologi Rekayasa Genetika
Salah satu bentuk perkembangan ilmu zaman kontemporer yang sangat masyhur adalah di bidang rekayasa genetika berupa teknologi kloning. Teknologi ini pertama sekali dilakukan oleh Dr. Gurdon dari Medical Research Council Laboratory of Molecular Biology, Universitas Cambridge, Inggris, tahun 1961. Gurdon berhasil memanipulasi telur-telur katak sehingga menjadi kecebong yang identik (kecebong kloning).
Tiga puluh dua tahun setelah itu, tahun 1993, Dr. Jerry Hail berhasi mengkloning embrio manusia dengan teknik pembelahan (embryo splitting technique). Hanya saja, semua kloning yang dihasilkan saat itu rusak. Empat tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 23 Februari 1997, Dr. Ian Wilmut dari Scotland’s Roslin Institute, berhasil melakukan kloning mamalia pertama dengan kelahiran domba yang diberi nama Dolly. Teknik yang digunakan Dr. Wilmu dikenal dengan alih inti sel somatic atau Somatic Cell Nuclear Transfer (SCNT), yaitu mengambail inti sel somatik dari domba jenis tertentu (sebut misalnya domba A) untuk kemudian diinjeksikan ke dalam sel telur domba jenis lainnya (misalnya domba B). Sebelum injeksi dilakukan, sel telur tersebut sudah diambil terlebih dahulu inti selnya (dikosongkan). Dengan suatu loncatan listrik, inti sel domaba A akan berkembang dan membelah. Dan pada akhirnya akan tumbuh menjadi individu baru.
Masih pada tahun 1997, lahir lembu kloning pertama yang diberi nama Gene. Tekni yang digunakan sedikit berbeda dengan pembuatan “Dolly”. Pembuatan Gene diawali dengan koleksi sel-sel janin yang sangat muda dari anak lembu. Sel-sel tersebut kemudian ditumbuhkan sedimikian rupa sampai siap dimasukkan ke dalam sel telur lembu betina.
Setahun kemudian, para peneliti di Universitas Hawai yang dipimpin oleh Dr. Teruhiko Wakayama berhasil melakukan kloning terhadap tikus hingga lebih dari lima generasi. Teknik yang digunakan kali ini juga berbeda dengan sebelumnya. Mereka menggunakan teknik micro injection dengan tingkat keberhasilan tiga persen. Peluang keberhasilan teknik kloning ini lebih besar dari teknik SCNT yang ditak sampai satu persen.
Di tahun 2000, Prof. Gerald Schatten dari Oregon Healtin Sciences University, Amerika, berhasil membuat kera kloning yang diberi nama Tetra. Teknik yang digunakan adalah pembagian embrio atau Embryo Splitting Technique (EST). Pada dasarnya EST adalah penyempurnaan dari teknik yang dipergunakan oleh Dr. Jerry Hall pda tahun 1993. Pada teknik ini, telur dari betina dan sperma dari jantan dipakai untuk membentuk telur yang terbuahi (fertilized egg). Setelah embrio tumbuh menjadi 8 sel, para peneliti membaginya menjadi 4 embrio yang identik, masing-masing terdiri dari 2 sel. Langkah selanjutnya, keempat emberio tersebut diimplikasikan ke dalam surrogete mother. Lalu, lahirlah kemudian kera kloning. Individu yang dihasilkan dari teknik ini 100 persen identik dengan sel sumbernya. Karena itulah para ahli menyebut teknik ini dengan artificial twinning atau kembar buatan.
Begitulah teknik rekayasa genetika berkembang dari waktu ke waktu. Dan setelah berbagai keberhasilan teknik kloning yang telah pernah dilakukan, para ahli malah lebih berencana menerapkan teknik kloning pada manusia. Dari ide inilah, wacana kloning menjadi sesuatu yang semakin controversial.
c. Teknologi Informasi
Pada tahun 1937, seorang insinyur Amerika bernama Howar Aiken merancang IBM Mark 7 yang merupakan nenek moyangnya komputer mainframe saat ini. Computer tersebut menggunakan tabung vakum dan elektro mekanikal dan bukan tombol-tombol elektronis.
Komputer elektronik pertama yang sukses secara komersial adalah UNIVAC. Komputer ini dirancang oleh Eckert dan Mauchly dan diperkenalkan pada tahun 1951. Selanjutnya, muncul komputer bertransistor dengan transistor-transistor yang kokoh menggantikan tabung-tabung vakum yang mudah rusak, dirancang oleh Seymour Cray untuk Control Data Corporation. Dan inilah awal dari kecenderungan untuk membuat computer yang lebih kecil dan lebih cepat.
Ide mengenai computer pribadi [(Personal Computer; (PC)] di setiap rumah muncul di lembah Santa Clara di sebelah selatan San Francisco, Califonia, sebuah daerah yang kemudian dikenal sebagai Lembah Silikon. Pada tahun 1977, Steve Jobs dan Steve Wozniak mendirikan perusahaan computer bernama Apple Computer Inc. Pada bulan April tahun 1977 itu, mereka memperkenalkan Apple II. Itulah komputer pribadi pertama di dunia.
Komputer telah mengubah wajah beradaban Barat modern secara drastic sejah tahun 80-an. Pada awalnya, komputer dikenal sebagai “otak elektronis” yang mampu melakukan bermacam-macam kegiatan dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Komputer merevolusi ilmu matematika melalui kemampuannya memperluas jangkauan otak penghitungannya, seperti mobil dan pesawat yang mampu memperjauh jarak yang ditempuh.
Demikianlah teknologi komputer terus berkembang dan melahirkan inovasi. Hampir tiap tahun perusahaan-perusahaan komputer internsional mengeluarkan model komputer terbaru mereka dengan berbagai fitur dan keistimewaan serta perbaikan-perbaikan terhadap generasi-generasi sebelumnya. Ukurannya pun dibuat semakin simple tapi menarik dan daya memorinya terus diperbesar.
Tren perkembangan komputer mutakhir cenderung menghendaki bentuk yang semakin mengecil. Dulu, komputer belum memiliki bentuk yang kompak dan ringkas. Komputer generasi awal bahkan membutuhkan ruangan yang besar dengan kaber-kabelnya yang berseliweran ke sana-sini. Lalu semakin lama bentuknya semakin kecil, meskipun kemampuannya tidak menjadi kecil ada PC (Personal Computer) dan lap top yang lebih kecil lagi. Dan terakhir, ada simputer, komputer jenis PDA (Personal Digital Assistans) yang bisa digenggam dengan ukuran layar hanya 3x2 inch dengan stylus (tongkat kecil seperti pensil) yang berfungsi sebagai mouse.
Komputer juga tidak saja menjadi alat pengolahan data tapi juga memasuki wilayah komunikasi interaktif dalam bentuk internet. Penggunaan internet berawal dari adanya kebutuhan militer di masa perang dingin sekitar tahun 1969, di mana Departemen Pertahanan Amerika Serikat membutuhkan sebuah jaringan yang menghubungkan semua komputer di daerah vital untuk mengantisipais kemungkinan adanya serangan nuklir.
Untuk itu, Departemen Pertahanan Amerika Serikat melalui DARPA (Defense Advanced Research Projects Agency), bekerja sama dengan beberapa universitas membentuk ARPANET (Advanced Research Projects Administration Net). Proyek ini awalnya hanya menghubungkan 3 komputer di California dan 1 di Utah. Namun pada perkembangan selanjutnya, banyak universitas di daerah tersebut ingin bergabung, sehingga diputuskan untuk mengklasifikasikannya menjadi dua bagian, yaitu sistem jaringan untuk militer dan nonmiliter. Gabungan keduanya disebut DARPA Internet yang akhirnya dikenal sebagai internet saja.
Begitulah internet pun terus dikembangkan hingga saatii dengan berbagi fasilitas yang terdapat di dalamnya seperti e-mail, chatting, download file dari berbagai situs, dan lain-lain.
d. Teori Partikel Elementer
Mengamati perkembangan ilmu di antaranya juga bisa dilakukan dengan melihat temuan-temuan para ilmuwan di berbagai bidang. Satu contoh misalnya tentang teori partikel elementer.
Selama laebih dari 2.500 tahun, manusia mencari misteri sifat materi. Salah satu bentuk penasaran itu disalurkan dengan mencari tahu partikel apakah yang paling kecil dari susunan materi. Pada abad kelima sebelum Masehi, Democritus—filosof Yunani—menemukan bahwa semua jenis materi dapat dipecah-pecah menjadi partikel kecil ini disebut atom. Atom adalah kata Yunani yang berarti tidak terbagi, atau tidak dapat dibagi.
Ilmu pun berkembang dan sejumlah percobaan dilakukan dan teori-teori baru bermunculan. Kemudian ditemukan bahwa atom bukanlah partikel terkecil. Di dalam atom terdapat sejmbalh partikel dasar/elementer yang tidak dapat dibagi lagi menajdi partikel yang lebih kecil yaitu elektron, proton, dan neutron. Lebih jauh, sekarang ditemukan kuark sebagai bagian dari proton dan neutron, sehingga saat ini yang disebut sebagai partikel elementer adalah kuark dan elektron.
Di samping kuark dan elektron, ada partikel lain seperti foton, beberapa jenis neutron yang digolongkan sebagai partikel elementer atau dikenal sebagai partikel sub-atomik. Partikel elementer ini disebut sebagai jantung fisika, karena partikel-partikel elementer inilah yang mengatur sifat fisika suatu benda, yang akan menentukan sifat fisika benda tersebut. Misalnya mengapa suatu benda ada yang dapat menghantarkan listrik dengan baik dan benda yang lain tidak. Ini tergantung dari gerakan partikel elementer (dalam hal ini elektron). Pada suatu konduktor, elektron dapat bebas bergerak sehingga konduktor dapat menjadi penghantar listrik yang baik. Sedangkan pada isolator, elektron terikat kuat, sehingga tidak dapat menghantar listrik dengan baik. Ini menjelaskan mengapa misalnya logam adalah penghantar listrik yang baik, sedangkan kayu tidak.
Setiap kali lahir teroi fisika atom, akan muncul serangkaian percobaan yang dikemudian hari bisa menghasilkan teori baru. Teori baru tersebut bisa jadi menentang teori yang lama—seperti yang terjadi setelah Democritus—, namun bisa juga bersifat menguatkan. Dalam sifat menguatkan inilah temuan Gerardus Hooft, peraih hadiah nobel fisika tahun 1999, bersama rekannya Martinus Veltman, professor fisikawan teoretis dengan spesialisasi di bidang partikel sub-atomik. Mereka menegaskan bahwa teori model standar bisa diterima untuk menjelaskan bahwa jagad raya tersusun atas kuark, lepton (yaitu elektron dan neutron), dan boson (foton).
Teori tentang partikel elementer bisa menjadi dasar bagi temuan-temuan baru yang spektakuler. Buan tidak mungkin, manusia bisa diubah partikel dasarnya, sehingga bisa dipindah tempatkan setiap saat tanpa kendaraan seperti digambarkan dalam Star Trek.
Kemajuan Sains dan Teknologi di Bidang-bidang Lain
Sebagaimana dikemukakan di atas, di zaman kontemporer ini, hampir seluruh aspek kehidupan manusia mendapat sentuhan efek kemajuan dan perkembangan ilmu dan teknologi. Bukan hanya dalam bentuk tenologi rekayasa generika, teknologi informasi dalam bentuk kecanggihan komputer dan internet, atau tentang teori partikel elementer, tapi juga dalam bidang-bidang lainnya.
Di bidang teknologi komunikasi jarak jauh, misalnya yang berawal dari telepon, terus berkembang cepat dengan munculnya alat-alat komunikasi personal mutakhir seperti handphone dengan berbagai inovasinya. Dalam bentuk yang mutakhir misalnya, HP yang bentuknya semakin simple, ringan, namun tetap luks, tidak saja mampu mengirimkan suara, tapi juga gambar sekaligus.
Begitu pula dengan teknologi penjelajahan ruang angkasa. Bila pada tahun 1961, Yuri Gagarin adalah manusia pertama yang diluncurkan ke luar angkasa oleh Uni Soviet dengan pesawat Vostok I-nya, yang kemudian disusul oleh Amerika pada tahun 1968, dan pada tahun 1969, tepatnya tanggal 20 Juli, Neil Armstrong menjadi manusia pertama yang mendarat di bulan, maka sekarang bulan sudah diproyeksikan untuk dikomersialisasikan. Peluncuran pesawat pembuka jalan menuju komersialisasi bulan direncakan akan dilakukan pada bulan Juni 2003 dari Baikonur Cosmodrome, Kazakhstan.
Ilmu dan penemuan-penemuan yang menjadi ciri utama perkembangan ilmu itu memang berkembang sangat cepat. Untu mendapatkan gambaran sepintas tentang betapa perkembangan ilmu itu berjalan cepat, dapat kita lihat misalnya tabel berikut.
Deskripsi percepatan waktu penemuan dan paten perdagangan
Hanya saja, perkembangan ilmu ternyata tidak berarti mutlak sebagai rahmat bagi kehidupan manusia. Tidak jarang, kemajuan ilmu dan teknologi yang terus berlangsung hingga saat ini, membaut banyak manusia khawatir atau bahkan takut terhadap dampak negatifnya dan banyak pula yang telah merasakan langsung akibatnya bagi kehidupan mereka, baik kehidupan materil, maupun spirituil
KESIMPULAN
Perkembangan ilmu akan mempengaruhi nili-nilai kehidupan manusia tergantung dari manusianya itu sendiri, karena ilmu dilakukan oleh manusia dan untuk kepentingan manusia dalam kebudayaannya. Kemajuan di bidang ilmu memerlukan kedewasaan manusia dalam arti yang sesungguhnya, karena tugas terpenting ilmu adalah menyediakan bantuan agar manusia dapat bersungguh-sungguh mencapai pengertian tentang martabat dirinya.
Ilmu dapat berkembang dengan pesat menunjukkan adanya proses yang tidak terpisahkan dalam perkembangannya dengan nilai-nilai hidup. Walaupun ada anggapan bahwa ilmu harus bebas nilai, yaitu dalam setiap kegiatan ilmiah selalu didasarkan pada hakikat ilmu itu sendiri. Anggapan itu menyatakan bahwa ilmu menolak campur tangan faktor eksternal yang tidak secara hakiki menentukan ilmu itu sendiri, yaitu ilmu harus bebas dari pengandaian, pengaruh campur tangan politis, ideologi, agama dan budaya, perlunya kebebasan usaha ilmiah agar otonomi ilmu terjamin, dan pertimbangan etis menghambat kemajuan ilmu.
Pada kenyataannya, ilmu bebas nilai dan harus menjadi nilai yang relevan, dan dalam aktifitasnya terpengaruh oleh kepentingan tertentu. Nilai-nilai hidup harus diimplikasikan oleh bagian-bagian praktis ilmu jika praktiknya mengandung tujuan yang rasional. Dapat dipahami bahwa mengingat di satu pihak objektifitas merupakan ciri mutlak ilmu, sedang dilain pihak subjek yang mengembangkan ilmu dihadapkan pada nilai-nilai yang ikut menentukan pemilihan atas masalah dan kesimpulan yang dibuatnya.
Pengalihan pengetahuan ilmiah dari filsafat Yunani ke dunia Islam, dan penyerapan serta pengintegrasian pengetahuan oleh umat Islam, merupakan sebuah catatan sejarah yang unik. Dalam sejarah peradaban manusia, amat jarang ditemukan suatu kebudayaan asing dapat diterima sedemikian rupa oleh kebudayaan lain, yang kemudian menjadikannya sebagai landasan bagi perkembangan intelektual dan pemahan filosofinya.
Pada awal Islam pengaruh Hellenisme dan juga filsafat Yunani terhadap tradisi keilmuan Islam sudah sedemikian kental sehingga pada saat selanjutnta pengaruh itu pun terus mewarnai perkembangan ilmu pada masa-masa berikutnya.
Pada masa kejayaan kekuasaan Islam, khususnya pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah, ilmu berkembang maju dan pesat. Kemajuan ini membawa Islam pada masa keemasannya, dimana pada saat yang sama wilayah-wilayah yang jauh di luar kekuasaan Islam msih berada pada masa kegelapan peradaban (Dark Age).